Beranda blog Halaman 1903

Hidup dan Bisnis ala Muhammad Assad

Alinda Rimaya

M Assad (Andrey Gromico/Geotimes)
M Assad/THE GEO TIMES/Andrey Gromico

 

Langkah kaki menuruni tangga itu terdengar jelas. Yang turun seorang pria yang langsung menghampiri dan meminta maaf. Dia mempersilahkan duduk. Dengan setelan kemeja batik, celana kain, dan sepatu fantofel, Muhammad Assad tampil sederhana.

“Oke, jadi bagaimana? Kita ingin berbincang tentang apa siang ini?” ujarnya yang langsung menodong pertanyaan kepada saya. Sontak saya kaget dan terdiam sejenak. Mungkin saya grogi karena berhadapan dengan pebisnis muda ini. Sosoknya yang tampan dan disertai dengan sikap yang begitu santun, langsung menyihir.

“Ini mas, kali ini kita akan berbincang mengenai dunia bisnis yang ditekuni mas Assad. Tentang kapan mas mulai berbisnis dan bagaimana pengalaman mas selama ini, ”ujar saya.

Muhammad Assad langsung menanggapi. Dia bercerita bagaimana dan kapan awal mula ia mulai berbisnis. Dia mengatakan awalnya dia berbisnis untuk menambah uang sakunya ketika masih berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Malaysia.

“Saya bisa ada diposisi saya sekarang tidak mudah. Dulu, saya mulai bisnis pertama kali jualan jaket kampus.  Saat itu umur saya baru 19 tahun. Di kampus, saya melihat ada potensi besar berjualan jaket kampus saat itu. Dengan modal minim, saya beranikan diri untuk impor jaket dari Indonesia dengan kualitas terbaik. Saya desain dan pasarkan. Walaup sempat sulit diawal, karena saya tekuni, jaket saya laku keras,” kata Assad.

“Sejak saat itu saya mulai berani untuk berbisnis hingga sekarang. Saya percaya dengan memulai bisnis sejak dini, akan memberi manfaat kita di masa depan nanti.”

Hal ini nampaknya terbukti. Kini, diusianya yang baru 28 tahun, Assad sudah menjadi direktur sebuah perusahaan swasta yang bergerak dalam pengelolaan dana investasi yakni PT Rayyan Global Investama. Tak hanya itu, anak perusahaannya yakni PT Rayyan Boga Nusantara juga mengelola satu kedai kopi, Signature Coffee, di beberapa lokasi di Jakarta.

“Tidak ada yang mustahil ketika kita mau berusaha keras. Semua hal pasti bisa kita wujudkan dan capai dengan kerja keras dan terus berdoa. Jangan pernah takut untuk berbisnis, mulailah sedini mungkin,” ujar Assad.

Muhammad Assad gemar memotivasi siapa saja untuk berbisnis sejak usia muda. Dia selalu meyakinkan bahwa bisnis itu tidaklah sulit dan selalu membutuhkan biaya yang besar. Bisnis dapat dilakukan dengan modal yang minim sekalipun.

Banyak orang yang tak menyadari bahwa apa yang ada di tubuh mereka seperti keahlian yang mereka miliki itu modal besar untuk mengawali berbisnis. Kita punya otak, mata, dan bagian tubuh lainnya yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang.

Sebagai contoh, kita punya keahlian fotografi. Bisa melihat momen dengan mata, dan menangkap momen tersebut dengan tangan kita lewat kamera. Kita bisa menghasilkan foto yang  bagus dan bernilai. Jadi jangan pernah beralasan tidak punya modal. Karena bisnis itu mengenai pola pikir.

M Assad (Andrey Gromico/Geotimes)
Bisnis itu tak selalu harus dimulai dengan modal yang besar kata M Assad/THE GEO TIMES/Andrey Gromico

“Bisnis itu tak selalu harus dimulai dengan modal yang besar. Kita juga bisa mulai dengan menjadi reseller suatu barang, atau berbisnis dengan hal-hal yang kita senangi. Modal itu bukan segalanya. Pola pikir nomor satu,” ujar Assad.

Dia percaya bila manusia mampu memanfaatkan otaknya untuk berpikir dengan baik, akan selalu ada cara menjadi sukses karena seluruh bagian tubuh manusia pasti bermanfaat asal bisa dimaksimalkan dengan baik. Dia juga percaya siapa saja bisa menjadi enteprenuer bila percaya akan hal itu.

Sebaik-baiknya manusia, adalah mereka yang mampu memberi manfaat pada orang lain. Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup, di mana dan kapan pun ia berada. Nilai-nilai ini yang selalu dipegang teguh oleh Muhammad Assad dalam segala aspek hidupnya, termasuk dalam berbisnis.

Sebagai seorang pebisnis tentu ada masa pasang surut. Situasi ini juga pernah dialami Muhammad Assad dalam menjalankan bisnisnya. Dia sempat rugi hampir Rp 3 miliar. Hal ini sempat membuatnya drop.

Saya bisnis tidak selalu baik. Dulu pernah waktu awal-awal bisnis ini (Rayyan Capital) berjalan, saya menelan kerugian hampir Rp 3 miliar. Saya hampir satu minggu mengurung diri di kamar. Syok dengan keadaan. Tapi kemudian saya sadar bila hanya berdiam diri, saya tidak akan mendapat solusi. Akhirnya saya bangkit dan menghadapi ujian tersebut. Saya melanjutkan bisnis saya,” ujar Assad.

Ia menambahkan bahwa dengan terus bergerak, tak berdiam diri ketika mengalami musibah seperti kerugian tersebut, kita akan mendapat solusi. Dengan terus maju, kita akan dapat menemukan banyak hal baru yang bisa menjadi solusi permasalahan. Karena ujian itu adalah pelajaran berharga untuk perbaikan diri di masa depan.

Selain kesuksesannya dalam hal bisnis, ada hal menarik dari Muhammad Assad. Bila diperhatikan, dia selalu mengajak atau mengikutsertakan anak muda dalam setiap kegiatannya. Ternyata hal ini ia lakukan karena ia percaya anak-anak muda di Indonesia memiliki potensi besar di masa depan.

“Saya selalu mengajak kawan-kawan usia muda seperti saya, karena saya yakin mereka punya potensi besar. Mereka itu pintar-pintar. Mereka hanya kurang inspirasi dan semangat saja,” ujar Assad.

Selain bisnis dan menulis, Muhammad Assad juga gemar sekali bermain basket dan travelling. Ini dia lakukan untuk menyeimbangkan hidupnya. Secara gagasan dan hidup, ayah dan ibunya menjadi sosok yang paling berpengaruh besar.

Muhammad Assad dikenal pertama kali lewat tulisannya pada buku berjudul “Notes From Qatar 1,2,3”.  Ketiga buku tersebut Buku ini bercerita tentang berbagai pengalamannya selama menekuni pendidikan di Turki. Ketiga buku ini menjadi salah satu buku dengan penjualan terbaik di Indonesia.

Selain Notes From Qatar, Muhammad Assad juga menulis buku berjudul “Sedekah Super Stories”, “Good Morning Qatar (komik)”, dan yang terbaru “99 Hijab Stories”

Kini, selain berbisnis dan menulis, Assad juga menjadi host acara di stasiun televisi TvOne yang berjudul Hijab Stories. Ia juga tengah mempersiapkan perjalanan umrah bersama bertajuk #NFQ Umrah ke Turki, yang akan dilaksanakan mulai 26 Desember hingga 6 Januari 2016 nanti.

