Renjana Keibuan dan Getir Kebapakan Diplomat Iran*

Sandewa Jopanda
Sandewa Jopanda
Penulis, Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran, dan Pemerhati sosial
- Advertisement -

Diantara banyaknya pemberitaan dan analisis mengenai diplomat Iran, ada satu hal yang mengusik pikiran saya. Potret foto dan barang-barang siswa/i Iran yang meninggal terkena serangan AS- Zionis Israel, yang dipajang dimasing-masing kursi pesawat pembawa delegasi Iran. Ketika kabar itu lebih dulu sampai ketimbang video penyambutan delegasi Iran oleh Pakistan, detik itu saya menyadari, Iran tidak menargetkan kesepakatan apapun.

Renjana Keibuan        

Di awal perang, sebuah sekolah di Minab dibombardir pihak AS-Zionis Israel. Pagi yang cerah dan tawa yang renyah di sekolah itu mendadak lenyap seketika. Tidak ada cerita sepulang sekolah, hanya suara tangisan & air mata para ibu Iran yang nyaris kering seperti padang gurun. 168 siswa/i meninggal dunia dan pembombardir menyangkal penyerangan itu.

Sepanjang sejarah, konflik umat manusia tidak pernah berhenti, dan perang merupakan suatu keniscayaan yang tidak dapat kita tolak. Persoalannya bukan perangnya tetapi pada siapa perang itu diarahkan, apa penyebabnya, dan tentu dalam diskursus yang mulai ramai siapa saja yang jadi imbasnya. Banyak pakar dan media justru menampilkan hitung-hitungan ekonomi, seolah-olah yang paling penting saat ini adalah ketahanan ekonomi kita. Sayangnya, benteng empati dan kemanusiaan kita seperti dalam level kritis yang tinggal sekejap mata sirna. Alih-alih pusing soal ekonomi yang volatil, tidak banyak yang mengencam pemboman ke wilayah sipil, lebih-lebih ke sekolah.

Ibu saya yang seorang bidan acapkali menghadapi persalinan, dimana kelahiran dan kematian berada dalam lembar yang sama pada sisi halaman yang berbeda. Setiap kali ada persalinan, doanya memanjat sempurna seolah-olah dibalik ruang persalinan yang kedap suara itu, ia yakin suaranya didengar Tuhan dengan nyaring diatas sana.

Kita memahami siklus perkembangan manusia secara fisik dan emosional, dari bayi tumbuh menjadi anak lalu remaja dan dewasa. Namun bagi ibu diseluruh dunia, putra-putrinya tetaplah anak-anak, sedewasa apapun mereka. Ketika anak-anak Iran itu menerima takdir kematiannya, ibu saya bertanya (dan saya yakin ibu-ibu lainnya pun begitu), mengapa mereka dibom?

Bagaimana perasaan ibu para anak-anak Iran itu bisa saya bayangkan, bahkan dalam 3 kata pertanyaan ibu saya, imajinasi saya runtuh. Tentu saya masih bisa mengukir kalimat penjabaran bahwa Amerika dan Israel begini dan begitu, tetapi sepanjang hidup para ibu mereka tidak menerima jawaban rasional, mereka mahluk emosional. Perhatikan mata ibu ketika anak lelakinya bercerita gol pertamanya, putra/putrinya maju ke depan kelas dan dipuji guru, anak perempuannya berhasil mementaskan tari pertamanya? Ibu hanya peduli cerita yang membahagiakan itu, bahkan meski itu hanya sebuah proses tanpa piala.

Saat Amerika & Iran berunding di Islamabad, jelas mereka membawa beban berat dipundaknya. Kali ini negosiasi mereka diiringi tangis ibu-ibu Iran. Ibu-ibu yang tak lagi punya memori hidup yang akan ia dengar sepulang sekolah anaknya. Ibu-ibu yang merindukan anaknya. Seberapapun menarik tawaran dari Amerika, nyawa anak-anak yang melayang tidak akan kembali. Tidak ada renjana yang lebih tinggi, selain milik ibu. Perasaan itu tidak dapat hilang dalam tempo singkat, bahkan mustahil dilupakan.

