Kadang sebagian orang yang keranjingan berat bermain di dunia maya sampai terperangkap di media sosial karena berita dan informasi hoaks. Seseorang seolah terkepung oleh opini di ruang digital, dimana semua konten yang tersaji di hadapan kita belum tentu layak dibaca dan ditonton.
Tapi, ada suasana lain yang tidak disangka-sangka membuat saya kurang nyaman. Kenapa? Begini, sekilas rasanya jadi korban hoaks yang mematikan. “Ini hoaks, bung.” Tiba-tiba seorang teman menyela berita dan informasi yang saya kirim di grup WhatsApp.
“Oh, ya sohib terima kasih atas sempritannya. Dengar-dengar heboh banget di X.”
“Hei bung, nggak usah cepat percaya, itu hoaks,” kata teman saya di grup WA.” “Masak, bung tidak sadar kalau konten berita itu cuma cari perhatian,” lanjut teman saya sambil meluruskan salah kaprah saya yang tidak ketulungan.
“Tobat saya, bung.” “Iya, saya sebenarnya juga ragu. “Tetaplah jeli dan ragu atas berita dan informasi di media, bung!”
“Usahakan hindari sebar berita dan informasi yang tidak jelas darimana sumbernya. Jangan ditelan bulat-bulat segala yang datang dari luar tanpa diperiksa kebenarannya,” ujar teman dengan mantap. “Terima kasih atas wejangannya, bung.”
“Syukurlah, bung yang ingatkan saya tentang hoaks. Kalau tidak dikoreksi, mungkin saya sudah sebar kemana-mana.”
Sebagai orang yang seperti tertimpa musibah bencana puting beliung, saya mungkin sudah entah bagaimana nasib saya. Tidak lama kemudian, saya menghapusnya di grup WA. Membagikan berita atau informasi tanpa cari tahu apa sudah benar dan bohong justru bisa memalukan itu sebenarnya membuat saya tertampar keras. Itu karena saya tidak waspada pada lini masa media sosial. Saya asal comot berita dan informasi yang bebas bergentayangan di media sosial, yang seharusnya saya lebih selektif dan hati-hati dalam memilih konten.
Alangkah telanjangnya, ketika saya mengutip sekelumit tentang metode keraguan ala Rene Descartes. Persisnya, keraguan pada hoaks.
“The first was never to accept anything for true which I did not clearly know to be such; that is to say, carefully to avoid precipitancy and prejudice, and to comprise nothing more in my judgement than what was presented to my mind so clearly and distinctly as to exclude all ground of doubt.” (A Discourse on Method, 1960 : 15)
(Yang pertama adalah tidak pernah menerima apa pun sebagai benar kecuali jika saya mengetahuinya secara jelas bahwa itu memang benar; maksudnya, berhati-hati agar tidak tergesa-gesa atau dipengaruhi oleh prasangka, dan tidak memasukkan apa pun ke dalam penilaian saya selain hal-hal yang disajikan kepada pikiran saya secara begitu jelas dan gamblang hingga tidak menyisakan sedikit pun alasan untuk meragukannya.)
Descartes percaya bahwa ketergesa-gesaan dan prasangka akan membawa kita pada pemahaman yang kabur dan membingungkan. Descartes juga menyatakan jika keraguan yang ditopang oleh akal mengantarkan kita pada kepastian, tanpa ilusi dan tentu saja tanpa berita atau informasi hoaks.
Sejak kejadian kemarin, saya mulai memilah dan memilih berita dan informasi yang tidak terpapar hoaks. Saya merasa terbebani berita hoaks. Saya seakan seperti berada di bawah timbunan debu yang bernama hoaks, sehingga membuat saya tidak mampu membedakan mana yang benar dan semu, asli dan palsu.
Meminjam dan menafsirkan pernyataan Descartes, “Saya berpikir, maka Saya ada” (Cogito ergo sum) menjadi sesuatu yang masih relevan dengan kalimat, seperti: “Saya ragu, maka hoaks sirna” “Saya kritis, maka tidak ada hoaks.”