Ada target yang ingin diwujudkan Muhammad Assad pada tahun ini. Dia ingin membangun 10 ribu rumah untuk orang-orang yang tidak mampu dan kelas menengah. [*]

Mengalah pada Korupsi

dom-1455780632Sejumlah aktivis berunjuk rasa menolak pelemahan terhadap KPK. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Kalah adalah kata yang pantang terucap dari bibir“ panglima pemberantasan korupsi”. Namun, tanpa ragu, sebelum perang dimulai, Pelaksana Tugas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Taufiequrachman Ruki sudah menyerah kalah terlebih dulu.

Sejak kata “kalah” itu terucap, peta yang mendeteksi musuh KPK tak saja berada di luar pagar hingga menyebar ke dalam gedung lembaga antikorupsi itu. Bukan tidak mungkin, upaya menghancurkan gerakan antikorupsi dilakukan di jantung pertahanan lembaga pemberantasan korupsi itu sendiri. KPK dirusak dari dalam!

Serangan melalui internal KPK tersebut bukan fakta baru. Selama KPK berdiri, kriminalisasi terhadap Novel Baswedan, Bibit – Chandra, dan Bambang Widjajanto-Abraham Samad, merupakan sejarah yang berulang.

Bahkan jauh sebelum KPK lahir, lembaga antikorupsi Indonesia di masa lalu juga dimatikan lewat metode yang kurang-lebih sama. Sejarah mencatat, lembaga antikorupsi seperti Panitia Retooling Aparatur Negara (Paran), Operasi Budhi, Komando Retooling Aparat Revolusi (Kontrar) pada masa Orde Lama, dan Tim Pemberantasan Korupsi di masa Orde Baru, telah dibubarkan melalui penyusupan orang-orang “kalah” tersebut.

Apakah KPK akan terpuruk pada “lubang sejarah yang sama” untuk kesekian kali?

Melawan korupsi di sebuah negara yang korup tentu bukan perjuangan mudah. Sebagai sebuah kejahatan berkelompok, korupsi telah menjangkiti seluruh sistem bernegara dan aparatusnya. Kelompok bisnis dan politikus korup yang berlindung pada aparat “haus uang” telah menjalankan “bisnis mengemplang” uang rakyat yang merusak seluruh sistem kehidupan bernegara.

Kondisi yang sama terjadi bahkan di negara-negara yang bersih dari korupsi, seperti Singapura, Australia, dan Hong Kong. Kejahatan korupsi adalah momok masa lalu. Perlawanan terhadap korupsi membuat negara-negara tersebut menjadi lebih baik dalam segala bidang. Selain kebijakan pemimpin yang antikorupsi, perlawanan juga dilakukan masyarakat secara luas.

Jika masyarakat tak berperan dalam memberantas korupsi, sama artinya membiarkan “akar pohon korupsi” menguat dengan kecepatan menyebar bagaikan cendawan. Maka, perlawanan terhadap korupsi tak boleh surut. Pengakuan kalah dari aparat penegak hukum bermasalah bukan akhir dari perlawanan terhadap korupsi.

Perang melawan korupsi oleh rakyat tetap akan terjadi. Namun, membentuk gerakan perlawanan rakyat yang berkualitas bukan perkara mudah.

Vinay Bhargava menuturkan pemberantasan korupsi memerlukan koalisi rakyat yang luas dari berbagai elemen masyarakat. Meski koalisi rakyat itu penting dalam pemberantasan korupsi, Bhargava meragukan koalisi tersebut dapat terorganisasi secara baik (Challenging Corruption in Asia; 2004).

Keraguan Bhargava itu menjadi nyata jika melihat perlawanan masyarakat Indonesia terhadap korupsi. Banyak elemen yang bergerak sendiri-sendiri tanpa pernah berpikir untuk melakukan konsolidasi efektif agar kekuataan sosial menjadi besar.

Agar konsolidasi masyarakat antikorupsi itu menguat, kehadiran sosok yang dihormati semua pihak diperlukan. Sosok itulah yang akan mempersatukan banyak elemen masyarakat untuk duduk bersama dan menyusun strategi perlawanan.

Perlawanan dari rakyat banyak tak diperlukan apabila Presiden bersikap tegas. Sebagai figur yang masih “hijau” dalam kemelut politik di negeri ini, Joko Widodo lemah “membaca” lawan atau kawan. Akibatnya, figur-figur yang terbuka menyerang KPK tetap dijadikan pimpinan sementara.

Jika Jokowi cermat menganalisis, kematian KPK dapat berujung pelumpuhan kewenangan Presiden. Bukankah musuh-musuh Istana adalah lembaga dan individu yang kerap menyerang Jokowi?

Jika bertekad menguatkan KPK, Jokowi memperkuat kedudukannya sebagai Presiden.

Maka, langkah Jokowi menempatkan figur-figur bermasalah di KPK harus diperbaiki. Langkah mudah yang dapat ditempuh adalah menarik kembali pimpinan sementara yang bermasalah. Jokowi dapat mencari nama baru dari tujuh nama calon pimpinan sementara yang pernah diusulkan KPK.

Pembenahan itu tak memerlukan produk hukum baru berupa peraturan pengganti perundang-undangan/instruksi presiden. Presiden cukup menerbitkan keputusan presiden yang menarik pimpinan sementara KPK bermasalah dan melantik yang baru. Kepres itu dapat diterbitkan kapan saja. Presiden harus bernyali dan tak mengalah pada korupsi!

 

Satu Banding Sembilan

gambutANTARA FOTO/Rony Muharrman/pd/16

Dua puluh tahun lalu Indonesia pernah punya ide meningkatkan cadangan pangan dalam skala raksasa. Ide itu sejuta hektare sawah di kawasan gambut Kalimantan Tengah. Masyarakat sekitar menyebutnya Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare. Sejarah mencatat proyek itu jadi bencana lingkungan, sosial, dan budaya yang memerlukan upaya besar memulihkannya.

Kini, proyek pertanian lain diajukan, dalam skala jauh lebih besar. Sembilan kali lipat. Bagaimana keduanya diperbandingkan? Pertama, jelas yang menonjol adalah luasannya. Sejuta versus sembilan juta hektare punya perbedaan sangat besar.

Proyek-proyek perkebunan kelapa sawit punya luasan ribuan hingga puluhan ribu hektare. Proyek hutan tanaman industri seluas puluhan hingga ratusan ribu hektare. Kita tahu betapa proyek pertanian dan kehutanan skala seperti itu saja punya kompleksitas tinggi.

Yang pasti, kita belum berhasil mengelola proyek sejuta hektare–apalagi sembilan juta hektare. Bukannya pasti gagal, tentu butuh perencanaan ekstra hati-hati jika tak mau mengulang sejarah bencana.

Kedua, proyek sejuta hektare itu berada di satu hamparan. Kita memang punya wilayah-wilayah sejuta hektare sawah, kebun, atau hutan bisa dibangun. Namun, jelas kita tak punya sembilan juta hektare yang bisa dibuat sehamparan.

Jika sehamparan, sumber daya bisa difokuskan untuk berada di satu lokasi, meski sangat besar. Jika proyek itu tak berada dalam hamparan yang sama, sumber daya dan fokus harus dipecah- pecah. Dan itu membutuhkan perencanaan lebih detail.

