Dahulu, ruang publik dapat menjadi tempat yg nyaman untuk bertemu orang lain. Dimana saat berada di ruang publik, seseorang dapat berinteraksi dan berkenalan satu sama lain. Tapi itu dulu, kini ruang publik sudah menjadi sesuatu hal yg berbeda.
Saat berada di ruang publik, dahulu kita sering bertemu dan saling menyapa orang yang tak dikenal yg terkadang menjadi relasi baru. Pertemuan-pertemuan tersebut bisa terjadi di masjid, stasiun, ruang tunggu atau bahkan bengkel (seperti yg sy alami saat ini). Pertemuan tersebut seringkali terjadi tanpa disengaja dan memberikan kesan untuk bisa rehat sejenak dari perjalanan atau urusan yg akan dilalui.
Namun, hari ini sudah berbeda. Wajah-wajah ruang publik kita sudah tidak lagi menciptakan suasana yang hangat, obrolan-obrolan kecil tanpa disengaja dan menjadi lebih sibuk satu sama lain. Ruang publik kita saat ini sudah menjadi tempat yg asing. Tak lain dan tak bukan karena satu alat mungil (yg katanya) nan canggih yang kita bawa kemana-mana.
Ruang publik kita saat ini sudah tidak menyuguhkan hal-hal yang dahulunya terasa hangat. Orang-orang saat ini yg berada di ruang tunggu, stasiun atau bahkan sekedar di tempat loket antre sudah sibuk dengan yg dipegang masing-masing. Mereka sibuk berselancar dalam dunia yg tidak benar² berada di depan mereka. Dalam keadaan duduk atau berdiri, mereka selalu menundukkan kepala. Bukan karena malu atau bagimana, justru karena mereka lebih memilih apa yg lebih mudah mereka lakukan dan menyenangkan. Maka frasa “teknologi dapat menjauhkan yang dekat” sudah sangat bisa rasakan dan saksikan sendiri saat ini.
Hal ini juga menggeruskan beberapa nilai-nilai kehidupan yg sudah dijunjung sejak lama. Dalam islam, setiap orang yg berasal dari tempat dan dunia yg berbeda-beda diminta untuk saling mengenal (lita’arfu) yang mana dari situlah lahir kekuatan islam yg memiliki sikap saling menghargai satu sama lain dan menciptakan kekuatan komunal.
Dalam budaya masyarakat indonesia juga memiliki nilai yang sangat erat kaitannya dengan hubungan manusia. Nilai gotong royong untuk saling mengenal dan mengetahui satu sama lain menjadi pudar. Ruang publik kita sudah tidak mencerminkan nilai-nilai tersebut. Satu sama lain akan memiliki sikap acuh tak acuh sehingga tujuan bersama juga akan lebih sulit dicapai.
Namun daripada itu, perubahan zaman pasti akan melahirkan perubahan sikap dan prilaku. Orang-orang yg hidup di zaman tersebut juga pasti memiliki prilakunya masing-masing dan selalu memiliki sisi positif dari perubahan zaman tersebut. Tinggal bagaimana kemudian kita akan menemukannya.
