Kekayaan

Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi
Nama : Ermansyah R. Hindi Tempat/Tangga Lahir : Ujung Pandang, 16 Pebruari 1972 Pekerjaan : Free Writer, ASN di Bappeda Kabupaten Jeneponto
- Advertisement -

Sekitar dua puluh lima tahun lebih yang lalu, buku karya Adam Smith, The Wealth of Nations terdiri dari dua volume yang sempat saya beli, di Jakarta. Saya sok pede pada buku berbahasa Inggris, padahal saya sungguh pekok tentang buku itu yang tidak membuat kepincut terutama bagi kaum bersahaja hidupnya. Anehnya, dalam buku itu, Adam Smith tidak teriak-teriak tentang cara merahi kekayaan melalui eksploitasi alam. Padahal, banyak negeri-negeri koloni Inggris yang kaya sumberdaya alamnya.

Adam Smith melihat kekayaan perlu dikelola secara modern. Untuk itulah di bagian awal buku The Wealth of Nations menyuguhkan tentang divisi tenaga kerja. Itu penting karena proses kehidupan dan tentu manusia itu sendiri ingin bergerak maju. Manusia punya pilihan melalui mimpi dan hasrat yang dikelola secara produktif dan terkontrol atau tidak liar. Adapun manusia jadi serakah akan tersiksa sendiri tanpa kekayaan yang bisa memuaskan dirinya.

Bagaimana pun juga setiap orang ingin kekayaan. Jenisnya apa? Kita tahu, setidaknya ada dua kekayaan berupa finansial (uang) dan fisik (harta benda). Secara subyektif, saya akan menambahkan jenis kekayaan yang lain, yaitu buku-buku. Harta kekayaan dalam bentuk pengetahuan di tengah banjir informasi melalui media sosial, bukan? Ini tidak apa-apa jika dianggap ngawur.

Kembali pada teks tentang kekayaan. Buku babon itu nyaris membuat saya tidak punya lagi karena ditelan banjir bandang di kampung, 2020. Kekayaan saya berupa buku-buku itu tidak banyak. Yang getir dari musibah banjir bandang justru memantik saya agar bisa bergairah kembali, bukan karena buku The Wealth of Nations berlumuran lumpur. Ia bersama buku-buku yang lain mengalami nasib yang sama.

Berkelebat jauh ke depan, The Wealth of Nations punya cocoklogi dengan momen di negeri kita. Tiba-tiba saya ingat dengan Perjanjian Dagang antara RI dan AS, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump. Sementara, minyak atau mining lainnya menjadi arena kepentingan ekonomi politik yang dikaitkan dengan perang Israel-AS versus Iran (beberapa negara Timur Tengah jadi sasaran rudal Iran). Konyolnya, minyak sebagai kekayaan bukan cuma punya motif konflik yang berkepanjangan. Tapi, minyak juga seperti “darah” yang mengalir dalam geopolitik-bio kuasa.

Ternyata, pemikiran Adam Smith lewat The Wealth of Nations melampaui zamannya. Ia menjangkau dua dunia: Barat dan Timur. Di situlah muncul divisi tenaga kerja lengkap dengan prinsip-prinsipnya, asal-usul penggunaan uang, harga nominal dan riil dari komoditas, alam dan harga pasar komoditas, upah buruh, profit dari saham, rente tanah, dan masih banyak yang  lain. Sesungguhnya dalam volume satu memuat juga di antaranya soal risalah niaga, koloni, sistem merkantilis sampai utang publik.

Kekayaan alam berubah jadi sumber penghidupan paling sederhana dengan kekuatan instings dan nomad untuk melangsungkan kehidupan sebagaimana manusia dahulu kala secara bertahap tumbuh dan berkembang seiring perjalanan waktu. Ilmu pengetahuan memberitahukan pada kita bahwa ada fase manusia yang bergantung pada alam dengan kekayaan yang dikandungnya?

Lihatlah tanah, air, angin, gas, minyak, emas dan unsur energi dan mineral lainnya sampai tumbuh-tumbuhan sampai binatang merupakan ragam kekayaan yang bersumber dari alam! Begitu pula dari pertukaran simbolik ke metamormosis saat kekayaan alam perlahan diubah jadi alat yang terbuat dari batu dan tulang, yang ditemukan dalam senjata di zaman perburuan.

