Saat Manusia Modern Terjebak dalam Produktivitas Semu

Suni Subagja
Suni Subagja
Masyarakat sipil
- Advertisement -

Di zaman ketika segalanya dituntut serba cepat: lulus cepat, nikah cepat, sukses cepat, sibuk kerap kali disamakan dengan produktif. Semakin banyak pekerjaan yang dilakukan secara bersamaan, semakin meningkat pula kompetensi seseorang di berbagai bidang: serba bisa.

Lamban menyelesaikan tugas seolah menjadi dosa atas waktu. Budaya semacam ini perlahan melahirkan satu keterampilan yang dipuja manusia modern: multitasking. Sebagian dari kita menganggap kemampuan ini sebagai kelebihan yang dapat dilatih.

Bahkan, tak sedikit narasi yang berkembang bahwa perempuan lebih unggul daripada laki-laki dalam urusan multitasking. Analoginya adalah seorang ibu rumah tangga yang bisa memasak, mencuci piring, dan menggendong anak sekaligus. Namun, benarkah otak kita dirancang untuk multitasking?

Multitasking yang Kita Kenal Ternyata Rapid Task-Switching

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Sophie Leroy (2009) menemukan bahwa otak manusia tidak benar-benar melakukan multitasking, melainkan rapid task-switching—beralih dari satu tugas ke tugas lainnya dengan cepat.

Ia menemukan konsep Attention residue—ketika otak dipaksa berpindah dari aktivitas A ke aktivitas B, sebagian perhatian kita masih menempel pada aktivitas A. Tanpa disadari, sebagian besar masyarakat modern menghabiskan waktunya dalam kondisi partially distracted.

Kondisi ini dapat diindikasi melalui: kehilangan detail, kelelahan mental, dan proses pemecahan masalah yang lebih lambat dari biasanya. Sesederhana terdiam beku di warung saat memutuskan minuman apa yang mau dibeli.

Media Sosial Memperparah Kondisi Ini

Media sosial menjadi tanah subur yang melahirkan tumbuhan-tumbuhan bernama Rapid Task-Switching. Dalam hitungan menit, seseorang dapat mudah berpindah topik dari berita Persib, pidato presiden, kopdes di ujung hutan, iklan judol, hingga konflik antar ormas melalui ibu jari.

Setiap konten memaksa otak untuk berpindah dari satu konteks ke konteks lainnya. Akibatnya, muncul ilusi bahwa kita mengetahui segalanya. Padahal pengetahuan sejati mesti ditempuh melalui proses yang lambat: membaca, merenung, menghubungkan gagasan, lalu mengujinya kembali. Sementara, media sosial sering kali tidak memberikan jeda untuk untuk mengolah informasi lebih dalam.

Barangkali, hasil dari scrolling yang kita kumpulkan selama ini berjam-jam bukan pengetahuan, melainkan hanya kumpulan Attention residue yang terus menempel tanpa pernah dipahami lebih dalam.

Membaca Buku adalah Obat Paling Manjur

Yappp, inilah salah satu solusi yang masih bisa kita upayakan. Membaca buku-buku fisik tanpa tergganggu distraksi notifikasi media sosial. Nicholas Carr, dalam buku The Shallows: What the Internet is Doing to our brain menuturkan membaca buku-buku tebal melatih otak kita untuk deep reading.

- Advertisement -

Membaca buku menawarkan konsentrasi, kontemplasi, dan pemahaman mendalam di tengah banjirnya informasi yang minim akan kedalaman. Tantangan terbesar manusia modern bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kemampuan untuk memahami sebuah pengetahuan secara mendalam.

Suni Subagja
Suni Subagja
Masyarakat sipil
Facebook Comment
- Advertisement -