Hamparan sawah menjadi pemandangan yang mudah ditemui di Desa Leuwisadeng, Kabupaten Bogor. Bagi sebagian besar masyarakat, pertanian bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas mengelola lahan, menanam, hingga memanen telah menjadi kebiasaan yang melekat dalam keseharian warga desa.
Di tengah masyarakat yang telah akrab dengan dunia pertanian, metode bercocok tanam tanpa menggunakan tanah masih menjadi hal yang belum banyak dikenal. Hidroponik, yaitu metode budidaya tanaman dengan memanfaatkan air bernutrisi sebagai sumber kebutuhan tanaman, hadir sebagai salah satu alternatif dalam perkembangan pertanian modern.
Kehadiran hidroponik bukan untuk menggantikan cara bertani yang selama ini dilakukan masyarakat. Pertanian konvensional tetap memiliki peran penting bagi kehidupan warga Desa Leuwisadeng. Namun, perubahan kondisi lingkungan dan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas membuat sektor pertanian perlu terus berkembang dan mengenal berbagai metode baru.
Badan Pusat Statistik (BPS) melalui publikasi Analisis Isu Terkini Sosial Ekonomi Pertanian 2025 menyebutkan bahwa sektor pertanian masih memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Meski demikian, sektor ini juga menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, peningkatan produktivitas, serta kebutuhan peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan yang terjadi.
Tantangan tersebut memperlihatkan bahwa pertanian tidak hanya membutuhkan lahan dan sumber daya alam, tetapi juga pengetahuan mengenai berbagai inovasi yang dapat diterapkan sesuai dengan kondisi masyarakat. Salah satu bentuk inovasi yang dapat diperkenalkan adalah hidroponik sebagai alternatif budidaya tanaman.
Melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 189 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Desa Leuwisadeng, mahasiswa memperkenalkan hidroponik kepada masyarakat sebagai salah satu metode budidaya yang dapat dipelajari. Program ini tidak bertujuan mengubah sistem pertanian yang telah berjalan, melainkan memberikan tambahan wawasan mengenai cara lain dalam mengembangkan pertanian.
Pemilihan hidroponik sebagai salah satu program kerja didasarkan pada kebutuhan untuk mengenalkan metode pertanian alternatif yang dapat diterapkan dalam skala sederhana. Dengan metode ini, masyarakat dapat melihat bahwa kegiatan bertani tidak selalu bergantung pada lahan yang luas, tetapi juga dapat dikembangkan melalui pemanfaatan ruang dan teknologi yang tersedia.
Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari pengenalan konsep dasar hidroponik, persiapan alat dan bahan, pembuatan instalasi, penyemaian bibit, hingga proses perawatan tanaman. Mahasiswa KKN bersama masyarakat terlibat secara langsung dalam setiap proses tersebut sehingga hidroponik tidak hanya dipahami melalui penjelasan, tetapi juga melalui pengalaman praktik.
Instalasi hidroponik yang dibuat di lahan milik Pak Sholeh menjadi tempat bagi masyarakat untuk melihat secara langsung proses budidaya dengan metode tersebut. Masyarakat dapat mengikuti bagaimana bibit disiapkan, dipindahkan ke instalasi hidroponik, hingga dirawat agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Bagi sebagian masyarakat, tanaman yang dapat tumbuh tanpa menggunakan tanah tentu menjadi hal yang menarik. Berbagai pertanyaan muncul mengenai cara tanaman memperoleh nutrisi, proses perawatan, hingga kemungkinan pemanfaatan hasil panen. Diskusi tersebut menjadi bagian dari proses pengenalan hidroponik kepada masyarakat.
Melalui praktik langsung, masyarakat dapat memahami bahwa hidroponik bukanlah metode yang sulit untuk dipelajari. Dengan perawatan yang tepat, metode ini dapat diterapkan dalam skala sederhana, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun sebagai peluang pengembangan usaha.
Bagi mahasiswa KKN, kegiatan ini juga menjadi pengalaman untuk melihat bagaimana sebuah inovasi diperkenalkan kepada masyarakat. Pengenalan teknologi pertanian tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian informasi, tetapi juga membutuhkan interaksi dan keterlibatan langsung agar masyarakat dapat memahami manfaatnya.
Meskipun memiliki berbagai keunggulan, hidroponik tetap bukan pengganti pertanian konvensional yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Leuwisadeng. Sawah dan lahan pertanian tetap memiliki nilai penting bagi warga. Namun, keberadaan hidroponik dapat menjadi pilihan tambahan bagi masyarakat yang ingin mengenal metode budidaya lain.
Program hidroponik yang dilaksanakan KKN Kelompok 189 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukkan bahwa pengenalan inovasi pertanian dapat dimulai melalui langkah sederhana. Melalui proses belajar dan praktik bersama, masyarakat mendapatkan pengetahuan baru mengenai salah satu metode budidaya yang berkembang saat ini.
Pada akhirnya, perkembangan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh sejauh mana pengetahuan tersebut dapat diterima dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Hidroponik di Desa Leuwisadeng menjadi salah satu contoh bahwa inovasi dapat berjalan berdampingan dengan tradisi pertanian yang telah lama berkembang.
