Dalam beberapa pekan terakhir dunia dibuat khawatir dengan pernyataan dan ambisi dari Presiden Amerika Donald Trump. Setelah sebelumnya dunia juga dikejutkan dengan aksi “Koboi” Amerika Serikat dengan menggunakan kekuatan militernya menyerang dan menculik seorang presiden yang sedang berkuasa di sebuah negara berdaulat di salah satu negara Amerika Latin. Tindakan yang dilakukan oleh Presiden Trump menimbulkan berbagai komentar, protes, kecaman, dan desakan untuk segera membebaskan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari tahanan.
Namun, semua itu tidak pernah digubris oleh Presiden Donald Trump, bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga tidak melakukan apa-apa atas tindakan yang telah dilakukan oleh Amerika terhadap suatu negara berdaulat. Belum selesai perdebatan mengenai betul tidak-nya tindakan yang dilakukan oleh Amerika menurut hukum internasional. Kini muncul lagi keinginan serta ambisi dari Presiden Donald Trump untuk mengambil alih salah satu pulau terbesar di dunia yang berada di Samudra Atlantik bagian utara.
Pulau tersebut bernama Greenland dan saat ini berada di bawah yurisdiksi Pemerintah Kerajaan Denmark. Greenland merupakan salah satu pulau terbesar di dunia yang saat ini dihuni oleh sekitar 58.000 populasi. Dengan luas wilayah mencapai 2,6 juta kilometer yang sebagian besar tertutup oleh gletser, salju, dan beberapa gunung. Di balik lanskap liar Greenland, tersimpan sumber daya alam yang begitu besar dan menunggu untuk dieksplorasi. Inilah salah satu alasan utama Presiden Donald Trump sangat ingin sekali mengambil alih Greenland, di samping alasan mengenai keamanan nasional, dan juga ancaman China beserta Rusia yang dikhawatirkan di kemudian hari akan menguasai Greenland.
Akan tetapi, rencana dari Presiden Donald Trump untuk mengambil alih Greenland dengan sepihak maupun dengan opsi pengerahan militer telah menimbulkan beberapa gejolak yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Berikut beberapa dampak geopolitik apabila Amerika benar-benar mewujudkan mimpinya untuk mengambil serta menguasai Greenland dengan cara politik maupun militer.
Terjadinya ketegangan antar sesama negara anggota NATO
- Tidak bisa dipungkiri, rencana dari Presiden Amerika untuk menguasai Greenland dan menjadikannya sebagai negara bagian Amerika telah memantik ketegangan antar sesama anggota NATO. Untuk pertama kalinya dalam sejarah sesama negara anggota NATO terjadi perselisihan yang bisa berujung pada eskalasi militer dan yang lebih buruk bubarnya aliansi NATO.
- Tanda-tanda awal ketegangan yang terjadi di dalam NATO terlihat dari dikirimnya pasukan Angkatan Darat Kerajaan Denmark ke Greenland untuk melakukan latihan rutin. Ini merupakan sinyal kuat dari Pemerintah Kerajaan Denmark bahwa Greenland tidak akan pernah diserahkan kepada Amerika. Langkah Pemerintah Kerajaan Denmark yang mengirim pasukan militer ke Greenland ternyata mendapat dukungan dari beberapa negara anggota NATO lainnya.
- Beberapa negara anggota NATO juga berencana akan mengirim pasukan militernya ke Greenland untuk melakukan latihan gabungan dengan militer Kerajaan Denmark. Negara seperti Prancis, Jerman, Swedia, dan Norwegia sudah menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan pasukan tempurnya ke Greenland. Bisa dipastikan tensi ketegangan antara Amerika selaku polisi dunia dengan beberapa negara anggota NATO akan semakin meningkat dalam waktu dekat.
- Jika jalur diplomasi untuk menyelesaikan masalah Greenland tertutup dan tidak menemukan jalan keluar, maka opsi yang tersisa adalah pengerahan militer dalam sekala besar. Jika nantinya opsi militer yang dipilih oleh Amerika untuk merebut Greenland, maka tidak lama lagi dunia akan berada di ambang Perang Dunia ketiga.
Terjadinya ketidakstabilan di kawasan Uni Eropa
- Semua bermula ketika Presiden Donuld Trump mengumumkan rencana serta keinginannya untuk mengambil alih Greenland dengan cara apa pun. Sejak saat itu ketegangan antara Amerika dan NATO mulai terlihat. Banyak para pengamat dan pakar yang mengkhawatirkan akan terjadinya perang terbuka antara Amerika melawan beberapa negara anggota NATO yang notabene mereka berada dalam satu aliansi di bawah pimpinan Amerika.
- Jika nantinya perang terbuka benar-benar terjadi, itu bisa menjadi akhir dari aliansi NATO khususnya dan yang lebih buruk kawasan Uni Eropa akan kembali terpecah belah dalam menyikapi isu masalah Greenland.
- Dan semua itu bisa berakibat buruk bagi negara-negara yang tergabung di dalam Uni Eropa. Mulai dari kesiapan militer untuk berperang, beban biaya perang yang pastinya sangat mahal, serta kesiapan fundamental ekonomi jika perang ini akan berlangsung lama. Tanpa adanya persiapan yang memadai, bisa dipastikan beberapa negara di kawasan Uni Eropa akan jatuh ke dalam krisis multidimensi yang bisa berubah menjadi krisis politik yang berujung pada jatuhnya pemerintahan yang sedang berkuasa.
Bayang-bayang krisis ekonomi
- Krisis Greenland yang dipicu oleh ambisi Presiden Donuld Trump untuk mengakuisisinya bisa mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi yang tidak hanya mengguncang kawasan Uni Eropa, namun bisa menyebar ke seluruh dunia. Jika perang terbuka akhirnya pecah antara Amerika melawan Angkatan Bersenjata Kerajaan Denmark yang dibantu dengan beberapa negara Eropa dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Greenland.
- Perang ini pasti akan memicu lonjakan harga minyak mentah dunia di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan melambungnya harga minyak mentah dunia, bisa dipastikan beberapa harga kebutuhan masyarakat juga akan ikut naik yang pada akhirnya akan menyebabkan inflasi. Dengan terjadinya inflasi yang tidak terkendali, kemudian ditambah dengan jatuhnya nilai tukar mata uang suatu negara terhadap dolar Amerika. Dua faktor ini sudah cukup untuk menjadi pemicu awal dari terjadinya krisis ekonomi yang bisa menjalar menjadi krisis sosial, dan akhirnya berubah menjadi krisis politik yang akan menghancurkan suatu negara.
Tindakan penculikan Presiden Nicolas Maduro yang tengah menjabat oleh militer Amerika sejatinya memberikan peringatan kepada seluruh dunia, bahwa Amerika bisa melakukan apa pun terhadap sebuah negara berdaulat tanpa perlu persetujuan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dan Amerika juga bisa sesuka hati melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum internasional tanpa ada satu pun negara yang bisa menghalanginya. Seolah Amerika sedang menunjukkan pada dunia kekuatan hegemoninya di bawah Presiden Donald Trump.
Dan sekarang, Presiden Donald Trump ingin mengakuisisi Greenland yang sejatinya berada di bawah yurisdiksi Pemerintah Kerajaan Denmark. Apakah rencana Presiden Donald Trumph akan benar-benar dilaksanakan dalam waktu dekat dengan menggunakan kekuatan militer? Yang mana peristiwa ini akan membawa dunia di ambang Perang Dunia Ketiga.
