Khitah Industri Manufaktur Indonesia

Fahrulraz M. Faruk
Fahrulraz M. Faruk
Pegiat Dunia Penulisan
- Advertisement -

Perdebatan seputar dampak globalisasi semakin melebar dan mendalam. Beberapa negara seperti India dan Tiongkok, serta negara-negara yang telah membangun sektor manufaktur selama lima dekade secara sadar tampil sebagai pemenang.

Sejumlah besar negara Dunia Ketiga yang lebih kecil tampaknya kalah dalam persaingan globalisasi (Erik S. Reinert, 2004: 3). Perkembangan industri memiliki peran penting dalam hal pertumbuhan ekonomi negara-negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Taiwan, dan Indonesia. Sejak tahun 1950 banyak negara mulai melakukan peralihan sektor perekonomian utama, dari negara yang  berbasis agraris menjadi sebuah negara yang  berbasis industri. Industri merupakan salah satu  faktor yang penting dalam hal pembangunan yang berkelanjutan. Industri menjadi salah satu tujuan dari 17 pilar pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang ditetapkan oleh PBB di tahun 2015.

Hampir di setiap negara maju, perekonomiannya  tidak bergantung  pada sektor primer (pertanian & pertambangan), melainkan berorientasi pada sektor-sektor industri.  Beberapa negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, melakukan industrialisasi melalui pembangunan sektor industri sekunder di bidang manufaktur. Industri manufaktur dapat di definisikan sebagai sebuah industri pengolahan, yaitu suatu usaha yang mengolah atau mengubah bahan mentah menjadi barang jadi ataupun barang setengah jadi yang mempunyai nilai tambah yang dilakukan secara mekanis dengan mesin ataupun tanpa menggunakan mesin (manual) (Badan Pusat Statistik : 2008).

Beberapa contoh dari industri manufaktur diantaranya yaitu industri tekstil, industri baja, industri pengolahan makanan, industri furnitur, dsb. Produksi barang mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi, maupun produksi barang setengah jadi menjadi barang jadi secara masal, dapat berkontribusi dalam menambah lapangan pekerjaan. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada meningkatnya pendapatan nasional per kapita.

Perkembangan Industri Manufaktur di Indonesia

Industri manufaktur menjadi salah satu sektor penting yang kontribusinya besar untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Industri manufaktur sudah sejak lama menjadi andalan bagi pemerintah untuk mendukung pembangunan ekonomi nasional.

Rekam jejak industri manufaktur dan sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukan bahwa industri manufaktur merupakan salah satu faktor penting yang berkontribusi besar bagi produk domestik bruto Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat kontribusi sektor manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi terus mengalami peningkatan. Kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB di tahun 2014 mencapai 17,89% yaitu sebesar Rp. 2.089 triliun, dan di tahun 2015 dan 2016 meningkat yaitu masing-masing sebesar 18,1% dan 18.2%. Angka kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB Indonesia ini masih kecil jika dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya yang mencapai 30%.

Industri manufaktur Indonesia juga hanya terkonsentrasi pada beberapa komoditas utama berupa sektor-sektor primer (pertanian dan pertambangan). Hal ini berpengaruh pada tingkat ekspor produk manufaktur Indonesia yang lemah karena hanya terpusat pada beberapa komoditas saja. Sektor-sektor primer sebagaimana diketahui, mudah terpengaruh oleh gejolak yang terjadi di pasar. Apabila terjadi resesi di pasar global, dampak yang ditimbulkan terhadap sektor manufaktur bisa sangat besar. Oleh sebab itu sektor-sektor manufaktur berbasis teknologi juga sudah mulai harus dikembangkan karena sektor ini cenderung tidak terpengaruh oleh gejolak yang terjadi pasar.

Perencanaan Pembangunan Industri Manufaktur

Untuk menciptakan sektor industri manufaktur yang kuat, dibutuhkan perencanaan kebijakan yang baik. Strategi kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah harus benar-benar matang guna menciptakan industri manufaktur yang kuat juga memiliki daya saing.

Berbagai faktor penunjang pengembangan industri manufaktur, mulai dari fiskal, moneter, konektivitas, sampai kepada strategi pemasaran yang baik harus diperhatikan. Strategi pengembangan industri manufaktur harus tepat sasaran, sehingga barang yang dihasilkan dapat bernilai jual tinggi. Industri manufaktur diharapkan tidak hanya berperan sebagai produsen barang subtitusi impor, melainkan harus dapat bersaing secara internasional melalui ekspor.

Pembangunan Sektor Hulu Industri Manufaktur

Industri hulu berperan dalam mendorong produktivitas industri hilir.  Kebijakan terkait pengembangan sektor hulu sampai ke hilir harus relevan. Selama ini, impor menjadi salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan modal yang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Oleh sebab itu dengan pembangunan sektor hulu industri manufaktur yang kuat, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pengurangan jumlah impor, terutama impor bahan baku dan modal.

- Advertisement -

Salah satu contohnya yaitu pembangunan industri baja. Korea selatan, Tiongkok, Jepang, dan beberapa negara maju lainnya, memulai pengembangan industri manufaktur mereka dengan membangun pabrik baja. Untuk Indonesia, kebutuhan akan konsumsi produk baja mencapai 14 juta ton per tahun, sedangkan kemampuan produksi industri baja Indonesia hanya sekitar 8 juta ton. Akibatnya impor baja yang kurang lebih 6 juta ton harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi baja nasional.

Strategi Pemasaran (Ekspor dan Subtitusi Impor)

Strategi pengembangan ekspor terbukti berhasil dieksekusi oleh beberapa negara-negara maju di dunia. Kebanyakan dari negara-negara maju menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan lintas negara untuk dapat berinvestasi dalam pembangunan industri manufaktur di negara mereka. Hal ini mempermudah mereka dalam hal pemasaran produk di pasar internasional karena kebanyakan inevstor asing, mempunyai koneksi yang bagus dengan pasar internasional. Untuk Indonesia sendiri sektor manufaktur menyumbang kurang lebih setengah dari total ekspor barang Indonesia, dengan nilai total mencapai kurang lebih US$ 50 miliyar (EU-Indonesia Trade Cooperation Facilty)

Industri manufaktur dapat berperan sebagai sebuah industri penghasil bahan baku pengolahan untuk memenuhi kebutuhan produksi di dalam negeri. Hal ini mengingat tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang sangat besar, sehingga apabila produk yang dikonsumsi dibuat di dalam negeri, maka sektor-sektor industri manufaktur lokal akan semakin berkembang. Konsumsi berperan sangat besar dalam hal menggenjot pertumbuhan ekonomi, dimana kontribusi sektor konsumsi terhadap PDB mencapai 60%. Produksi barang subtitusi impor akan mengurangi kegiatan impor barang dari luar negeri sehingga berdampak baik terhadap penghematan devisa negara.

Industri manufaktur merupakan salah satu sektor utama Indonesia di masa depan. Oleh karena itu strategi pembangunan di bidang ini harus benara-benar efektif. Industri manufaktur yang kuat memang bukanlah tujuan akhir dari pembangunan ekonomi. Tetapi industri manufaktur dapat menjadi dasar atau fondasi bagi Indonesia dalam mencpai tujuan ekonomi yang sebenarnya yaitu menciptakan masyarakat yang sejahtera.

Fahrulraz M. Faruk
Fahrulraz M. Faruk
Pegiat Dunia Penulisan
Facebook Comment
- Advertisement -