Senin, April 19, 2021

Perihal Paham Kebangsaan Buya Hamka

Cara Dunia Hiburan Mencipta Mitos

Masih ingat ketika Iwan Fals bertransformasi di tahun 2012 lalu? Setelah lama tak ada kabar, tiba-tiba muncul sebagai pengiklan sebuah merk baru kopi instan. Pastinya...

Ada Apa dengan Pendidikan Kita?

Pendidikan adalah cara untuk memanusiakan manusia. Setidaknya inilah pernyataan yang banyak diterima oleh berbagai kalangan mengenai hakikat dari pendidikan. Seseorang yang menempuh dunia pendidikan...

Pak Menteri, Kami Memang Miskin, Tapi…

Ilmu lisan tak bisa diperoleh dari sumber yang sembarangan. Ilmu lisan juga tak bisa dibeli di segala tempat. Ada jurus dan cara jitu agar...

(Bukan) Pengabdi Gubernur

Sah.. sudah Jakarta meminang pemimpin baru. Pucuk pimpinan kota metropolitan sekarang berada di tangan Anis-Sandi sebagai pemenang terpilih (election government) DKI Jakarta. Segala hal yang...
Ruhul Amin
Lulusan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Aktivis IMM

Tepatnya 17 Februari 1908, 110 tahun yang lalu, Inyia Doktor Haji Abdul Karim Amrullah dan istrinya Siti Safiyah diberikan karunia seorang anak yang kelak menjadi tokoh Islam panutan tanah air.

Anak tersebut tumbuh dan berkembang di perantauan sebagai “bujang jauh”. Dan sekarang kita mengenalnya dengan nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, dengan panggilan populer Buya Hamka. Lahir disekitar danau Maninjau yang elok dan permai, menjadikan perasaannya begitu peka dan halus.

Hamka tumbuh di adat Minangkabau yang kaya dengan tradisi lisan pepatah-petitih, merangsang bakat sastra yang ajaib. Dilengkapilah ia dengan bacaan yang banyak dan pergaulan dengan tokoh Islam tanah air yang intens. Dari perpaduan tersebut, Buya Hamka melahirkan banyak karya diberbagai bidang dakwah, sejarah, keIslaman dan tentu saja kesusastraan.

Merantau ke Deli

Diantara karya sastra Buya Hamka yang terkenal dan menyentuh serta menyentil adalah karya sastra dengan judul Merantau ke Deli. Karya tersebut didapat bahannya oleh Buya ketika berdiam di Deli untuk mengajar para buruh dan kuli kontrak di kota metropolitan pada masa kolonial Belanda.

Deli menjadi persinggahan Buya Hamka sepulangnya dari tanah Arab (kepulangannya karena disuruh oleh Agus Salim). Sebelum akhirnya dijemput Buya AR Sutan Mansur atas titah Haji Abdul Karim.

Dalam Merantau ke Deli, Hamka menceritakan terjadinya asimilasi dari berbagai suku bangsa di Nusantara melalui proses kawin-mawin antar manusia yang ada di sana. Lewat tokoh Leman sebagai tokoh utama yang menikahi kuli cantik dari tanah Jawa, dilengkapi oleh seorang datuk yang juga hidup di Deli serta keluarga Leman di tanah Minang.

Buya Hamka menyampaikan contoh terjadinya asimilasi di tanah Deli tersebut. Sembari, seperti karya Hamka lainnya, menyampaikan koreksi atas orang-orang tua Minangkabau yang terlalu mengagungkan adatnya serta menganggap rendah orang dari adat lain.

Sebagai tokoh pemikir Islam, Hamka menyampaikan ide dan pandangannya dipelbagai ranah, salah satu diantaranya adalah ranah sastra. Bahasa Arab adalah bahasa asing satu-satunya yang dikuasainya.

Sehingga ketika di Jeddah, dia benar-benar melepaskan semua dahaga ilmunya. Punya sanad keturunan ulama terkenal pun, tak membuat Hamka dalam soal kebangsaan merujuk pada masa dinasti Islam pasca Khulafaurrasyidin. Dia merujuk pada perihal keadaan yang telah terjadi di tanah air, khususnya di tanah Deli.

Di tanah Deli, seorang anak dapat lahir dari rahim seorang ibu dari Minang, bapaknya Mandailing. Ada juga anak ibunya dari Jawa, bapaknya dari Banjar. Lalu juga anak ibunya dari Jawa, bapaknya dari Banjar. Lalu dari suku bangsa manakah anak-anak tersebut. Itu lah anak Deli kata Hamka yang menjadi perbendaharaan utama kebangsaan kita.

Seraya menyatakan bahwa “dari Jawa atau Minangkabau ke Tanah Deli, tidak lah merantau lagi. Bahkan dari Sabang sampai Merauke tidaklah lagi merantau”. Jelaslah paham kebangsaan Hamka di sana, Indonesia adalah tanah air kita bersama.

Beliau pun berharap dengan novel tersebut akan memberi tahu kepada generasi mendatang begitu jauhnya jalan yang ditempuh untuk kebangsaan kita. Berharap kita memeliharanya dan membuatnya lebih besar lagi.

“Bialah kambang di rantau urang, asa bangso jo agamo tarang”. Biarlah bersemi di rantau, asalkan terang untuk bangsa dan agama. Begitu penggalan syair lagu dari anak-kemenakannya dari ranah Minang.

Memahami paham kebangsaan Buya Hamka, bahwa kepentingan untuk bangsa dan agama lah yang didahulukan. Tumbuh dan berkembang tak harus di tanah sendiri. Bukankah seluruh daerah di tanah air adalah tempat kita bersama. Dan, kita tak lagi merantau sepanjang Sabang sampai Merauke.

Ruhul Amin
Lulusan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan Aktivis IMM
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Banyak Baca Buku Jadi Pintar, Sedikit Baca Jadi Orba

Minggu lalu, akun twitter Presiden Jokowi @jokowi menggunggah kegiatan membagi-bagi buku. "Membagi buku untuk anak selepas Jumatan bersama masyarakat di Masjid Jami Annur, Johar...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.