Sabtu, Mei 25, 2024

Misi Rodhial Huda di Natuna

Reja Hidayat
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.

Rodihal Huda (Foto-foto oleh Andrey Gromico)
Rodihal Huda (Foto-foto oleh Andrey Gromico)
Pria itu memakai kemeja biru. Berpadu dengan celana jeans hitam serta tas ransel di bahu sebelah kanan. Dia berdiri di pinggir jalan Prof. Dr. Satrio, Kuningan, Jakarta. Dia menunggu saya. Kami sudah sepakat bertemu siang ini.

Namanya Rodhial Huda atau dikenal orang dengan panggilan Wak Yal di tanah kelahirannya Pulau Natuna, Riau, tempat dia tumbuh dibesarkan, bermain dan sekolah. Pria dengan perawakan tinggi besar, bersih dan putih seperti seorang aktor karate ini adalah seorang nelayan. Tak ada yang percaya jika dia seorang nelayan. Sebab persepsi yang selama ini melekat pada nelayan Indonesia adalah miskin, hitam, jelek, dan bodoh.

Bahkan seorang profesor, pengajar di Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana juga tak percaya saat Rodhial menyebutkan pekerjaannya sebagai nelayan.

"Anda seorang nelayan? Masa?" kata Rodhial menirukan ucapan Hikmahanto. Saat diundang dalam salah satu talk show di media nasional, Rodhial disebut sebagai Tokoh Natuna. Padahal ia sudah memberitahu pekerjaannya sebagai nelayan.

"Selama kita masih memiliki persepsi negatif, apapun program pemerintah kepada nelayan tak akan berhasil," ungkap bapak tiga anak ini. "Tapi ketika nelayan sudah dianggap seperti dokter dan insinyur maka bukan tak mungkin Indonesia akan sejahtera."

Saat diundang pertama kali sebagai pembicara tentang maritim di Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Semarang dan Universitas Dipenogoro, banyak mahasiswa yang bertanya tentang latar belakang pendidikannya.

"S2 di mana Pak? Lalu Rodhial menjawab, Jangankan S2, S1 saja tak pernah. Masa hanya orang yang sekolah saja yang pintar? Apa orang yang tak bersekolah tak boleh pintar?"

Pertanyaan itu sering dilontarkan ketika Rodhial selesai menjadi pembicara. Orang seakan tak percaya dia seorang nelayan. Pasalnya cara dia bicara seperti seorang doktor yang menguasai Hukum Laut Nasional dan Hukum Laut Internasional.

"Kalau ngomong masalah laut, tak tahu kenapa mulut ini lancar aja bicaranya. Mungkin di sinilah jalan hidup saya.”

 Menurut Rodhial sekolah membuat orang bodoh. Sebab Tuhan memberi anugerah kepada kita untuk belajar agar mengetahui segala hal tapi di sekolah hanya tahu satu hal saja. " Sekolah tidak terlalu penting yang penting belajar. Dan belajar tak mesti di sekolah."

Hal itu pernah diungkapkan Sarwono Kusumaatmadja bekas Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Deklrasi Djuanda pada 14 Desember 2014. "Ada orang yang disekolahkan bukan tambah pintar tapi bikin orang bodoh. Dan Rodhial adalah salah satu orang yang tak perlu sekolah tapi menguasai maritim," kata Sarwono kala itu.

Rodhial mengatakan kalau pengetahuan tentang maritim ini didapat dari rumahnya di Natuna. Rumah tersebut terbuat dari kayu dan memiliki perpustakaan. Itulah jendela ilmunya. “Saya belajar dari buku dan belasan tahun praktik di lapangan. Jadi wajar saya mengetahui permasalahan maritim terutama nelayan.”

Ada teman dari luar negeri yang mengunjungi rumah Rodhial dan berkomentar kalau Rodhial bukan orang kampung. Sebab Rodhial memiliki perpustakaan pribadi di rumah. Orang kota saja belum tentu ada, kata Rodhial menirukan ucapan temannya.

