Bensin Bisa Diisi, Rindu ke Mamah Cuma Bisa dengan Pulang

Syamsul Hidayat
Syamsul Hidayat
Syamsul Nurip Hidayat adalah mahasiswa Program Studi Manajemen di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. Ia memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan dan penelitian, khususnya dalam isu sosial, ekonomi.
- Advertisement -

Mudik selalu punya cara sederhana untuk menjelaskan hal-hal besar dalam hidup. Kadang bukan lewat pidato panjang, bukan pula lewat tulisan formal, tetapi cukup dari selembar kertas yang ditempel di kardus barang bawaan: “Bensin habis bisa diisi, rindu ke mamah cuma bisa dibayar dengan pulang ke rumah.”

Kalimat itu mungkin terdengar lucu bagi sebagian orang. Namun bagi para perantau, terutama yang setiap hari hidup jauh dari keluarga, kalimat tersebut menyimpan makna yang jauh lebih dalam.

Setiap menjelang Lebaran, jalanan di berbagai kota besar berubah menjadi lautan kendaraan. Dari pagi hingga malam, arus kendaraan bergerak perlahan, membawa jutaan orang menuju kampung halaman masing-masing. Ada yang pulang dengan mobil pribadi, bus antarkota, kereta api, hingga sepeda motor dengan barang bawaan yang ditumpuk seadanya.

Bagi sebagian orang, perjalanan dari Tangerang Selatan menuju Tasikmalaya bukan sekadar perjalanan antarkota. Jarak itu adalah perjalanan pulang menuju orang-orang yang selama ini hanya bisa ditemui lewat panggilan video atau suara di telepon.

Di tengah padatnya pekerjaan, rutinitas, dan tekanan hidup di kota, ada satu hal yang sering tidak berubah: kerinduan pada rumah.

Rumah dalam konteks mudik bukan sekadar bangunan tempat tinggal. Ia adalah tempat di mana seseorang merasa diterima tanpa syarat. Tempat di mana ibu masih bertanya apakah kita sudah makan, meskipun usia sudah tidak lagi muda.

Karena itu, mudik sering kali bukan soal libur panjang atau tradisi tahunan semata. Mudik adalah kebutuhan emosional.

Banyak orang rela menghadapi kemacetan berjam-jam, antre di rest area, bahkan mengatur ulang jadwal keberangkatan hanya demi sampai di rumah sebelum malam takbir. Semua kelelahan itu terasa ringan karena ada satu tujuan yang menunggu di ujung perjalanan: bertemu keluarga.

Menariknya, mudik selalu melahirkan ungkapan-ungkapan yang sederhana tetapi kuat. Kalimat tentang bensin dan rindu tadi adalah salah satunya. Ia mengingatkan bahwa kebutuhan fisik bisa dipenuhi dengan uang, tetapi kebutuhan batin sering kali hanya selesai ketika seseorang benar-benar pulang.

Bensin habis memang bisa diisi di pom bensin terdekat. Tetapi rindu kepada mamah, kepada rumah, kepada suasana kampung, tidak pernah benar-benar selesai kecuali dengan hadir secara langsung.

- Advertisement -

Di situlah mudik menjadi lebih dari sekadar mobilitas tahunan. Ia adalah bentuk paling nyata bahwa sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada tempat yang membuatnya ingin kembali.

Pada akhirnya, perjalanan panjang itu bukan hanya tentang sampai tujuan, tetapi tentang memahami bahwa rumah masih menjadi alasan terkuat seseorang bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota.

Syamsul Hidayat
Syamsul Hidayat
Syamsul Nurip Hidayat adalah mahasiswa Program Studi Manajemen di Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta. Ia memiliki ketertarikan pada dunia kepenulisan dan penelitian, khususnya dalam isu sosial, ekonomi.
Facebook Comment
- Advertisement -