Ketiga, cita-cita membuat sawah sejuta hektare dulu itu ditempatkan di atas sebuah ekosistem: hutan gambut. Kini, sembilan juta hektare pasti tak mungkin ditempatkan di satu ekosistem. Ada beragam ekosistem yang terpengaruh. Konsekuensinya, analisis dan pengelolaan dampak lingkungan proyek ini akan jauh lebih membutuhkan pendekatan komprehensif.

Ketika sebuah ekosistem dibuka dan terkait dengan ekosistem lain, maka kaitan dampak di antara keduanya harus dihitung cermat. Jika ekosistem bersifat multipel, kompleksitasnya benar-benar harus diperhitungkan dengan masak.

Keempat, proyek sejuta hektare dulu memindahkan banyak sekali penduduk. Pertama, penduduk yang semula tinggal di atas lokasi proyek. Mereka lalu menjadi transmigran lokal. Selain itu, tentu saja penduduk dari wilayah lain yang diharapkan menjadi petani padi di wilayah yang baru dibuka itu.

Hal yang sama akan terjadi di proyek baru ini, dengan penduduk yang jauh lebih banyak. Dengan pertumbuhan alami penduduk saja, bisa diduga akan ada lebih banyak penduduk asli per satuan luas lahan proyek yang perlu diajak berunding sebelum menjadi transmigran lokal. Sementara itu, jumlah penduduk yang akan dipindahkan dari tempat lain akan jauh lebih banyak lagi.

Hitungan secara kasar, proyek ini akan berpengaruh terhadap 4,5 juta keluarga petani, yang secara langsung akan berkaitan dengan hajat hidup 20 juta orang. Sama sekali tak mudah untuk mengelola harapan orang-orang dalam jumlah sebesar itu.

Kelima, dulu pembuatan sawah sejuta hektare dipimpin Departemen Pekerjaan Umum, lantaran pemerintah melihatnya sebagai pekerjaan fisik pencetakan sawah. Kemudian diserahkan ke departemen teknis, yakni Departemen Pertanian, setelah sawah itu tercetak. Kini, kesadaran bahwa hal ini sama sekali bukan sekadar pekerjaan teknis sangat tampak.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, dan Badan Pertanahan Nasional tampak sangat menonjol di depan. Ini pertanda baik, namun juga membuat tantangan baru, yaitu tantangan koordinasi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merupakan kementerian baru, penggabungan dua kementerian, yang konon memiliki dua budaya organisasi amat berbeda.

Di situ kerumitannya sudah terjadi, apalagi menghitung hubungan dengan dua organisasi lain, dan pemangku kepentingan lain ketika proyek ini semakin dekat dengan eksekusi.

Seluruh perbandingan tersebut dibuat untuk menyatakan bahwa proyek ini hampir pasti gagal, karena kerumitan luar biasa yang menyertainya. Jika kita gagal membuat proyek pertanian seluas sejuta hektare 20 tahun lalu, bukannya tak ada harapan sekarang kita akan berhasil mewujudkan proyek yang sembilan kali lebih luas, dengan setidaknya lima perbandingan dan kompleksitas.

Jadi, proyek ini sama sekali tak akan mudah direncanakan dan dieksekusi. Butuh kehati-hatian luar biasa agar kita di masa depan tak sekadar melihat ke belakang dengan penyesalan mendalam. Kita punya pengetahuan dan keterampilan terkait dengan perlindungan (safeguard) lingkungan dan sosial, yang bisa menuntun dalam pekerjaan besar ini. Pengetahuan dan keterampilan itu harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Banyak pakar di Indonesia yang kompeten mewujudkan keberhasilan proyek ini. Syaratnya, kerja mereka tidak direcoki aspek politis.

Monita, Senandung Kehidupan Lewat Jazz

Photo by Nicky Gunawan
Photo by Nicky Gunawan

 

Melihat pertunjukkan Monita secara langsung saat pentas di Salihara beberapa pekan lalu, memutar kembali ingatan saya mengenai sosoknya.

Sepuluh tahun lalu, tepatnya 2005, Monita yang saat itu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, berada di panggung Indonesian Idol. Meskipun hanya mendapat peringkat keempat, tapi kemampuan menyanyi Monita selalu mendapat pujian para juri, termasuk Indra Lesmana, yang memproduseri album solo pertamanya.

Panggung Salihara yang sederhana, penonton yang tidak banyak, dan suara Monita yang lembut dan melankolis membuai siapapun yang hadir saat itu.

Dengan berbalut busana coklat model rok lipit dan aksen bordir bunga di belakang bajunya, Monita terlihat sangat menikmati pertunjukan. Seolah-olah hanya dia seorang yang ada saat itu. Dia begitu lepas dan menyatu dalam lantunan musik.

Ditemui di belakang panggung selepas pertunjukan, gadis kelahiran 21 Juli 1987 ini bercerita bahwa mengikuti ajang pencarian bakat adalah hal yang tidak akan dia tukar dengan apapun.

Meskipun banyak anggapan ajang tersebut hanya melahirkan penyanyi secara instan. Namun baginya ajang tersebut yang membuat dirinya lebih dewasa. “Banyak banget yang harus dilewati. Ajang tersebut adalah pintu bagi saya untuk menyadari talenta yang sudah diberikan Tuhan,” ungkapnya.

Bagi Monita, musik adalah hal yang serius. “Melalui musik kita dapat mengubah hidup seseorang,” ujarnya. Lewat musik dia mampu menemukan makna hidup melalui suara, nada dan lirik lagu.

Orang bisa bebas mengartikan makna lagu ciptaannya, itulah cara dia terhubung dengan penggemarnya bahkan dengan orang yang baru pertama kali mendengar musiknya.

Menjadi seorang penyanyi sebenarnya bukan pilihan Monita. Cita-cita awalnya adalah menjadi psikolog. Bahkan dia sudah diterima di Universitas Queensland Australia jurusan psikologi. Akan tetapi, Monita tidak mampu menolak permintaan mama dan kakaknya untuk mengikuti ajang Indonesian Idol.

Memang, menyanyi adalah bagian dari keluarganya yang berdarah Ambon. “Setiap saat, di rumah, kami selalu menyanyi. Bisa dibilang nyanyi itu hobi di keluarga kami.”

Selain itu, Monita juga bergabung di kelompok paduan suara Elfa Secioria. Bahkan pernah mengikuti olimpiade paduan suara di Busan, Korea Selatan.

“Jadi waktu itu mama dan kakak yang pengen banget aku ikutan Indonesian Idol. Mereka yang daftarin dan pas audisi mereka yang paling semangat,” ungkap Monita, sambil tersenyum mengenang masa-masa awal keikutsertaannya ke ajang pencarian bakat.

Dengan semangat, Monita menceritakan masa-masa awal mengikuti Indonesian Idol. “Saat itu sudah antri sejak jam 9 pagi. Dan antrinya itu panjang banget,”. Saat akhirnya harus bernyanyi di depan juri, lagu yang dinyanyikan adalah soundtrack kartun Mojacko. “Referensi lagu saya ya lagu soundtrack itu, karena waktu di Elfa’S Secioria, banyak nyanyi soundtrack film gitu,” ujarnya.

Monita mengaku bingung dengan selera para juri, karena menurutnya banyak yang suaranya lebih bagus namun tidak terpilih. “Mungkin ini rencana Tuhan untuk lebih menghargai talenta yang telah diberikan,” ungkapnya.

