Senin, April 19, 2021

Gong Xi Fa Chai dalam Perspektif Islam

Prabowo yang Segarang Harimau atau Jokowi yang Secerdik Rubah?

Klimaks suasana politik perhelatan pilpres 2019 semakin terasa membuat kita gerah, makna politik sabagai entitas paling mulia dalam mengangkat derajad manusia yang berkeadilan, bertanggung...

Sistem Zonasi PPDB dan Siasat Miskinisasi

Dunia pendidikan kita lagi-lagi mengalami persoalan rumit dan krusial. Sistem pendidikan nasional yang menjadi salah satu landasan utama untuk mendidik manusia-manusia Indonesia berkualitas di...

Metamorfosis Keistimewaan Yogyakarta

Perubahan tagline dari Jogja Never Ending Asia menjadi “ Jogja Istimewa” yang sempat diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam rapar...

Apakah Golput Alternatif Pemilu 2019?

Bola panas isu Golput dalam pemilu 2019 yang bergulir sebelum pencalonan Capres-Cawapres semakin menguat terutama dari para aktivis Hak Asasi Manusia. Terlebih isu golput...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Etnis China di seluruh dunia, termasuk Indonesia hari ini sedang merayakan Tahun Baru Imlek 2018. Umumnya, saat Imlek, hampir seluruh etnis China  menyampaikan ucapan salam Gong Xi Fa Chai  yang diartikan sebagai “Selamat Tahun Baru China”.

Padahal, arti Gong Xi Fa Chai adalah “Selamat dan Semoga Sejahtera”. Salah mengartikan ucapan salam itu, sebenarnya sudah terjadi secara turun-menurun dalam kehidupan sehari-hari orang-orang China.

Masyarakat muslim juga pernah mengalami kesalahan dalam mengartikan ucapan Minal Aidizin wal Faidzin sebagai “Mohon Maaf Lahir dan Batin” saat hari raya Idul Fitri. Padahal, arti Minal Aidzin wal Faidzin adalah “Orang-orang yang kembali dan beruntung”.

Terlepas dari kesalahan mengartikan kedua ucapan di atas, ada satu pertanyaan penting yang menarik untuk dikupas yaitu bagaimana perspektif Islam memahami Gong Xi Fa Chai dalam Tahun Baru Imlek?

Di Indonesia, Tahun Baru Imlek identik dengan bagi-bagi angpaw, kue keranjang yang mirip dengan dodol, tarian barongsai dan lampu lampion. Dalam tataran filosofis, bagi-bagi angpaw bermakna sebagai berbagi rezeki kepada sesama. Dalam terminologi Islam ada yang namanya sedekah dan zakat.

Keberadaan kue keranjang juga identik dengan ketupat lebaran. Jadi, antara kue keranjang dan ketupat lebaran sama-sama sebagai bentuk tradisi atau kebudayaan. Tarian barongsai dan lampu lampion, bagi etnis China menyimbolkan rasa syukur kepada Tuhan karena diberikan keselamatan dan kemenangan dalam mengalahkan binatang buas ‘Nian’ yang dalam tradisi China, digambarkan sebagai naga raksasa yang akan memangsa anak-anak etnis China  dalam setiap Tahun Baru Imlek.

Hal yang hampir sama juga terjadi dalam perayaan Idul Fitri, yaitu tradisi memukul bedug dan bertakbir sepanjang malam yang dimaknai sebagai rasa syukur kepada Tuhan, karena umat muslim berhasil melalui ujian ibadah puasa Ramadhan. Tradisi Tahun Baru imlek dan perayaan Idul Fitri, memang berbeda secara fisik, namun memiliki makna yang hampir sama yaitu saling berbagi rezeki dan berhasil meraih kemenangan.

Ucapan Gong Xi Fa Chai, mengandung makna positif  yang bersifat universal. Artinya, semua etnis dalam berbagai agama akan saling mendoakan dan memberikan ucapan “Selamat dan Semoga Sejahtera” pada saat hari raya keagamaan, saat tahun baru atau di hari-hari biasa.  Namun, cara mengungkapkan ucapan salamnya, tentu disesuaikan dengan budaya etnik dan ajaran agama masing-masing.

Dalam perspektif Islam, ucapan ‘Gong Xi Fa Chai’ pada Tahun Baru Imlek memiliki kedekatan makna dengan kata ‘kesucian /Fitri’ dalam perayaan Idul Fitri. Dalam ajaran Islam, kesucian akan membawa seseorang menuju ‘keselamatan dan kesejahteraan’ di dunia dan akherat.

Jadi, dalam perspektif Islam ‘Gong Xi Fa Chai’  jelas memiliki makna sosial yang hampir mendekati nilai-nilai spiritual keagamaan secara umum. Makna lainnya yang juga sangat penting ialah seluruh etnis China mewujudkan rasa syukurnya kepada Tuhan di Tahun Baru Imlek dengan sembahyang atau berdoa di kelenteng. “Selamat Tahun baru Imlek, Gong Xi Fa Chai”.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tadarus Etika: Konsep, Kerja, dan Tunjang

Allah memperkenankan kita bertemu sekali lagi dengan bulan suci umat Islam, Ramadan 1442 H. Kian tahun kebutuhan manusia akan etika semakin kuat. Integritas melangka:...

Belajar di Sekolah Kembali? Mari Kurangi Kekhawatiran Kita

Pemerintah Indonesia berencana membuka sekolah lagi di bulan Juli 2021. Ini kabar menggembirakan, mengingat bahwa bagi beberapa anak, pendidikan adalah satu-satunya jalan keluar dari...

Terorisme Akan Selalu Dapat Tempat Jika Tokoh Islam Masih Ada yang Denial

Berkali-kali sudah esktremisme kekerasan dan kejahatan terorisme terjadi di negeri kita, sejak Bom Bali yang terjadi pada tahuan 2000an sampai tahun ini. Namun sikap...

Kubur Kosong (Refleksi Iman atas Banjir Bandang di Leuwayan)

Minggu, 04 April 2021, umat Katolik sejagat merayakan hari raya Paskah. Paskah adalah peristiwa kebangkitan. Karena itu merayakan Paskah berarti merayakan kemenangan Kristus atas...

Simbol Agama dalam Aksi Teroris

Di Indonesia dalam beberapa hari ini marak terjadi penyerangan oknum yang tidak bertanggung jawab pada wilayah agama dan kepolisian. Agama merupakan simbol kolektif dari...

ARTIKEL TERPOPULER

Masa Depan Peradaban Islam dalam Pandangan Ziauddin Sardar

Masa depan peradaban Islam dalam banyak tulisan selalu dikaitkan dengan ide kebangkitan Islam yang telah dimulai sejak abad ke-18 yang lalu. Meskipun sudah kurang lebih...

Kegiatan Di Bulan Suci Ramadhan Sesuai Pancasila

Indahnya bulan suci ramadhan tahun ini disambut suka cita oleh seluruh umat Islam dari Indonesia, luar negeri dan seluruh dunia setiap tahun. Dari hasil...

Definisi Kekuatan: Hard Power dan Soft Power

Konsep Dasar Power Kekuatan atau power dalam ilmu Hubungan Internasional adalah elemen utama, terutama dalam kaca mata realisme, Morgenthau menjelaskan bahwa perilaku negara pada dasarnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.