Dari situlah, saya banyak menemukan pelajaran, betapa pentingnya keraguan atau kritisisme sebagai metode untuk menghajar berita dan informasi hoaks. Tidak heran, tiga tahun terakhir ini, menulis di media online tentang berbagai tema belum menyerempet sumber artikel berita yang ternyata hoaks. Jangan dikira konten yang tersusupi hoaks, yang mirip-mirip saja tidak pernah.
Maksudnya, tulisan saya yang di muat di media online jauh dari sumber referensi yang mengandung hoaks. Sudah cukup sering saya posting berita atau informasi di grup WA dan Facebook.
Sampai akhirnya, sebagaimana dikatakan sebelumnya, saya kena “getahnya” lantaran saya kirim informasi hoaks di grup WA. Terkait fenomena yang terjadi di dalam negeri kebanyakan berita yang aktual atau lagi trending topik di medsos, yang tidak bisa diutak-atik akibat melewati tahapan editan atau pemeriksaan konten berita dan informasi sebelum naik di media. Saya kira, hal demikian sudah lazim bahkan menjadi ritual persembahan teks tertulis.
Sejauh ini, hoaks bukan sekadar korban, perangkap, dan keluguan buta. Hoaks juga menyangkut tontonan dan pengakuan. Pihak yang sengaja membuat hoaks sebagai tontonan supaya pihak lain mengakui eksis atau tidak seseorang dan sesuatu yang lain di media.
Tidak heran, tarikan antara popularitas dan kepentingan tertentu itulah, maka beberapa pekan lalu Najwa Shihab sebagai figur publik menjadi sasaran permainan hoaks di media sosial. Saya hanya melongo campur heran di hadapan lini masa Facebook. “Kenapa muncul berita Mbak Najwa di media sosial yang tidak mengenakkan,” begitu gumanku.
Yang membuat saya tidak mengerti tentang foto Najwa Shihab ditangkap oleh polisi menjadi narasi yang tersebar di akun Facebook. Titik kekesalan itu karena Najwa Shihab seakan sebagai tersangka pelaku kejahatan saat suaminya telah berpulang ke haribaan-Nya.
Niatnya, mungkin sebatas narasi biasa malah membuat publik terheran-heran dan tidak masuk akal dengan narasi hoaks yang disebar di media sosial. Orang bisa saja ragu dengan narasi hoaks karena ada sesuatu yang menjanggal.
Hoaks sering menampilkan dirinya begitu meyakinkan ketika korban lengah dalam ketidakraguan dan ketidakhati-hatian untuk memilih yang mana berita akurat dan yang mana abal-abal. Daftar nama mungkin sudah lama digadang-gadang sebagai calon sasaran hoak di media sosial. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Adalah lucu dan menyebalkan saat ada berita hoaks yang menyebutkan bahwa Roy Suryo, Dokter Tifa (Tifauzia Tyassuma), dan Rismon Sianipar memakai baju tahanan digelandang ke Nusakambanhan yang diantar oleh Joko Widodo. Kita tahu, foto mereka yang beredar di media sosial terjadi saat lagi “panas-panasnya” polemik ijazah palsu mantan presiden Jokowi. Hoaks itu muncul dari keraguan kita di tengah campur-aduk kepentingan. Popularitas dalam ujian melalui hoaks.
Tentu, untuk dua kasus hoaks tidak cukup mewakili dari keseluruhan yang perlu ditangkal dengan metode keraguan dan kritisisme. Masih banyak hoaks dan mungkin di dunia maya sulit untuk menghindari hoaks. Kenapa?
Dunia maya adalah lahan empuk hoaks. Kita mustahil tidak sepi dari hoaks. Paling tidak hoaks ditepis dengan metode keraguan termasuk cek ulang berita dan informasi yang beredar di media sosial. Salah satu metode untuk menghajar hoaks, yaitu keraguan.
Keraguan metodis ala Descartes juga membentuk nalar kritis atau kritisisme pada hoaks bersinggungan dengan berita viral, dimana makna sudah tidak stabil dan tidak pasti. Hoaks menjadi semacam virus yang mematikan saat viral yang menjadi buruan pertama daripada konten berita.