Kontes pun usai, tidak ada lagi panggung megah, juga penonton yang meneriakkan nama sang idola. Pun tidak ada lagi juri dengan kritik dan pujian.

Semua kontestan pulang kembali ke daerah masing-masing. Tapi kompetisi sebenarnya baru dimulai. Panggung hiburan tidak mudah untuk ditaklukkan. Itulah yang juga dirasakan Monita.

Pada 2008, Monita digandeng Indra Lesmana untuk bergabung dalam album kompilasi bertajuk Kembali Satu dan membawakan lagu Di batas Mimpi.

Monita Tahalea/ Raja Siregar
Monita Tahalea/ Raja Siregar

Dua tahun kemudian, pada 2010 Monita meluncurkan album perdana berjudul Dream, Hope & Faith yang diproduseri Indra. “Nah untuk album kedua, saya mengeksplor kemampuan saya, mulai dari nulis lagu, sampai jadi produser. Untuk produser saya tidak sendirian, tapi juga dibantu Gerald Situmorang. Saya benar-benar menikmatinya,” ujar Monita.

Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti ini mengatakan di tengah kesibukannya, pendidikan masih nomor satu. “Pernah saking sibuknya, saya cuti dari kampus. Dan saya tidak memberitahu orang tua. Sampai akhirnya mama curiga karena saya tidak pernah ke kampus.”

Namun, orang tuanya mengetahui perihal cuti akademik yang diambil Monita dan mengajaknya berbincang-bincang. “Waktu papa bilang, kalau saya gagal di bangku kuliah itu sama saja papa gagal jadi orang tua. Saat itu juga saya ngebut nyelesaiin kuliah,” jelasnya sambil tertawa.

Lulus tahun 2011, Monita mengatakan bahwa keahlian desain yang didapatnya selama bangku kuliah sangat berguna, “Saya bisa mengaplikasikan keahlian saya untuk desain album saya berikutnya,” ungkapnya bangga.

Berbincang tentang musik Jazz dengan Monita sama halnya mendiskusikan kehidupan. Sejarah panjang musik Jazz tidak terlepas dari sejarah perjalanan kehidupan orang-orang kulit hitam, yang berjuang lepas dari perbudakan. “Musik Jazz itu tentang kehidupan, merupakan ekspresi dan proses menceritakan sesuatu,” ungkap Monita.

Tidak heran, dalam setiap pertunjukkannya, Monita hanya ingin panggung yang bisa membuatnya dekat dengan pendengarnya. “Lewat musik dan lirik yang saya ciptakan, saya ingin bercerita dan pendengar bebas mengintepretasikan cerita saya.”

Saat disinggung mengenai ambisi terbesar dalam karir bermusik seorang Monita, dia hanya tertawa.

“Saya tidak punya ambisi apapun. Puji Tuhan, apa yang saya inginkan selalu tercapai. Saat ini saya hanya mensyukuri talenta yang telah diberikan Tuhan dan memanfaatkan sebaik-baiknya sampai akhirnya tidak bisa lagi bermusik,” ungkap Monita.

“Menyanyi adalah momen bersyukur saya pada Tuhan, maka saya ingin terus bersyukur atas talenta yang sudah diberikan,” ungkap Monita.

Hingga akhir perbincangan, yang hadir dihadapan saya bukan lagi Monita yang terlihat canggung di atas panggung 10 tahun lalu. Melainkan Monita yang bertransformasi menjadi gadis dewasa yang melihat hidup dengan bijak. [*]

Kisah Gadis Kretek dan Lelaki Harimau

 

Ratih Kumala dan Eka Kurniawan

“Maaf, agak telat. Saya kira perjalanannya tidak akan semacet ini,” kata Ratih Kumala memulai perbincangan.

Ratih Kumala dan Eka Kurniawan adalah dua penulis yang belakangan ini namanya makin terkenal di dunia sastra Indonesia. Selain sebagai penulis, keduanya adalah pasangan suami istri.

Keduanya telah melahirkan beberapa novel, selain sempat juga menerbitkan kumpulan cerita pendek. Kedua penulis muda ini bertutur  pada The Geo Times tentang kecintaan mereka pada sastra.

Sebagai pemantik pembicaraan, mereka mengawali cerita tentang ide untuk tulisannya. “Ide tulisan? Kami rasa kami tidak pernah bertabrakan dan gak pernah sama juga,” kata Ratih. Eka menimpali bahwa selama ini mereka jarang memiliki ide yang sama. “Selain itu kami hanya saling cerita tentang tema tapi tidak pernah saling membantu dalam proses membuat tulisan,” tutur Eka.

Eka, kelahiran Tasikmalaya 40 tahun lalu ini menceritakan bahwa untuk ide sampai saat ini jarang ada bentrokan karena ketika di rumah mereka mengurangi pembicaraan mengenai sastra. “Di rumah, kami jarang ngomongin sastra,” kata Eka. Ratih menambahkan bahwa jika berbicara sastra yang ada justru berantem.

“Kalau ngomongin sastra di rumah yang ada malah ribut. Lebih baik ngurus anak aja kalau di rumah,” tambah Ratih yang Juni tahun ini genap berusia 35 tahun.

Baik Ratih maupun Eka menyepakati bahwa tema tulisan mereka selama ini memiliki perbedaan. Ini yang menyebabkan keduanya tidak pernah bertabrakan mengenai ide.

Sebagai seorang penulis, keduanya memiliki tingkat produktifitas yang cukup tinggi. Ratih sampai saat ini telah menerbitkan empat novel dan satu kumpulan cerita pendek.

Sedangkan Eka, selain menerbitkan tiga novel dan tiga kumpulan cerita pendek dia juga pernah menerbitkan satu buku non fiksi.

Ditanya mengenai karya terbaiknya, Ratih merasa bahwa karya yang paling baru yang dia anggap paling baik. “Buku yang paling baru itu artinya kualitasnya lebih bagus karena kita pernah belajar dari kekurangan buku yang lama,” terangnya.

Senada dengan Ratih, Eka pun menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sama. Eka hanya menambahkan buku yang baru itu hadir sebagai perbaikan secara kualitas dari buku sebelumnya.

Beberapa karya Ratih antara lain Tabula Rasa yang terbit 2004, Genesis terbit 2004, Kronik Betawi terbit 2009, dan Gadis Kretek terbit 2012 serta kumpulan cerpen Larutan Senja terbit 2006. Diantara semua novelnya, Ratih selalu memunculkan sosok karakter perempuan kokoh.

“Sebenarnya tidak ada kesamaan di antara semua novel saya, hanya saja ada satu benang merah yakni perempuan tegar yang kuat,” ungkap Ratih. Mungkin terkesan Ratih penganut feminisme, tapi bagi Ratih itu hanya kebetulan.

Sama halnya dengan Ratih, novel karangan Eka tidak memiliki kesamaan secara cerita atau alur. Namun menurutnya jika pembaca lebih memahami karyanya akan ada satu benang merah. “Benang merah dari novel saya adalah semangat membalas dan trilogi dendam,” terang Eka.

Eka mengawali karya novelnya pada 2000 dengan terbitnya novel Cantik Itu Luka. Hingga akhirnya, dua tahun kemudian terbit novel Lelaki Harimau.

Butuh 10 tahun bagi Eka untuk menyelesaikan novel ketiganya Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang baru terbit 2014.

Lamanya rentang terbit dari novel kedua ke novel ketiga, bagi Eka disebabkan karena selama ini target yang dia pasang selalu kalah dengan skala prioritas yang dibuatnya sendiri. “Meski ada target untuk menyelesaikan karya dengan waktu yang cepat, saya kira tidak maksimal jika kualitasnya jelek,” ucap Eka.

