Dari Lapangan Upacara hingga Kapal Guru, Hardiknas bersama Wamen Fajar di Kapuas

- Advertisement -

Upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, berlangsung dengan skala besar, Sabtu (2/5/2026). Namun, peringatan tahun ini tidak berhenti pada seremoni. Pemerintah memanfaatkannya sebagai momentum memperkuat akses pendidikan, terutama bagi wilayah pesisir yang selama ini sulit dijangkau.

Sekitar 7.000 peserta—terdiri dari pelajar, guru, tenaga kependidikan, hingga unsur pemerintah daerah—memadati Stadion Panunjung Tarung, Kuala Kapuas. Upacara yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Otonomi Daerah itu menegaskan pentingnya peran daerah dalam memastikan layanan pendidikan menjangkau seluruh warga.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq dalam arahannya menekankan, Hardiknas harus dimaknai sebagai titik konsolidasi, bukan sekadar agenda tahunan. “Tidak boleh ada satu pun anak di Kapuas yang tertinggal. Pendidikan harus menjadi jalan mobilitas sosial dan kemajuan daerah,” ujarnya.

Pernyataan itu berangkat dari kondisi riil pendidikan di Kapuas. Indeks Standar Pelayanan Minimal (SPM) daerah ini tercatat 64,71 atau berada pada kategori “Tuntas Muda”. “Artinya, capaian layanan dasar sudah berada di jalur yang benar, tetapi masih memerlukan percepatan, terutama pada aspek literasi, numerasi, dan kualitas pembelajaran.”

Selepas upacara, pemerintah daerah bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan Program Pendidikan Hebat Kapuas Bersinar. Program ini menitikberatkan pada penggunaan data sebagai dasar kebijakan, sekaligus memperkuat intervensi pada sekolah-sekolah dengan capaian rendah.

Simbol konkret dari upaya memperluas akses itu tampak beberapa jam kemudian. Di kawasan kafe terapung di tepian Sungai Kapuas, pemerintah meluncurkan kapal pengangkut guru pesisir. Kapal ini dirancang untuk mengantar para guru menuju sekolah-sekolah di wilayah yang sulit dijangkau jalur darat.

Kapal tersebut, yang telah diuji coba selama dua pekan, diharapkan menjadi solusi atas kendala distribusi tenaga pendidik di wilayah perairan. Peluncuran dilakukan secara simbolis dengan pengibaran bendera oleh Wakil Menteri bersama pemerintah daerah. “Ini bukan sekadar kapal. Ini adalah jembatan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah pesisir. Negara harus memastikan guru bisa hadir di mana pun anak-anak berada,” ujar Wamen Fajar.

Menurut Fajar, tantangan geografis seperti di Kapuas tidak boleh menjadi alasan stagnasi layanan pendidikan. “Kalau aksesnya sulit, maka kebijakannya harus adaptif. Pendidikan tidak boleh menunggu kondisi ideal,” katanya.

Di sisi lain, ia juga menyoroti tantangan struktural yang masih dihadapi daerah, mulai dari pemanfaatan data yang belum optimal hingga perencanaan sekolah yang masih bersifat administratif. “Tanpa perencanaan berbasis data, peningkatan mutu akan berjalan lambat dan tidak tepat sasaran,” ujarnya.

Hardiknas di Kapuas tahun ini, dengan demikian, memperlihatkan arah baru: pendidikan tidak lagi hanya dibicarakan di ruang kebijakan, tetapi diuji langsung di lapangan—bahkan hingga ke sungai.

- Advertisement -

Dari lapangan upacara hingga peluncuran kapal guru, pesan yang ingin ditegaskan sederhana namun mendasar: pemerataan pendidikan memerlukan keberanian untuk menjangkau yang selama ini tertinggal. “Transformasi pendidikan tidak bisa parsial. Ini kerja kolektif—pemerintah, guru, dan masyarakat. Dan kita harus bergerak lebih cepat,” pungkas Wamen Fajar

Facebook Comment
- Advertisement -