Ketika nama Sri Mulyani Indrawati terdengar bergema sebagai simbol reformasi keuangan negara, nama Purbaya Yudhi Sadewa kini mencuat sebagai sosok yang berani melanjutkan jejak keterbukaan yang tak selalu disukai banyak pihak. Namun keberanian itu ternyata membawa akibat. Keputusan Presiden Prabowo Subianto secara resmi mencopot Purbaya Yudhi Sadewa dari jabatan Menteri Keuangan dan menempatkan Suahasil Nazara sebagai penggantinya bukan sekadar pergantian pejabat rutin. Peristiwa ini memunculkan serangkaian pertanyaan yang menggantung di udara, serta kejanggalan yang sulit disembunyikan di balik kalimat resmi istana.
Peristiwa ini beriringan dengan pertanyaan yang muncul dari para wartawan: apakah pergantian ini berkaitan dengan temuan yang disampaikan Purbaya sendiri, terkait 40 pabrik baja milik perusahaan asal Tiongkok yang diduga membayar pajak hanya separuh dari kewajibannya, serta aliran dana mencapai 120 triliun rupiah yang bersumber dari pengelolaan Danantara? Pertanyaan itu tidak dijawab secara tegas oleh pihak istana, namun ketidaktanggapan itu sendiri seolah menjadi jawaban yang paling jujur. Kejelian publik tertuju pada satu hal, yaitu hal-hal yang mulai disibak oleh Purbaya Yudhi Sadewa belum selesai diungkap sepenuhnya, dan tiba-tiba ia tidak lagi memegang kendali atas lembaran-lembaran itu.
Ketenangan yang Mengandung Pesan
Yang menarik perhatian bukan sekadar fakta pencopotan itu sendiri, melainkan sikap Purbaya saat berita itu disampaikan. Ia tidak tampak gundah, tidak menampakkan wajah kecewa atau marah sebagaimana yang kerap terlihat dari pejabat yang kehilangan kursi kekuasaan. Di hadapan sejumlah orang, ia justru berkelakar bahwa akhirnya bisa kembali memancing di kolam belakang rumahnya. Kalimat itu terdengar sederhana, hampir sepele, namun sarat makna. Ia adalah pernyataan pelepasan diri dari beban yang jauh lebih berat daripada sekadar jabatan, yaitu beban menjaga kebenaran di tengah lingkungan yang belum tentu siap menerimanya.
Putranya pun menyampaikan hal serupa dengan tulus, bahwa akhirnya ayahnya bisa tidur nyenyak. Ucapan anak itu bukan sekadar ungkapan kelegaan pribadi. Ia adalah pengakuan bahwa selama menjabat, ayahnya memikul beban yang membuat tidur pun tak tenang, beban karena memegang teguh prinsip di tempat di mana kompromi kerap dianggap sebagai jalan termudah.
Kejujuran yang Belum Dihargai
Di sinilah letak keprihatinan yang mendalam. Sebagai penulis, saya melihat bahwa negeri ini ternyata belum sepenuhnya siap menerima menteri yang jujur, yang berani membuka borok di laci-laci keuangan negara, yang tidak menutup mata pada nama-nama besar, dan yang memandang kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok. Purbaya Yudhi Sadewa bukan orang yang mencari musuh, melainkan orang yang berani menyebut fakta apa adanya. Dan di negeri yang masih terbiasa menutup-nutupi keburukan bersama, kejujuran semacam itu kerap dianggap ancaman, bukan jasa. Ia digantikan bukan karena gagal bekerja, melainkan karena bekerja terlalu jujur, mengungkap hal-hal yang seharusnya tersembunyi agar arus kekuasaan tetap berjalan tanpa gangguan.
Ujian Bagi Pengganti
Kini pandangan publik tertuju pada sosok penggantinya, Suahasil Nazara. Harapan yang muncul tentu adalah agar ia memiliki keberanian dan ketegasan yang setara, bahkan melampaui pendahulunya. Namun pertanyaan yang tak bisa dielakkan tetap mengemuka. Apakah ia akan melanjutkan pengusutan yang telah dimulai, atau justru menarik benang yang sudah terurai? Apakah ia akan berdiri tegak di atas kepentingan rakyat, atau justru mengamankan mereka yang selama ini menjadi koruptor dan mafia yang menggerogoti harta negara? Di sinilah ujian sesungguhnya diletakkan di pundak menteri yang baru.
Pergantian ini mengingatkan kita pada satu kenyataan pahit, bahwa di antara kita masih ada yang menganggap pengungkapan kebenaran sebagai gangguan, dan perlindungan terhadap pelanggaran sebagai keteraturan. Jika Suahasil Nazara memilih jalan yang berbeda, jalan yang menutup kasus yang sedang berjalan, yang melunak pada mereka yang berkuasa, yang membiarkan 120 triliun serta pajak yang belum terbayarkan berlalu begitu saja, maka pencopotan Purbaya bukan sekadar pergantian pejabat, melainkan kemunduran bagi seluruh bangsa.
Namun jika sebaliknya, Suahasil berani melanjutkan apa yang telah dimulai, memeriksa setiap nama tanpa pandang bulu, menuntut setiap kewajiban yang belum dipenuhi, dan menempatkan kepentingan rakyat di posisi paling depan, maka Purbaya telah pergi bukan dengan sia-sia. Ia telah menanamkan benih keberanian yang akan tumbuh meski tidak ditanam di tangan yang sama.
Penutup
Kembali ke kolam pancingnya, Purbaya Yudhi Sadewa mungkin kini lebih tenang daripada mereka yang duduk di kursi kekuasaan dengan rasa bersalah yang tak terkatakan. Ia bisa tidur nyenyak bukan karena lepas dari tanggung jawab, melainkan karena ia menjalankannya dengan jujur selama ia diberi kesempatan. Sementara itu, bagi kita yang masih memperhatikan jalannya peristiwa, pertanyaannya tetap sama.
Apakah negeri ini akan belajar menghargai orang jujur sebelum semuanya terlambat, atau akan terus membiarkan mereka yang berani bicara pergi memancing, sementara bangsa ini dibiarkan terperangkap dalam jaring yang tak pernah diurai? Jawabannya tidak hanya ada di tangan menteri yang baru, tetapi di tangan kita semua, apakah kita rela diam, atau berani terus bertanya hingga kebenaran itu akhirnya muncul ke permukaan.