Ratih, sang istri juga menilai bahwa Eka bukanlah sosok yang terburu-buru dengan karyanya. “Eka ini lebih sabar dengan karyanya. Saat menulis, Eka riset, baca, mengendapkan ide, baru menulis kembali,” terang Ratih. “Ini berbeda dengan saya yang selesai menulis langsung diterbitkan.”

Eka menambahkan bahwa selama menjadi penulis, baginya kualitas harus diutamakan daripada produktifitas. Alasannya pun sangat sederhana. “Di Indonesia, membuat novel tidak akan membuat penulis kaya raya,” kata Eka. Menurut Eka ini karena apresiasi terhadap karya sastra masih sangat kurang. Dia menyesalkan bahwa pemerintah belum memiliki perhatian terhadap karya sastra.

Seringnya novel yang diadaptasi untuk dijadikan film tidak serta-merta membuat kedua penulis ini berniat mengangkat karya-karyanya ke layar lebar. Kesibukan Ratih sebagai seorang editor naskah di salah satu stasiun televisi membuat dirinya mengetahui benar bagaimana proses pembuatan skenario.

“Tidak perlu setiap novel yang terkenal harus diangkat ke layar lebar,” kata Ratih. Dia menyesali bahwa seringkali ketika novel akan diangkat ke layar lebar akan ada banyak bagian dari novel yang dihilangkan. “Ini seperti buku tersebut dibedah, dicabik-cabik, dan hanya dipilih yang diperkirakan menarik bagi penonton. Ini tentu menyakitkan bagi penulis seperti saya,” katanya. Padahal proses kreatifitas selama penulisan novel itu tidak sebentar.

Begitu pula bagi Eka. Dia menganggap bahwa kesuksesan sebuah novel tidak bisa dipandang dari apakah sudah diangkat ke layar lebar atau belum. Baginya, daripada harus mengorbankan novel untuk diangkat ke layar lebar tapi tidak sesuai aslinya lebih baik tidak usah. “Atau kalau mau lebih baik saya membuat naskah untuk film dan jangan langsung dari novel,” ungkap Eka.

Eka menganggap bahwa kesuksesan novel bukan hanya dilihat dari apakah karya tersebut diangkat ke layar lebar atau telah mendapatkan penghargaan. “Kafka ataupun Borges tidak pernah mendapatkan hadiah nobel. Dan itu tidak menjelekkan karya mereka,” kata Eka mengandaikan permasalahan ini. Selama karya itu menyenangkan ketika dibaca, baginya itu adalah sebuah penghargaan yang luar biasa.

Untuk tahun ini, keduanya sedang menantikan karya terbaru mereka. Ratih Kumala, sesuai nama salah satunya novelnya si Gadis Kretek, akan menerbitkan kumpulan cerita pendek dengan judul Bastian dan Jamur Ajaib.

Begitu pula Eka Kurniawan, si Lelaki Harimau, akan menerbitkan kumpulan cerita pendek dengan judul Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.

Meski memiliki banyak kesibukan di luar dunia menulis, baik Eka ataupun Ratih berharap agar mereka masih mampu berkarya.

Di tengah kesibukannya sebagai pengurus Dewan Kesenian Jakarta, Eka mengharap agar mampu lebih banyak memikirkan ide untuk tulisannya. Meski selama ini dia juga mengakui banyak ide yang muncul namun banyak juga yang gugur. “Namun sampai saat ini saya berharap akan lebih banyak novel yang saya tulis,” kata Eka. [*]

Monika Si Pengendali Burung Baja

Menjadi seorang pilot bisa jadi merupakan pilihan karir yang luarbiasa. Apalagi bagi mereka yang menyukai penerbangan, keliling dunia dan tantangan. Tak hanya itu, menjadi pilot juga menjanjikan pendapatan yang fantastis.

Namun profesi ini tidak bisa dianggap remeh. Menjadi seorang pilot bukan hanya mampu menerbangkan pesawat saja, dibutuhkan tanggung jawab yang besar untuk mengantarkan ratusan nyawa selamat sampai tujuan.

Dulu, profesi pilot identik dengan kaum pria, seiring waktu kini pilot wanita sudah bukan hal aneh. Tak sedikit wanita di dunia memutuskan untuk melanglang buana ke angkasa dengan mengendalikan burung baja.

Jumlah pilot wanita yang bekerja pada penerbangan komersil di Indonesia masih bisa dihitung jari. Di tengah lingkungan profesi yang didominasi pria, mereka harus membuktikan keahlian lebih.

Siang itu, 23 Desember 2014, sekitar pukul 12.30 saya bersama rekan sekantor berencana menyambangi kantor penerbangan komersil Air Asia untuk bertemu dengan salah satu kapten di penerbangan tersebut. Letak kantor penerbangan asal Malaysia ini di belakang Bandara Soekarno Hatta.

Sepanjang jalan menuju bandara, terpantau lalu lintas dipadati mobil dan bus. Pemandangan ini sudah tidak asing bagi saya, karena saat itu menjelang akhir tahun, banyak warga Jakarta yang memutuskan untuk berlibur. Sekitar satu jam sudah kami menyelami kemacetan itu, kami tiba di kantor Air Asia.

Kami duduk di lobi sekitar 30 menit, kami melihat seorang wanita berseragam pilot, bertubuh langsing dan berambut pendek menghampiri kami. “Halo… Selamat siang, ini Mba Roro ya,” tutur wanita itu sambil tersenyum dan menyodorkan tangannya.

Dia adalah Monika Anggraeni. Monika satu-satunya pilot wanita yang bekerja di penerbangan komersil Air Asia.

Sekitar satu jam saya berbincang dengan Monika, kesan ramah, mudah bergaul dengan siapa saja, dan anggun tampak pada diri Monik, demikian dia disapa. Hanya sebentar kami sudah akrab berbincang. Tidak ada rasa canggung di antara kami.

 

Menjadi pilot adalah mimpi Monik yang terwujud/The Geo Times/Zahari

 

Ia bercerita jika sejak kecil sudah akrab dengan pesawat terbang. Bukan hanya karena rumahnya berada di kompleks Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, tapi juga karena sang ayah, almarhum Bambang Wiratmo, adalah kolonel Angkatan Udara di bidang teknik.

“Sejak kecil saya sering diajak ayah melihat pesawat, terus diajak masuk ke dalam pesawat sambil dijelasin tetang pesawat,” tutur Monik.

Monik mengaku, tertarik memilih profesi sebagai pilot karena terinspirasi sang ayah. Pasalnya, sejak Monik mulai masuk Sekolah Menengah Atas wanita yang sudah memperoleh gelar kapten ini diberi gambaran oleh sang ayah bagaimana pekerjaan seorang pilot dan menjadi pilot yang baik.

“Sebenarnya cita-cita saya jadi sarjana teknik arsitektur. Ayah saya tetap mendukung. Tapi, karena saya ingin mewujudkan cita-cita ayah yang ingin menjadi pilot dulu, jadi saya berpikir untuk mewujudkan cita-cita ayah yang kini menjadi tujuan hidup saya,” jelasnya.

Selepas lulus Sekolah Menengah Pertama, Monik tak langsung mewujudkan cita-citanya menjadi seorang pilot. Dia justru mendaftarkan diri ke Teknik Sipil Universitas Trisakti. Namun, hanya satu semester, keinginan menjadi pilot kembali menggodanya.

