Minggu, Juli 14, 2024

Di Arafah Menembus Langit Allah

Fase puncak haji kini telah berakhir. Puncak Haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) dimulai sejak 9 Zulhijjah 1443 H atau 8 Juli 2022, berakhir 13 Dzulhijjah atau 12 Juli 2022. Ya, perjuangan puncak haji di Armuzna meninggalkan banyak rasa dan cerita bagi jemaah haji dan petugas haji Indonesia. Perjuangan tamu-tamu Allah untuk meraih haji mabrur, sehat, dan berkah.

Saat di Arafah, menurut Konsultan Ibadah Haji Daker Makkah, Prof. Aswadi Syuhadak, jemaah memanfaatkan waktu wukuf dengan sebaik-baiknya, apalagi wukuf kali ini berlangsung pada hari Jum’at. Jemaah memperbanyak dzikir dan doa, karena berdoa saat di Arafah mustajab. Arafah ini adalah waktu mustajabah, apalagi wukuf di Arafah bertepatan dengan hari Jumat. Hari Jumat adalah sayyidul ayyam, adalah pemimpin hari-hari dan Arafah adalah lambang “maqam ma`rifah billah” yang memberikan rasa dan citra bahagia.

Bus rombongan yang ditumpangi jemaah dari kloter 6 embarkasi Lombok (LOP 6) dan Jakarta – Pondok Gede (JKG 29) pertama tiba di Arafah (7/2/2022). Para jemaah memasuki tenda, duduk di atas kasur masing-masing sambil melantunkan talbiyah. “Labbaik… Allahumma Labbaik. Labbaika laa syariika laka labbaik…” talbiyah yang tulus berharap berkah ilahi masuk ke dalam tenda-tenda jemaah di Arafah.

KH Wazir Ali mengatakan, Arafah sebagai hari teramat mulia. Allah mengabulkan doa yang dipanjatkan hamba-Nya. Tanah Arafah diimpikan berjuta umat Islam di seluruh dunia. Tanah yang pada hari ini, Allah janjikan untuk menjauhkan kita dari api neraka

Menurutnya, Rasul bersabda, “Tidaklah Allah membebaskan hamba-hambaNya dari neraka melebihi ketika Hari Arafah.” Lantas, siapa yang Allah pilih diampuni dosa-dosanya? Rasul bersabda, “Barangsiapa yang berhaji ke Baitullah dan tidak berbuat haram dan dosa, niscaya keluarlah ia dari segala dosanya seperti hari ketika ia dilahirkan.”

Pengalaman luar biasa di Arafah dirasakan anggota Media Center Haji (MCH) Sobih AW Adnan, kata Sobih, benar sudah apa yang disampaikan para ulama, di Arafah adalah tempat yang tak berjarak dengan Allah ketika kita banyak ibadah dan berdoa di sana.

“Saya merasakan itu benar, Arafah tempat di mana ketika berdoa saya merasa percaya diri, mantap, dan serasa tak berjarak dengan Allah. Atmosfir berdoa di padang arafah nikmat luar biasa, serasa doa saya langsung menembus langit Allah, tak ada yang menghambat” ungkap Sobih.

Selain itu, beberapa jemaah melakukan safari wukuf Arafah. MD (inisial) misalnya, merasa senang dan plong bisa ikut safari wukuf. Dia merasa, sakit yang dideranya adalah bentuk kasih sayang Allah.

“Yang saya rasakan, ini adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap saya melalui perantaraan tenaga kesehatan,” ujarnya usai mengikuti safari wukuf di Arafah, Jumat (8/7/2022).

Dia mengaku banyak memanjatkan doa, terutama yang menyangkut urusan pribadi. Jemaah 64 tahun asal Sulawesi Salatan ini menyinggung masalah taubat. Dia merasa mendapat kasih sayang sekaligus ujian atas dosa yang pernah dibuatnya.

Di Arafah, penulis Geotimes, Ahmad Hifni dalam tulisan “Haji dan Cara Tuhan Memperbarui Masyarakat” menuliskan, ada drama yang sangat mengharukan ketika sang haji berdiam diri atau setidaknya hadir di Arafah sejak matahari tergelincir pada 9 Dzulhijjah sampai terbit fajar 10 Dzulhijjah. Sang haji merenungi makna cinta di sana. Karena Arafah adalah cahaya Ilahi sebagai percikan pertama dari cinta yang memancar dalam perjumpaah antara Adam dan Hawa.

Di Arafah, Adam dan Hawa terdorong untuk saling memahami, menerima, berkomitmen hingga melahirkan anak-cucunya. Arafah adalah keadaan pikiran yang jauh dari penyimpangan dan penyakit. Betapa indah dan menakjubkan Arafah, sebuah kesadaran yang lahir dari kesucian Cinta.

Ya, wukuf di Arafah, merupakan tempat utama merasakan pengalaman transendental bagi jemaah haji. Fathorrahman Ghufron, Wakil Katib Syuriyah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta, pernah menulis di kolom Geotimes, dengan merujuk pemikiran Ali Syari’ati dalam buku Makna Haji— kesadaran transedental merupakan kepulangan manusia kepada Allah yang melampaui batas-batas materiil apa pun dan tidak diserupakan oleh sesuatu apa pun yang bersifat temporal.

Uraian Ali Syariati tersebut memberikan penjelasan kepada kita, ketika kita mendeklarasikan diri untuk menghadap Allah, maka sepatutnya kita menghadirkan segala sesuatu yang terbaik dari diri kita meliputi berbagai cara dan proses yang diridlai. Tidak sepatutnya dalam proses kepulangan menuju Allah ini masih dipahami sebagai peneguhan identitas kedirian yang bersifat materiil. (DKA-MCH2022)

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.