Lalu, ada satu fase dan zaman ditemukan rempah-rempah sebagai kekayaan yang juga datang dari alam, yang jelas menggunakan alat untuk mengelola, mengangkut, dan memindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain melalui alat produksi atau teknologi.

Semuanya dari bahan baku yang terbuat dari alam sebagai kekayaan yang melimpah. Kekayaan alam tidak bisa dipisahkan dengan suatu fase dan zaman penemuan, dari teknologi ala kadarnya sampai teknologi yang terbuat dari bahan besi dan ditukar dalam bentuk yang lain, seperti tombak atau alat dapur dari batu menjadi senjata mesin otomatis dan kompor listrik sampai kemudian manusia lompat ke zaman pasca-manusia berupa robot AI sesungguhnya berasal dari kekayaan alam. Kehadiran pasca-manusia yang meniru manusia alamiah memang tidak digambarkan dalam buku The Wealth of Nations, karya Adam Smith, kecuali membayangkan manusia “konsumer” sekaligus “produser” yang bisa tumbuh, menjalar, dan bermanfaat bagi peradaban karena dianut dan diamalkan oleh Barat dan Timur.

- Advertisement -

Dari tinjauan historis itu saja tentang kekayaan terutama dari kekayaan alam sudah menuai riak-riak dan sindiran gara-gara kapitalisme yang dijadikan “kambing hitam” dianggap mengangkangi kekayaan (alam). Nah, satu sisi, apapun kritikan bahkan caci maki pada kapitalisme dengan kekayaan yang diproduksinya sudah diajarkan lewat buku itu, maka The Wealth of Nations tetap jadi jempolan saya, sekalipun saya bukan siapa-siapa.

Pada sisi lain, ego jadi sifat-sifat atau watak dasar manusia (human nature) yang ingin memiliki kekayaan. Jadi, alam (nature) bisa dikuras habis oleh sifat serakah (human nature) justru karena kita kian tergoda pada kekayaan. Alam sebagai kekayaan akan ada habisnya dibandingkan watak dasar manusia tanpa henti.

Kekayaan atau kemakmuran bangsa sebenarnya sudah mengarah pada pandangan tentang pentingnya mengandalkan kemampuan SDM (Sumberdaya Manusia). Buktinya, buku The Wealth of Nations berbicara seputar tenaga kerja sebagai salah satu faktor produksi. Soal tenaga kerja  dieksploitasi oleh sang kapitalis untuk meraup keuntungan di balik kekayaan yang dikelola oleh mesin atau alat produksi perusahan dengan modal yang dialirkannya tetap menuntut keterampilan atau kreativitas, yang tinggi dan rendah mulai dikenal secar teliti di abad ke-18, misalnya, saat revolusi industri di Inggris melahirkan kelas pekerja dan kapitalis. Pun seorang kapitalis mesti jago otaknya sekaligus punya keterampilan untuk mengelola komoditas atau perusahaan tertentu.

Saya setuju soal kekayaan di tangan para kapitalis bahwa kapitalisme tanpa akhir perlu menggaet dan menghidupkan para pekerja dalam kesejahteraan yang layak sebagai manusia. Suatu kehidupan bersama yang didambakan tanpa utopia dan tanpa permainan kaum kapitalis terhadap kaum pekerja. Kehidupan bersama itu paling tidak juga kekayaan dalam genggaman bersama antara kaum kapitalis dan kaum pekerja sebagai sesuatu yang bisa bertahan lama karena di dalamnya ada energi yang bernama hasrat dan kesenangan, tanpa ilusi. Energi abstrak diharapkan melahirkan tanda kehidupan yang nyata.

Terlepas dari sesuatu yang nihil dan asing akan menangguhkan pikiran manusia, hasrat untuk memproduksi kekayaan itu juga sebagai bagian dari anugerah yang selalu ada dan nyata di sekitar kita. Cuma orang mungkin terbatas pada kemampuan untuk merahi kekayaan karena hasrat dan kesenangan tidak diarahkan sesuai dengan panggilan alam yang dimiliki manusia secara umum. Adalah logis jika manusia ingin kekayaan. Setiap anugerah, yang alam materi dan immateri (termasuk ego: “diri” yang bersyukur) adalah kekayaan dalam sudut pandangnya masing-masing.

Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi
Nama : Ermansyah R. Hindi Tempat/Tangga Lahir : Ujung Pandang, 16 Pebruari 1972 Pekerjaan : Free Writer, ASN di Bappeda Kabupaten Jeneponto
Facebook Comment
- Advertisement -