“Waktu saya kuliah saya tiba-tiba ingin menjadi pilot. Akhirnya saya tes di Juanda Flying School Surabaya dan ternyata lulus. Karena lulus jadi kuliah saya tinggalkan,” jelasnya.

Setelah dua tahun menempuh studinya di sekolah penerbangan tersebut, Monik meneruskan sekolahnya di Avindo Angkasa yang berada di areal Halim Perdanakusuma.

Sekolah penerbangan itu dilaluinya dengan mudah. Setalah mengantongi Private Pilot License, Monik juga lulus prasyarat untuk menerbangkan pesawat komersiil berpenumpang, yakni pesawat multiengine (untuk menerbangkan pesawat bermesin ganda), dan instrument rating.

Namun, tantangan sekolah dan dunia kerja ternyata ibarat bumi dan langit. Dengan berbagai lisensi dan ijazah penerbang itu, Monik pun melamar ke berbagai maskapai penerbangan nasional. Namun, tidak ada satu pun maskapai yang memanggilnya.

“Saya sudah melamar ke berbagai tempat, tapi ternyata enggak ada yang memanggil. Saya mikir saat itu, kenapa maskapai tidak ada yang memanggil saya? Saya hampir putus asa. Saya sempat berpikir, pilot ini jalan saya atau bukan? Tapi saya terus mencoba. Karena kita yang menentukan jalan hidup sendiri,” kenangnya.

Setelah dua tahun menganggur, Monik kemudian memutuskan untuk kuliah lagi di Universitas Trisakti. Kali ini wanita kelahiran Jakarta itu masuk jurusan akuntansi.

Setahun setelah dirinya memperoleh gelar sarjana akuntansi, dia menjadi tenaga keuangan di salah satu perusahaan jual-beli mobil. Setelah itu, dia juga pernah bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan penyewaan pesawat carteran.

Booming maskapai pernebangan swasta di tanah air membuat impiannya menjadi pilot terbuka kembali. Sebab, dengan banyaknya maskapai baru yang tumbuh, kebutuhan akan pilot juga ikut naik pesat.

Awal karirnya menjadi pilot dimulai saat ia melamar di penerbangan Star Air pada 2004. Saat itu lamarannya menjadi pilot diterima dan Monik menjadi kopilot. Monik sangat bersyukur, hampir delapan tahun lisensi penerbangan yang dimilikinya hanya menjadi pajangan di kamarnya. Akhirnya lisensi tersebut berguna kala itu.

Kini 10 tahun sudah Monik menjadi pilot dengan pengalaman 8700 jam terbang.

Maskapai yang berpusat di Malaysia tersebut benar-benar memberikan kesempatan bagi Monik untuk meningkatkan kemampuannya. Setelah digembleng kembali di pusat pelatihan Air Asia di Sepang, Malaysia, Monik juga dipercaya untuk menjadi kopilot untuk rute regional Bangkok, Malaysia, Kinabalu, dan Kuching.

Dengan Jadwal empat hari kerja dan dua hari istirahat, Monik mengaku tetap dekat dengan keluarga. Dalam seminggu, Monik mengaku bisa terbang tiga kali.

“Untungnya saya masih punya waktu bersama keluarga. Gimana pun caranya, saya harus menyediakan waktu dengan keluarga. Dan untungnya keluarga mengerti pekerjaan saya,” tuturnya sambil tertawa.

Menjadi seorang pilot memiliki resiko yang sangat besar. Namun menurut Monik, semua itu diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan. ”Saya sebagai manusia hanya bisa berusaha sekuat tenaga dan kemampuan saya, tetapi takdir di tangan sang empunya hidup."

Sebagai pilot, berbagai situasi yang tidak mengenakkan pernah dialami Monik. Misalnya, pengalaman pendaratan darurat setidaknya dua kali. Tetapi hal ini tidak membuatnya takut untuk menerbangkan pesawat. Justru pengalaman itudijadikannya sebagai pelajaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Meski Monik sudah mewujudkan cita-cita sang ayah menjadi pilot, namun hingga kini dia masih memiliki obsesi yang belum tercapai.

“Kalau menjadi pilot kan engga bisa selamanya, atau memiliki batas umur. Saya ingin sekolah S2 lagi yang berhubungan dengan menejemen penerbangan lah pokoknya. Biar jadi pengaja
r. Alhasil saya bisa berbagi ilmu dengan yang lain,” katanya di akhir perbincangan. [*]

Dua Wajah Modernitas

Dokumen pribadi

Oleh: Airlangga Pribadi*

Pembunuhan di kantor majalah Charlie Hebdo, Paris, adalah peristiwa mengerikan. Tak ada argumen waras yang bisa membenarkan tindakan itu! Seluruh dunia, termasuk kalangan pemuka umat Islam yang beradab, sepakat mengutuk serangan tersebut.

Problem baru muncul. Sebagian besar kaum liberal, yang mengisolasi tragedi kemanusiaan ini, menilai kasus ini semata sebagai problem internal peradaban Islam. Dalam pandangan kaum liberal, problem kekerasan terhubung dengan masalah kebudayaan, ketika sebagian umat Islam tak terserap dalam disiplin kemodernan yang berpusat di Barat yang dengan tulang punggung sekularisme, kebebasan berekspresi, dan demokrasi liberal.

Saya memahami masalah global yang secara simptomatik meletup dalam kasus Charlie Hebdo sebagai bagian dari persoalan modernitas. Tatanan kemodernan yang dalam proses kesatuan dialektikanya digerakkan oleh kontradiksi antara kekuatan modernitas imperial dan modernitas progresif (membebaskan).

Akar genealogis dari culture talk dalam peradaban Islam bermula dari produksi pengetahuan sejarawan Islam orientalis asal Universitas Princeton, Bernard Lewis (1990), dalam The Roots of Islam Rage. Lewis menyatakan keterasingan masyarakat muslim atas teori dan praktik kebebasan Barat dan sekularisme adalah persoalan serius yang mengancam peradaban Barat liberal.

Menurut Lewis, tendensi yang mengancam dari fanatisisme Islam itu harus dilawan dengan memberikan dukungan pada kaum muslim yang budiman. Muslim yang telah terserap dengan nilai-nilai peradaban adiluhung modern.

Dalam politik global, kekuasaan imperial berpijak pada tesis Lewis terkait oposisi biner. Pandangan ini dimanfaatkan baik George Bush maupun Tony Blair. Keduanya menggunakan agitasi oposisi biner muslim yang baik dan yang buruk sebagai dalih pembenar invasi atas Irak dan Afghanistan, tekanan atas Palestina, dan dukungan atas rezim opresif di Pakistan (Mamdani 2004).

Argumen culture talk yang membuat batas demarkasi antara muslim yang baik (liberal) dan muslim yang buruk (fundamentalis) adalah keliru. Dengan menyatakan persoalan utama terletak di internal peradaban Islam antara kaum fanatik terbelakang dan kaum liberal modern, mereka menganggap modernitas adalah sesuatu yang berjarak dengan kiblat-kiblatnya di New York, Paris, dan London.

Mereka abai melihat bahwa gejolak-gejolak sosial di masyarakat muslim dan dunia lebih luas, hasil dari artikulasi pengalaman material yang inheren dalam modernitas. Modernitas yang dalam arus utamanya menampilkan karakter imperial.

