OUR NETWORK
From Korea With Love Concert
Jumat, Desember 2, 2022
From Korea With Love Concert

Paulo Coelho, Materpiece “Seperti Sungai yang Mengalir”

Muhammad Rifqi
Sang Pencari Makna
From Korea With Love Concert

Seorang seniman besar Paulo Coelho memang selalu membawa para pembaca tulisannya, untuk tidak hanya berpikir singkat namun juga merenungi semua hal yang pernah dilakukan.

Pertama kali melihat buku ini, yang terbersit dalam hati penulis adalah tentang makna pelajaran hidup, perenungan yang membuat kita semakin maju dalam menjalani hidup. Dan benar ternyata adanya. Kebetulan penulis sangat mengangumi tulisan-tulisan dari Paulo Coelho, sehingga tidak ambil waktu lama untuk berpikir dalam membeli buku ini.

Buku dengan desain gambar ilalang serta pemandangan laut atau danau bernuansa cokelat, membuat penulis semakin tertarik dengan buku ini. Bahkan, secara filosofi warna, warna buku ini membuat para penulis merasakan kedamaian ketika pertama kali melihatnya.

Paulo Coelho kembali lagi membawa para pembaca untuk belajar dari pengalamannya selama dia melakukan perjalanan bersama dengan belahan jiwanya (istrinya) di negara-negara yang memiliki kisah dan sejarah tersendiri baginya.

Pembaca tidak hanya disuguhkan dengan pengalaman perjalanan hidup tetapi juga perenungan diri yang secara kasat mata jarang sekali kita renungkan. Tidak hanya tentang pengalaman pribadinya, buku ini juga menceritakan tentang bagaimana kisahnya berkenalan dengan manusia-manusia hebat, keajaiban-keajaiban, dan lain sebagainya.

Ada sekitar 102 bab dalam buku ini. Kok banyak sekali? Tenang, masing-masing bab ditulis cukup pendek, sekitar 1-4 halaman setiap babnya (namun kedalaman maknanya jauh lebih daripada angka-angka itu). Ini memudahkan para pembacanya untuk “merenangi” isi buku ini dengan lebih santai.

Tema kisahnya sangatlah beragam, berasal dari kisah-kisah yang pernah didengar Coelho maupun dialaminya sendiri. Semuanya sangat meyentuh dan menarik hati untuk sejenak merenungkan pesan  pesan yang terdapat di dalamnya.

Sebuah kisah yang menjadi perenungan bermakna pada diri penulis, adalah ketika penulis membaca tentang sebuah kisah dari seorang Jepang yang meninggal sendirian. Meninggal tanpa ada yang tau tentang dirinya selama 20 tahun lamanya. Dia meninggal dengan menggunakan piyama dan memegang koran disamping tempat tidurnya.

Sungguh menyedihkan, ketika dia baru ditemukan oleh kepolisian saat apartemen yang dihuninya akan dirobohkan, menemukan tengkorak yang diselimuti dengan piyama. Dan yang paling menyedihkan adalah ketika wartawan penasaran tentang keluarga korban, yang ternyata masih hidup dan tidak mencari sedikitpun tentang dirinya yang sudah lama hilang.

Sungguh mengingatkan penulis, tentang betapa mengerikannya kehidupan ini, jika ketika meninggal pun, tidak ada yang peduli pada kita selama 20 tahun lamanya. Dan tidak berusaha mencari kemana diri kita berada. Dan juga Dalam bab “Arti Penting Sebuah Gelar” (hal. 20), misalnya, Coelho menulis:

Sebagian besar teman saya, dan sebagian besar anak mereka, juga mempunyai gelar. Tetapi belum tentu mereka berhasil mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Sama sekali tidak. Mereka masuk universitas karena seseorang berkata—pada masa-masa ketika masuk universitas sangatlah penting—bahwa supaya bisa mendapatkan tempat yang mapan di dunia, orang mesti mempunyai gelar. Dengan demikian, dunia ini kehilangan kesempatan untuk memiliki orang-orang yang sebenarnya adalah tukang-tukang kebun yang hebat, tukang-tukang roti, pedagang-pedagang barang antik, pematung-pematung, dan penulis-penulis. Barangkali inilah saatnya merenungkan keadaan tersebut. Para dokter, insinyur, ilmuwan, dan pengacara memang perlu belajar di universitas, tetapi apakah semua orang perlu berbuat demikian?

Dan itu hanya sebatas penggambaran singkat dari isi buku ini tentunya masih terdapat sangat banyak cerita-cerita hebat lainnya yg tersajikan dalam “Masterpice” ini yg akan mengantar para penikmatnya menjelajah-jiwa jiwa dan menyegarkannya.

Ada satu kesan dari penulis:

“Berjuang, bersyukur dan berharap mesti dijadikan tiga kebajikan hidup dalam setiap arus langkah hidup manusia. Hidup sungguh-sungguh dimaknai sebagai sebuah kekuatan yang senantiasa menagalir seperti sungai. Dengan demikian, manusia tidak hanya berenang-renang dalam pusaran episentrum tertentu tetapi juga mengalir bersama kehidupannya menuju cahaya. “Mengalir” mungkin sungguh belum selesai. ini jadi tugas dan tanggung jawab masing-masing insan kehidupan”.

Akhirnya, Sungguh buku ini merupakan karya yang tidak hanya sebatas bagus namun juga indah. Indah secara bahasa, indah secara desain, latar cerita, dan hal lainnya. Kisah yang diceritakan pun, tidak sekadar bercerita tentang kesedihan, tetapi juga kepolosan, kelucuan, keunikan dari masa ke masa perjalanan hidup seorang Paulo Coelho. Dan, dengan karya yang hebat ini, pembaca diharapkan dapat merenungi kembali segala hal yang pernah dilakukan, dan menjalankan kehidupan dengan luar biasa di masa yang akan datang.

Muhammad Rifqi
Sang Pencari Makna
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.