Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Ungkapan Destruktif

Suni Subagja
Suni Subagja
Masyarakat sipil
- Advertisement -

Wacana mengenai kelas sosial kerap digaungkan, terutama oleh para aktivis mahasiswa di taman-taman kampus. Kemiskinan, bagi mereka, bukan semata-mata soal nasib. Ia lahir, tumbuh, dan berkembang karena sistem timpang yang sering disebut sebagai kapitalisme. Dalam sistem ini, yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Banyak tokoh dan pemikir yang menaruh perhatian pada isu ketimpangan ini. Namun di sisi lain, ada hal yang jarang disentuh, seakan-akan sudah menjadi kesepakatan umum: ungkapan, “uang tidak bisa membeli kebahagiaan.” Bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar seperti pembelaan diri, cara orang miskin agar tetap terlihat bahagia di tengah keterbatasan.

Saya pun pernah berpikir demikian. Dulu, saya merasa uang bukanlah hal yang penting, mungkin karena saya hidup dengan jumlah uang yang sedikit. Pandangan itu mulai bergeser ketika saya lapar, ketika motor saya kehabisan bensin, atau ketika muncul notifikasi: “Kuota internet Anda tersisa 100 MB.” Saat itu saya sadar, uang memang tidak segalanya, tapi tanpa uang segalanya bisa terasa lebih sulit.

Lalu, benarkah uang bisa membeli kebahagiaan? Jawabannya: tidak, jika uang hanya digunakan untuk kepentingan pribadi. Namun berbeda ceritanya ketika uang itu kita berikan kepada orang lain, baik dalam bentuk bantuan langsung maupun barang yang dibeli untuk mereka.

Sejumlah riset psikologi sosial menunjukkan bahwa memberi, entah berupa uang atau benda, justru meningkatkan rasa bahagia bagi si pemberi. Ada kepuasan batin yang muncul ketika kita bisa membantu orang lain, sekecil apa pun bentuknya.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menjadikan uang sebagai Tuhan, melainkan pengingat sederhana bahwa mengelola uang dengan bijak adalah bagian penting dari menjaga kebahagiaan dan keberlangsungan hidup.

Suni Subagja
Suni Subagja
Masyarakat sipil
Facebook Comment
- Advertisement -