Kita perlu mendaras karya klasik Hannah Arendt (1975), The Origins of Imperialism: Part Two Imperialism, bahwa kehendak akumulasi hak milik yang lebih besar membutuhkan proses akumulasi dan ekspansi kekuasaan lebih luas. Kerja kapitalisme sebagai urat nadi modernitas imperial merengkuh keuntungan dan memperluas kekuasaan dengan mekanisme penaklukan dan persuasi, koersi dan ideologi yang terus bekerja.

Sejarah Prancis adalah contoh gamblang dari penggambaran tersebut. Kouachi bersaudara yang diduga bertanggung jawab atas pembunuhan di Charlie Hebdo adalah imigran asal Aljazair, negeri bekas jajahan Prancis yang melewati hubungan traumatik dalam proses pendudukannya.

Hubungan-hubungan traumatik itu tak berhenti setelah kolonialisme usai. Luka sejarah berlanjut dalam gesekan sosial di Aljazair; pemerintah Prancis mendukung diktator militer yang merepresi warganya (sebagian besar muslim) dan merampok miliaran dolar kekayaan negaranya untuk disimpan di bank-bank Eropa (Robert Fisk; 2015).

Dalam proses penindasan yang tak pernah usai itu, sebagian warga Aljazair berimigrasi ke Prancis. Mereka bertarung memenuhi bekal hidup dan mendapati bahwa kebijakan sosial dari negara tujuan tak ramah secara kultural. Mereka acap teragitasi oleh penghinaan secara satire terhadap keyakinan mereka oleh media. Penghinaan demi sensasi publisitas dan persepsi dominan yang merendahkan kaum imigran dengan segenap identitasnya.

Pertautan problem struktural, opresi, dan kultural ini acap memicu benturan dalam momen-momen yang terhubung dengan krisis sosial ekonomi. Sebelum tragedi Charlie Hebdo, kita menyaksikan pembunuhan antara dua imigran (Mouhsin dan Larimi) yang memecah api dalam sekam pergesekan sosial di antara penduduk (November 2007).

Namun, pembacaan atas konteks sosial bukanlah dalih mendukung teror. Dalam pemahaman atas kemodernan sebagai pengalaman inheren yang menghubungkan kita sebagai warga dunia, modernitas juga punya tradisi progresif. Tradisi yang melahirkan semangat demokrasi dan kesetaraan: Revolusi 1848 (Prancis), Revolusi 1783 (Amerika Serikat), dan meluas pada revolusi kemerdekaan warga terjajah Asia-Afrika.

Semangat kemodernan progresiflah yang mempertemukan filsuf Prancis Jean Paul Sartre dan Frantz Fanon dalam seruan kemerdekaan Aljazair. Juga wajah modernitas progresif yang melampaui batasan picik muslim liberal yang tunduk terhadap narasi imperium ataupun muslim fanatis terartikulasi oleh Soekarno. Dia memperjuangkan kesetaraan warga dunia melalui Konferensi Asia-Afrika, cikal bakal World Social Forum.

*Pengajar FISIP Universitas Airlangga, kandidat PhD Asia Research Center Murdoch University

Misi Rodhial Huda di Natuna

Pria itu memakai kemeja biru. Berpadu dengan celana jeans hitam serta tas ransel di bahu sebelah kanan. Dia berdiri di pinggir jalan Prof. Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta. Dia menunggu saya. Kami sudah sepakat bertemu siang ini.

Namanya Rodhial Huda atau dikenal orang dengan panggilan Wak Yal di tanah kelahirannya Pulau Natuna, Riau, tempat dia tumbuh dibesarkan, bermain dan sekolah. Pria dengan perawakan tinggi besar, bersih dan putih seperti seorang aktor karate ini adalah seorang nelayan. Tak ada yang percaya jika dia seorang nelayan. Sebab persepsi yang selama ini melekat pada nelayan Indonesia adalah miskin, hitam, jelek, dan bodoh.

Bahkan seorang profesor, pengajar di Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana juga tak percaya saat Rodhial menyebutkan pekerjaannya sebagai nelayan.

“Anda seorang nelayan? Masa?” kata Rodhial menirukan ucapan Hikmahanto. Saat diundang dalam salah satu talk show di media nasional, Rodhial disebut sebagai Tokoh Natuna. Padahal ia sudah memberitahu pekerjaannya sebagai nelayan.

“Selama kita masih memiliki persepsi negatif, apapun program pemerintah kepada nelayan tak akan berhasil,” ungkap bapak tiga anak ini. “Tapi ketika nelayan sudah dianggap seperti dokter dan insinyur maka bukan tak mungkin Indonesia akan sejahtera.”

Saat diundang pertama kali sebagai pembicara tentang maritim di Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Semarang dan Universitas Dipenogoro, banyak mahasiswa yang bertanya tentang latar belakang pendidikannya.

“S2 di mana Pak? Lalu Rodhial menjawab, Jangankan S2, S1 saja tak pernah. Masa hanya orang yang sekolah saja yang pintar? Apa orang yang tak bersekolah tak boleh pintar?”

Pertanyaan itu sering dilontarkan ketika Rodhial selesai menjadi pembicara. Orang seakan tak percaya dia seorang nelayan. Pasalnya cara dia bicara seperti seorang doktor yang menguasai Hukum Laut Nasional dan Hukum Laut Internasional.

“Kalau ngomong masalah laut, tak tahu kenapa mulut ini lancar aja bicaranya. Mungkin di sinilah jalan hidup saya.”

Menurut Rodhial sekolah membuat orang bodoh. Sebab Tuhan memberi anugerah kepada kita untuk belajar agar mengetahui segala hal tapi di sekolah hanya tahu satu hal saja. ” Sekolah tidak terlalu penting yang penting belajar. Dan belajar tak mesti di sekolah.”

Hal itu pernah diungkapkan Sarwono Kusumaatmadja bekas Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Deklrasi Djuanda pada 14 Desember 2014. “Ada orang yang disekolahkan bukan tambah pintar tapi bikin orang bodoh. Dan Rodhial adalah salah satu orang yang tak perlu sekolah tapi menguasai maritim,” kata Sarwono kala itu.

Rodhial mengatakan kalau pengetahuan tentang maritim ini didapat dari rumahnya di Natuna. Rumah tersebut terbuat dari kayu dan memiliki perpustakaan. Itulah jendela ilmunya. “Saya belajar dari buku dan belasan tahun praktik di lapangan. Jadi wajar saya mengetahui permasalahan maritim terutama nelayan.”

Ada teman dari luar negeri yang mengunjungi rumah Rodhial dan berkomentar kalau Rodhial bukan orang kampung. Sebab Rodhial memiliki perpustakaan pribadi di rumah. Orang kota saja belum tentu ada, kata Rodhial menirukan ucapan temannya.

Pernah juga seorang teman mengatakan bahwa apa yang Rodhial ketahui itu mahal jadi jangan diumbar-umbar. ‘Kalau bicara dan harus ditayangkan di televisi, kamu harus dibayar mahal.’ Mendengar ucapan itu, Rodhial langsung menolak. Ia teringat pesan orang tuanya bahwa jangan pernah meminta bayaran kepada orang lain ketika kamu berbagi ilmu. Berbagilah kepada orang lain apa yang kamu ketahui.’

“Sungguh berdosa kalau saya minta bayaran. Tapi kalau ada orang memberi itu terserah mereka. “Yang terpenting, pengetahuan maritim yang saya punya diketahui banyak orang sehingga ketika saya mati masih ada yang melanjutkan,” kata Rodhial.

