Purbaya, Rupiah, dan Nahkoda

Edy Suhardono
Edy Suhardono
Dr. Edy Suhardono, M.Psi. Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Buku terbarunya berjudul “Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasi di Era Transformasi Sosio-Digital” (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025) dan buku yang ia tulis bersama Audifax berjudul “Membaca Identitas: Multirealitas dan Reinterpretasi Identitas, Suatu Tinjauan Filsafat dan Psikologi” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2023). Ia juga penggagas SoalSial.com.
- Advertisement -

Ketika IMF dalam Article IV Consultation Indonesia (2025) masih memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen dan Bank Indonesia mencatat cadangan devisa tetap berada pada level aman, saya justru melihat sebuah paradoks yang lebih menarik daripada angka-angka itu sendiri: sering kali yang lebih dahulu limbung bukan ekonomi, melainkan kepercayaan terhadap orang yang memegang kemudi. Di negeri yang gemar membaca simbol, pergantian pejabat ekonomi kerap ditafsirkan seperti pergantian nahkoda ketika kapal masih tampak utuh dari kejauhan.

Karena itu, lengsernya Purbaya Yudhi Sadewa tidak layak dibaca sebagai sekadar pergantian teknokrat. Peristiwa ini membuka kembali pertanyaan klasik yang selalu muncul di setiap tikungan sejarah ekonomi: apakah negara masih terlihat memegang kendali atas arah perjalanannya sendiri?

Saya melihat polemik seputar penempatan dana pemerintah sekitar Rp200 triliun di perbankan nasional bukan sebagai jantung persoalan. Yang jauh lebih menentukan justru persepsi publik mengenai apakah seluruh otoritas ekonomi sedang berlayar menuju pelabuhan yang sama atau masing-masing sedang membaca peta yang berbeda.

Di sinilah banyak analisis ekonomi sering terjebak pada angka. Padahal mata uang modern tidak hanya ditopang cadangan devisa, suku bunga, rasio utang, atau neraca perdagangan, melainkan juga oleh sesuatu yang jauh lebih rapuh sekaligus lebih kuat: kepercayaan kolektif.

Pemenang Nobel Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow (2011) menunjukkan bahwa manusia mengambil keputusan bukan semata berdasarkan fakta objektif, melainkan berdasarkan persepsi terhadap risiko. Ketika persepsi itu terganggu, data yang sehat dapat tampak mengkhawatirkan, sementara kabar biasa dapat berubah menjadi alarm kepanikan.

Saya sering merasa pasar keuangan menyerupai kawanan burung jalak. Bukan burung pertama yang menentukan arah terbang, melainkan keyakinan bersama bahwa seluruh kawanan masih bergerak ke tujuan yang sama.

Karena itu, pelemahan rupiah tidak selalu dimulai dari memburuknya fundamental ekonomi. Sering kali ia diawali oleh memudarnya keyakinan bahwa risiko masih bisa diperkirakan dan bahwa pemerintah mempunyai peta yang jelas di tengah kabut ketidakpastian.

Data mutakhir sebenarnya belum menunjukkan fondasi yang retak. IMF masih memperkirakan pertumbuhan Indonesia sebesar 5,0 persen pada 2025 dan 5,1 persen pada 2026, sementara Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa berada pada tingkat yang setara lebih dari enam bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional.

Namun sejarah ekonomi mengajarkan pelajaran yang nyaris selalu sama. Pasar lebih takut pada ketidakjelasan daripada pada kabar buruk.

Berita buruk masih dapat dihitung. Ketidakpastian arah tidak memiliki kalkulator.

- Advertisement -

Di sinilah harga sebuah narasi menjadi lebih mahal daripada harga sebuah kebijakan. Ketika pemerintah berbicara tentang percepatan pertumbuhan, hilirisasi, perluasan program sosial, penguatan peran negara, disiplin fiskal, dan stabilitas rupiah dalam saat yang bersamaan, publik akhirnya tidak hanya mendengar optimisme, tetapi juga kebingungan.

Ambisi tentu diperlukan. Tetapi ambisi tanpa hierarki prioritas sering menyerupai kisah Ikarus dalam mitologi Yunani yang ingin terbang mendekati matahari dengan sayap yang belum sepenuhnya siap menanggung beban.

World Bank dalam Indonesia Economic Prospects (2025) menyebut ekonomi Indonesia tetap tangguh menghadapi ketidakpastian global. Namun laporan yang sama juga mengingatkan pentingnya menjaga kualitas institusi, kredibilitas kebijakan, dan kepercayaan pelaku ekonomi agar resiliensi tersebut dapat dipertahankan.

Di titik ini, saya melihat pergantian Purbaya memperoleh makna simbolik yang jauh lebih besar daripada substansi jabatan itu sendiri. Masyarakat tidak sedang membaca nama yang keluar atau nama yang masuk, melainkan sedang berusaha memahami pesan apa yang hendak disampaikan negara tentang kondisi ekonomi yang sedang dihadapi.

Pengganti dapat berganti. Strategi dapat diperbarui.

Tetapi kepercayaan tidak lahir dari pergantian nama di papan struktur organisasi. Kepercayaan lahir dari konsistensi tujuan, kesinambungan arah, dan keberanian menjelaskan kenyataan tanpa membuat publik menebak-nebak maksud sebenarnya.

Dalam perspektif psikologi politik, masyarakat sesungguhnya tidak membeli rupiah setiap kali mereka menabung, menerima gaji, atau melakukan transaksi. Yang mereka beli adalah keyakinan bahwa Indonesia masih memiliki masa depan yang dapat diprediksi dengan akal sehat dan institusi yang bekerja secara selaras.

Karena itu, tantangan terbesar setelah lengsernya Purbaya bukan sekadar menjaga defisit, menenangkan pasar, atau mempertahankan kurs. Tantangan yang sesungguhnya adalah memastikan negara berbicara dalam satu suara ketika dunia sedang dipenuhi gema ketidakpastian.

Sebab pada akhirnya rupiah bukan hanya perkara mata uang. Rupiah adalah cermin yang memantulkan pertarungan abadi antara harapan dan ketakutan dalam pikiran masyarakat.

Dan bila sebuah bangsa pada akhirnya hidup bukan hanya oleh uang, melainkan oleh kepercayaan terhadap arah perjalanannya, ketika Purbaya turun dari geladak dan kapal bernama Indonesia memasuki tikungan berikutnya, sudahkah kita benar-benar yakin bahwa nahkoda yang memegang kemudi juga memegang peta yang sama?

Edy Suhardono
Edy Suhardono
Dr. Edy Suhardono, M.Psi. Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Buku terbarunya berjudul “Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasi di Era Transformasi Sosio-Digital” (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025) dan buku yang ia tulis bersama Audifax berjudul “Membaca Identitas: Multirealitas dan Reinterpretasi Identitas, Suatu Tinjauan Filsafat dan Psikologi” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2023). Ia juga penggagas SoalSial.com.
Facebook Comment
- Advertisement -