Pernah juga seorang teman mengatakan bahwa apa yang Rodhial ketahui itu mahal jadi jangan diumbar-umbar. ‘Kalau bicara dan harus ditayangkan di televisi, kamu harus dibayar mahal.’ Mendengar ucapan itu, Rodhial langsung menolak. Ia teringat pesan orang tuanya bahwa jangan pernah meminta bayaran kepada orang lain ketika kamu berbagi ilmu. Berbagilah kepada orang lain apa yang kamu ketahui.’

"Sungguh berdosa kalau saya minta bayaran. Tapi kalau ada orang memberi itu terserah mereka. “Yang terpenting, pengetahuan maritim yang saya punya diketahui banyak orang sehingga ketika saya mati masih ada yang melanjutkan," kata Rodhial.

"Saya merasa tak layak menjual ilmu ini karena ilmu yang saya miliki diberikan Allah kepada saya. Jadi ilmu ini harus dibagikan kepada para nelayan sehingga mendapatkan rejeki di laut."

Pada 1928, sebelum merdeka, Presiden Soekarno mengatakan jika ingin mendapatkan mutiara, kamu harus berani berenang dan menyelam ke dasar laut yang paling dalam. Tapi, apabila kamu punya hati kecil dan hanya berani di pantai saja maka kamu tidak mendapatkan apa-apa. "Paling dapat kulit kerang aja untuk gantungan kunci," kata Rodhial. "Kalau ingin bangkit maka kita harus menyelam, jangan menunggu di pinggir."

Oleh karena itu, menurutnya jika bangsa Indonesia ingin sejahtera maka harus jadi bangsa pelaut kembali. Jadilah bangsa pelaut lagi dengan arti seluas-luasnya, sesungguh-sungguhnya  bukan hanya sebagai jongos-jongos di kapal, tegasnya.

"Bangsa pelaut yang memiliki armada niaga dan memiliki armada militer, dan kapal laut yang kesibukan di laut menandingi irama gelombang laut itu sendiri, tertulis besar-besar dalam institut angkatan laut Surabaya tapi tidak dibaca," ungkap Rodhial.

Hari ini, tambah Rodhial, kehidupan kita tidak seirama dengan gelombang laut, gelombang laut terus bergolak dinamis tapi kita tidak.

Bung Karno pernah mengatakan aku lebih suka lukisan ombak yang menggelora daripada aku disuruh melihat lukisan sawah yang diam membisu.

Dia menilai ungkapan itu untuk mengingatkan generasi muda bahwa dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan. Karena itu kita harus memanfaatkan laut untuk kehidupan seperti halnya daratan. “Maka yakinlah pengangguran bisa dikurangi di negeri ini dan tak perlu mengirim TKI ke luar negeri.”

Oleh karena itu, ungkap Rodhial, ia mempunyai cita-cita yang besar, yaitu mendirikan Politeknik Maritim di Natuna. Ia ingin orang Natuna cerdas seperti orang kota. Dia merasa pembangunan Politeknik Maritim penting karena membaca sebuah tulisan tangan Soekarno yang terbingkai dan dipajang di dalam KM Djadajat, sebuah kapal pemerintah negara di laut masa Presiden Soekarno.

Kapal tersebut kini sudah tenggelam di Natuna. Namun, sebelum tenggelam, nahkoda kapal menitipkan bingkai itu (tulisan tangan Soekarno) kepada pamanya.  “Dari situlah inspirasi saya untuk membangun Politeknik maritim.

Berikut tulisan tangan Soekarno;

Kepada anak boeah KM Djadajat.

Kerdjakanlah toegasmu dengan penjerahan djiwa raga jang penoeh!

Di tindjoe dari soedoet jang dangkal, toegasmu ialah menjelenggarakan pengangkoetan dan perhoeboengan.

Di tindjoe dari soedoet jang lebih dalam toegasmoe itou

berisikan soembangan kepada pembinaan administrasi negara dan ekonomi negara.

Di tindjoe dari soedoet jang lebih mendalam lagi, toegasmoe itoe ialah soembangan kepada pembinaan kepribadian bangsa dan nation building.

Toehan memberi kepada kita satoe tanah air kepoelaoean, hanja djika kepribadian kita seirama dengan sifat tanah air kita itoelah, maka kita dapat mendjadi satoe bangsa jang besar.