“Saya merasa tak layak menjual ilmu ini karena ilmu yang saya miliki diberikan Allah kepada saya. Jadi ilmu ini harus dibagikan kepada para nelayan sehingga mendapatkan rejeki di laut.”

Pada 1928, sebelum merdeka, Presiden Soekarno mengatakan jika ingin mendapatkan mutiara, kamu harus berani berenang dan menyelam ke dasar laut yang paling dalam. Tapi, apabila kamu punya hati kecil dan hanya berani di pantai saja maka kamu tidak mendapatkan apa-apa. “Paling dapat kulit kerang aja untuk gantungan kunci,” kata Rodhial. “Kalau ingin bangkit maka kita harus menyelam, jangan menunggu di pinggir.”

Oleh karena itu, menurutnya jika bangsa Indonesia ingin sejahtera maka harus jadi bangsa pelaut kembali. Jadilah bangsa pelaut lagi dengan arti seluas-luasnya, sesungguh-sungguhnya  bukan hanya sebagai jongos-jongos di kapal, tegasnya.

“Bangsa pelaut yang memiliki armada niaga dan memiliki armada militer, dan kapal laut yang kesibukan di laut menandingi irama gelombang laut itu sendiri, tertulis besar-besar dalam institut angkatan laut Surabaya tapi tidak dibaca,” ungkap Rodhial.

Hari ini, tambah Rodhial, kehidupan kita tidak seirama dengan gelombang laut, gelombang laut terus bergolak dinamis tapi kita tidak.

Bung Karno pernah mengatakan aku lebih suka lukisan ombak yang menggelora daripada aku disuruh melihat lukisan sawah yang diam membisu.

Dia menilai ungkapan itu untuk mengingatkan generasi muda bahwa dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan. Karena itu kita harus memanfaatkan laut untuk kehidupan seperti halnya daratan. “Maka yakinlah pengangguran bisa dikurangi di negeri ini dan tak perlu mengirim TKI ke luar negeri.”

Oleh karena itu, ungkap Rodhial, ia mempunyai cita-cita yang besar, yaitu mendirikan Politeknik Maritim di Natuna. Ia ingin orang Natuna cerdas seperti orang kota. Dia merasa pembangunan Politeknik Maritim penting karena membaca sebuah tulisan tangan Soekarno yang terbingkai dan dipajang di dalam KM Djadajat, sebuah kapal pemerintah negara di laut masa Presiden Soekarno.

Kapal tersebut kini sudah tenggelam di Natuna. Namun, sebelum tenggelam, nahkoda kapal menitipkan bingkai itu (tulisan tangan Soekarno) kepada pamanya.  “Dari situlah inspirasi saya untuk membangun Politeknik maritim.

Berikut tulisan tangan Soekarno;

Kepada anak boeah KM Djadajat.

Kerdjakanlah toegasmu dengan penjerahan djiwa raga jang penoeh!

Di tindjoe dari soedoet jang dangkal, toegasmu ialah menjelenggarakan pengangkoetan dan perhoeboengan.

Di tindjoe dari soedoet jang lebih dalam toegasmoe itou

berisikan soembangan kepada pembinaan administrasi negara dan ekonomi negara.

Di tindjoe dari soedoet jang lebih mendalam lagi, toegasmoe itoe ialah soembangan kepada pembinaan kepribadian bangsa dan nation building.

Toehan memberi kepada kita satoe tanah air kepoelaoean, hanja djika kepribadian kita seirama dengan sifat tanah air kita itoelah, maka kita dapat mendjadi satoe bangsa jang besar.

Djadayat, 9 November 1958.

Soekarno, Presiden

Isi tulisan tersebut sudah sangat jelas bahwa bangsa ini akan besar jika mengikuti irama gelombang laut, ungkap Rodhial. Namun, yang terjadi saat ini bertolak belakang dengan apa yang kita kerjakan.

“Lihat saja, dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia tak ada satupun yang memanfaatkan sumber daya lautnya. Misalnya insinyur sipil basah dan farmasi kelautan.

Insinyur sipil basah, kalau di Belanda untuk membangun infrastruktur yang kokoh di laut. Contohnya pembangunan kota Rotterdam di laut menggunakan para ahli insinyur sipil basah sehingga kota tersebut bertahan lama.

Bahkan mercusuar buatan Belanda pada 1789 di pulau-pulau Indonesia hingga kini masih ada. Sedangkan Indonesia hanya memiliki insinyur sipil kering. Jadi tak heran kalau bangunannya tak bertahan lama.

Sementara itu farmasi kelautan bisa membuat berbagai obat dan sebagainya. Dia mencontohkan para ahli di Amerika Serikat bisa membuat viagra yang bahan bakunya dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan  Indonesia tidak tahu lautnya dimanfaatkan untuk apa selain menangkap ikan, pelayaran, dan keramba laut.

“Indonesia butuh ribuan insinyur dan berbagai ahli lainnya untuk memanfaatkan sumber daya alam di laut,” ungkap Rhodial. “Jika itu dilakukan maka Indonesia menjadi negara yang makmur dan angka pengangguran akan sangat berkurang.”

Sebenarnya Rodhial bersama-sama temannya berusaha menjawab kebutuhan bangsa akan hadirnya para ahli dengan mendirikan Politeknik Maritim pada 2001. Sayang usahanya gagal. Itu disebabkan dirinya tidak punya uang 5 miliar sebagai jaminan penyelenggaraan pendidikan.

“Kalau begitu, bagaimana orang Natuna bisa pintar jika pemerintah tidak membuat terobosan. Jika dulu Presiden Soekarno mengikuti aturan Belanda dan tidak punya terobosan maka dari dulu kita tidak bisa merdeka.

Meski demikian, Rhodial tak putus asa, ada saja yang ia lakukan untuk mewujudkan cita-citanya. Ia mencari bantuan swasta dalam negeri maupun luar negeri. Dan ada lembaga dari Belanda yang ingin membantu pembangunan perguruan tinggi tersebut tapi dengan syarat lembaga pendidikan tersebut sudah berjalan tiga bulan. Dengan waktu tersebut, pihak mereka bisa membantunya.

Singapura juga telah menawarkan kepada Rodhial untuk membangun Politeknik Maritim. Bahkan kapan pun Rodhial mau, Singapura siap membantu. Bahkan Singapura menyatakan kalau ada Politeknik maritim di Natuna maka politeknik mereka akan ditutup.

Bahkan orang-orang Singapura dan Malaysia menyatakan jika politeknik itu ada maka anak-anak mereka akan sekolah di situ, dengan sayarat kurikulumnya menggunakan bahasa Inggris. Tapi hingga kini Rodhial tidak bisa menerimanya. Ia ingin anak bangsa sendiri yang membangun sehingga tak ada utang budi pada negara lain.

Walaupun banyak bantuan dari negara tetangga dia berharap masih ada yang peduli dengan pendidikan di Natuna.

Semua berbuah manis. Akhirnya, dua bulan lalu Rodhial  melakukan Forum Grup Discusion dengan Direktur Politeknik Bandung. Hasilnya mereka bersedia menjadi induk semang dari pembentukan Politeknik di Natuna. Jadi sudah mulai ada titik cerah dalam pembangunan Politeknik Maritin di Natuna. Dan semoga titik cerah itu menjadi matahari yang menyinari alam dan masyarakat Natuna.[*]