Sosial media adalah ladang permainan yang sangat menyenangkan. Semua orang yang memiliki akses mempunyai kesempatan yang sama untuk berkomentar mengenai pendapat dan sudut pandangnya secara bebas. Tapi apakah kebebasan semu ini memang nyata tanpa adanya efek berkelanjutan? Apakah ilusi kebebasan ini memang sebebas itu dapat diutarakan oleh siapa saja? Dari seorang anak kecil yang dapat memaki maki orang tua, sampai presiden yang memaki maki rakyat? Atau hanya kelompok tertentu saja yang dapat menggunakan kebebasan ini? Mari kita bahas.
Niat dan Persepsi
Keseruan ladang bermain dalam sosial media ada karena seolah kita dekat secara emosi tapi berjarak dalam kenyataan, setidaknya ini menciptakan ruang dimana seseorang mengutarakan emosinya dan merasa aman secara fisik. Niat awal seringkali muncul karena adanya rasa aman entah sungguhan atau semu belaka. Di sinilah kacamata setiap pemain sosial media mulai bergeser
Seorang anak kecil yang memainkan peran berkata kotor atau sekedar asbun merasa aman dan tidak akan mendapatkan ganjaran secara langsung atau fisik. Adapun pemeran orang dengan jabatan merasa aman akan gejolak amarah rakyat yang keluar karena mulutnya yang tidak berhati-hati ketika berpidato. Sayangnya keduanya dijamin aman ketika di dalam benaknya saja. Apakah harus menunggu orang datang untuk memberi ganjaran? Apakah harus menunggu amarah rakyat sampai memuncak?
Sayangnya ketika hal tersebut sudah bergulir pada sosial media semua respon akan sangat mungkin terjadi. Dan kenapa harus menggeser dari topik prinsipal ke topik norma? Bukankah menolong nyawa orang lebih penting meskipun sang penolong hanya memakai celana dalam?
Emosi Pada Pandangan Pertama
Manusia seringkali memahami visual lebih cepat daripada informasi yang lain, dan seperti inilah memang cara otak bekerja. Dengan bahasa yang mudah secara visual, sesuatu yang kontras paling cepat menarik mata misalnya setitik tinta hitam di atas kertas putih dan informasi detail baru datang setelahnya.
Di sinilah menilai attitude menjadi instan, cukup dengan mendengar sekilas, melihat sekilas tanpa cek fakta, cek ulang, karena menjadi hakim magang bagian tata krama lebih hemat energi dibanding detektif kebenaran.
Norma juga lekat dengan sifat karet. Saat pejabat bicara keras, publik menyebutnya ‘tegas’. Tapi saat rakyat kecil bicara keras, publik menyebutnya ‘kurang ajar’. Ini menunjukkan bahwa yang kita jaga sebenarnya bukan kesopanan, melainkan status sosial dan kekuasaan.
Itulah kenapa bergeser ke norma atau menggeserkan ke norma pada suatu persoalan menjadi menyenangkan karena lebih mudah, lebih cepat, serta lebih tidak mendasar karena persoalan intinya berada di bagian prinsip. Memang memakai celana dalam saja ke tempat publik melanggar norma, namun konteks intinya jauh lebih dalam seberapa berharganya satu nyawa manusia yang harus dilindungi.
Lalu, apakah kita hanya bisa pasrah menjadi hakim magang yang malas? Tentu tidak. Ada yang bisa kita ubah, karena kita semua pemeran dalam dunia film berjudul sosial media ini.
Skrip Untuk Semua Aktor
Teruntuk kamu, entah kamu benar-benar anak kecil atau hanya sifat kekanakanmu yang muncul. Peran kamu adalah bagaimana caranya memahami bahwa apapun yang keluar dan bergulir nantinya di sosial media memiliki potensi yang sama untuk ganjaran pertanggung jawaban, dari sekadar kolom komentar, teguran orang terdekat, teguran orang asing, bahkan amukan rakyat. Berbijaksanalah selayaknya orang yang akan menyelamatkan nyawa satu orang, karena orang itu tidak lain adalah dirimu sendiri.
Teruntuk pemeran pembaca, pahami sejenak setiap apa yang kamu konsumsi dalam film ini, warna api memang menarik bahkan banyak warnanya. Tapi coba lihatlah ia sebagaimana api yang sudah sepantasnya panas dan membakar. Jangan sampai api itu menghilangkan nyawa, karena nyawa tidak tergantikan meskipun satu. Jadi, sebelum jari mengetik komentar, tahan dulu. Tanyakan: ‘Apa yang sedang aku lawan? Caranya, atau isinya?’
Penutup
Pada akhirnya sosial media bagaikan sebuah film, ia akan berakhir sesuai durasinya. Bisa ketika kita menutup ponsel atau ketika kita tidur dan bisa saja saat kita kembali pada kegiatan harian masing-masing. Menarik atau tidaknya film ini bergantung pada aktor dan seberapa profesional kita memainkan peran yang kita pilih sendiri. Tingkat tertinggi seorang aktor adalah ketika ia mampu bermain tanpa mengorbankan aktor lain, apalagi sampai membunuh mereka, baik secara fisik maupun masa depannya. Karena di panggung bernama sosial media ini, setiap nyawa yang tersakiti bukanlah adegan yang bisa diulang.