Getir Kebapakan

Sewaktu ketua parlemen dan menteri luar negeri Iran memasuki pesawat, mereka langsung disambut oleh potret-potret siswa/i Iran yang menjadi korban. Masing-masing diatas kursi pesawat lengkap dengan barang terakhir mereka seperti tas, boneka, dibarengi sebuah bunga. Seperti yang pernah saya tulis, Iran adalah bangsa konflik. Mereka akrab dengan konflik dan kedukaan secara sosial, sehingga mengemas kejadian itu ke dalam pesawat diplomat mereka bukan simbol kosong melainkan penegasan, Anda tidak boleh bersepakat pada pembunuh anak-anak Anda.

Semahir apapun diplomat Iran menekan Amerika, kecintaan ayah yang paling utama ialah perlindungan dan kasih sayang kepada anaknya, dan hal itu tidak dapat muncul meski Iran berhasil menundukkan Amerika. Kita tentu bisa menduga, bahwa Iran mengajukan permintaan yang paling tidak realistis bagi Amerika. Bukan hanya karena alasan sentimentil semata, secara rasional diskrepansi latar belakang dan motivasi diplomat kedua negara berada di ruang yang berbeda. Iran tidak sedang menghitung secara kuantitatif, tidak mungkin mengkalkulasi setiap nyawa yang melayang. Sementara dipihak Amerika beberapa delegasinya berasal dari latar belakang bisnis. Pada akhirnya saat perundingan berjalan, dugaan mengenai ketidaksepakatan termanifestasi langsung dalam hasil perundingan.

Stalin pernah berkata “kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik”. Selama ini semakin banyak korban berbanding lurus dengan sedikitnya empati yang menyertainya. Gesture Iran menaruh foto korban anak-anak mereka di dalam pesawat delegasi diplomatnya tidak sekedar memperingatkan kedukaan yang mereka alami, melainkan juga mengingatkan anak-anak itu merupakan harapan negara mereka dan juga dunia, persis seperti takarir yang dituliskan akun instagram @iranindonesia, mereka (anak-anak) yang tak pernah mencapai tujuan mereka. Kita tidak sedang menjadikan anak sebagai investasi orang tua dimasa senjanya, melainkan memperjelas betapa pentingnya anak-anak itu secara sosiologis.

- Advertisement -

Sebuah negara memerlukan penduduk yang hidup panjang, memiliki keterampilan, dan tentu saja membawa visi besar mempertahankan negaranya. Anak-anak adalah penduduk negara dan dunia di masa depan. Artinya penyerangan terhadap mereka sama dengan menghancurkan harapan negara untuk hidup lebih baik. Apakah penyerangnya menerima nubuat seperti Nabi Khidir bahwa anak-anak itu akan meruntuhkan tembok negeri penyerangnya suatu saat nanti?

Para diplomat Iran yang sebagian merupakan para ayah itu jelas menerima perasaan getir sepanjang penerbangan. Pasca selesainya 21 jam negosiasi buntu itu, sangat tidak mengejutkan bagi saya. Tidak ada ayah yang mau menyepakati apapun dengan pembunuh anaknya. Lagi pula, negosiasi seturut keberadaannya dengan perang. Menerima atau menolaknya berhubungan dengan panjangnya masa bertempur itu sendiri. Kontribusi yang dihasilkannya tidak menjamin kepuasan kedua belah pihak, terutama bagi pihak yang lebih dahulu diserang. Mengharapkan kesepakatan pada negosiasi pertama, adalah keterburu-buruan yang sia-sia.

*Tulisan ini saya dedikasikan kepada Ibu saya yang 12 April 2026 lalu berulang tahun ke-50, 168 siswa/i Iran meninggal dibom oleh Amerika, dan delegasi diplomat Iran terkhusus Abbas Aragachi, Menteri luar negeri Iran yang menampilkan keteguhan dalam setiap kata-katanya.

Sandewa Jopanda
Sandewa Jopanda
Penulis, Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran, dan Pemerhati sosial
Facebook Comment
- Advertisement -