Djadayat, 9 November 1958.

Soekarno, Presiden 

Isi tulisan tersebut sudah sangat jelas bahwa bangsa ini akan besar jika mengikuti irama gelombang laut, ungkap Rodhial. Namun, yang terjadi saat ini bertolak belakang dengan apa yang kita kerjakan.

 

Ingin memajukan Natuna/Geotimes/Andrey Gromico

 

“Lihat saja, dari ribuan perguruan tinggi di Indonesia tak ada satupun yang memanfaatkan sumber daya lautnya. Misalnya insinyur sipil basah dan farmasi kelautan.

Insinyur sipil basah, kalau di Belanda untuk membangun infrastruktur yang kokoh di laut. Contohnya pembangunan kota Rotterdam di laut menggunakan para ahli insinyur sipil basah sehingga kota tersebut bertahan lama.

Bahkan mercusuar buatan Belanda pada 1789 di pulau-pulau Indonesia hingga kini masih ada. Sedangkan Indonesia hanya memiliki insinyur sipil kering. Jadi tak heran kalau bangunannya tak bertahan lama.

Sementara itu farmasi kelautan bisa membuat berbagai obat dan sebagainya. Dia mencontohkan para ahli di Amerika Serikat bisa membuat viagra yang bahan bakunya dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan  Indonesia tidak tahu lautnya dimanfaatkan untuk apa selain menangkap ikan, pelayaran, dan keramba laut.

"Indonesia butuh ribuan insinyur dan berbagai ahli lainnya untuk memanfaatkan sumber daya alam di laut," ungkap Rhodial. "Jika itu dilakukan maka Indonesia menjadi negara yang makmur dan angka pengangguran akan sangat berkurang."

Sebenarnya Rodhial bersama-sama temannya berusaha menjawab kebutuhan bangsa akan hadirnya para ahli dengan mendirikan Politeknik Maritim pada 2001. Sayang usahanya gagal. Itu disebabkan dirinya tidak punya uang 5 miliar sebagai jaminan penyelenggaraan pendidikan.

“Kalau begitu, bagaimana orang Natuna bisa pintar jika pemerintah tidak membuat terobosan. Jika dulu Presiden Soekarno mengikuti aturan Belanda dan tidak punya terobosan maka dari dulu kita tidak bisa merdeka.

Meski demikian, Rhodial tak putus asa, ada saja yang ia lakukan untuk mewujudkan cita-citanya. Ia mencari bantuan swasta dalam negeri maupun luar negeri. Dan ada lembaga dari Belanda yang ingin membantu pembangunan perguruan tinggi tersebut tapi dengan syarat lembaga pendidikan tersebut sudah berjalan tiga bulan. Dengan waktu tersebut, pihak mereka bisa membantunya.

Singapura juga telah menawarkan kepada Rodhial untuk membangun Politeknik Maritim. Bahkan kapan pun Rodhial mau, Singapura siap membantu. Bahkan Singapura menyatakan kalau ada Politeknik maritim di Natuna maka politeknik mereka akan ditutup.

Bahkan orang-orang Singapura dan Malaysia menyatakan jika politeknik itu ada maka anak-anak mereka akan sekolah di situ, dengan sayarat kurikulumnya menggunakan bahasa Inggris. Tapi hingga kini Rodhial tidak bisa menerimanya. Ia ingin anak bangsa sendiri yang membangun sehingga tak ada utang budi pada negara lain.

Walaupun banyak bantuan dari negara tetangga dia berharap masih ada yang peduli dengan pendidikan di Natuna.

Semua berbuah manis. Akhirnya, dua bulan lalu Rodhial  melakukan Forum Grup Discusion dengan Direktur Politeknik Bandung. Hasilnya mereka bersedia menjadi induk semang dari pembentukan Politeknik di Natuna. Jadi sudah mulai ada titik cerah dalam pembangunan Politeknik Maritin di Natuna. Dan semoga titik cerah itu menjadi matahari yang menyinari alam dan masyarakat Natuna.[*]

Reja Hidayat
Reja Hidayat
Reporter GeoTIMES.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.