Tahukah kalian bahwa gelombang panas dan kekeringan bisa membuat pohon menjerit? Memang kedengarannya aneh, tapi ini fakta. Saat akar pohon menyerap kelembapan dari tanah yang kering, alih-alih air, mereka malah menyedot gelembung udara yang kemudian menyerang pembuluh darah halusnya dan akhirnya membunuhnya.
Perubahan iklim tidak hanya menimbulkan masalah besar bagi hutan, tapi juga bencana. Sebab bagaimanapun, pohon adalah produsen salah satu elemen penting bagi keberadaan manusia dan makhluk hidup lain: oksigen. Namun semakin lama ini terjadi, dunia terasa semakin buruk.
Sebuah laporan menunjukkan bahwa 2023 kemarin adalah tahun terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah, dan tahun ini mungkin akan lebih parah lagi. Fenomena cuaca ekstrem yang mendatangkan bencana akan semakin sering terjadi dan makhluk hidup mau tak mau harus menanggung akibatnya.
Namun, meskipun situasi ini mengkhawatirkan, tampaknya masih sedikit pemimpin-pemimpin dunia yang mau mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengatasi krisis iklim ini. KTT COP28 baru-baru ini misalnya – yang diselenggarakan di Arab Saudi – enggan mengakui bahwa penghapusan bahan bakar fosil, yang seperti kita tahu merupakan biang kerok utama perubahan iklim, sangat penting dilakukan.
Laporan demi laporan menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar dunia – yang juga salah satu penghasil terbesar emisi dunia – gagal memenuhi target mereka dalam mengatasi krisis iklim. Hal ini diperburuk dengan banyaknya teori-teori konspirasi di media sosial yang mengatakan perubahan iklim sebagai hoax dan hanya pengalihan isu. Meskipun begitu, ada sebagian populasi kita yang getol mendukung aksi peduli lingkungan dan kehidupan berkelanjutan: perempuan.
Sudah lama diketahui bahwa perempuan dan laki-laki cenderung berbeda dalam sikap dan dalam pengambilan keputusannya. Laki-laki umumnya cenderung fokus pada dirinya sendiri dibandingkan orang lain – terutama saat stres – dan sering mengambil keputusan-keputusan ekstrem. Sebaliknya, perempuan lebih stabil dan cenderung mengambil pendekatan kooperatif dalam pengambilan keputusannya.
Terdapat bukti jelas mengenai perbedaan gender dalam isu lingkungan. Tidak sedikit penelitian mengenai topik ini membuktikan bahwa di berbagai negara dan kelompok umur, perempuan lah yang lebih mungkin mendukung solusi ramah lingkungan dibandingkan laki-laki. Menurut penelitian Gallop pada 2011 misalnya, yang melibatkan lebih dari 6.000 orang, menunjukkan bahwa perempuan lebih khawatir dibandingkan laki-laki jika dihadapkan pada masalah-masalah lingkungan.
Selain itu, ditemukan pula bahwa penolakan atau ketidakpercayaan terhadap isu perubahan iklim juga berkorelasi dengan penerimaan masyarakat terhadap sistem patriarki, yang tentu saja umumnya didukung oleh laki-laki.
Baru-baru ini, sebuah penelitian yang diterbitkan di PNAS Nexus juga menyelidiki apakah gender memengaruhi tingkat kepedulian kita terhadap generasi mendatang atau yang dikenal dengan altruisme antargenerasi? Sebab bagaimanapun, apa yang kita lakukan saat ini tidak hanya berdampak pada kehidupan kita hari ini saja namun juga kehidupan anak-cucu kita di masa depan. Penelitian yang dilakukan terhadap perilaku 1.600 masyarakat Swedia tersebut menunjukkan adanya perbedaan besar dalam tingkat kepedulian perempuan dan laki-laki terhadap generasi mendatang.
Seperti yang dikemukakan oleh para peneliti, perbedaan di atas bisa dijelaskan dengan melihat bagaimana cara perempuan dan laki-laki dibesarkan dan bagaimana ekspektasi masyarakat terhadap perempuan, khususnya dalam hal perawatan dan pengasuhan.
Seperti yang kita ketahui bahwa merawat, mengasuh, menyembuhkan, memperbaiki, dan melestarikan sering dipandang sebagai sifat-sifat ‘feminin’ dan oleh karena itu dianggap sebagai sifat dan kecenderungan perempuan. Maka bukan suatu kebetulan jika alam di zaman dahulu sering dicirikan sebagai seorang perempuan (Ibu Pertiwi atau Ibu Bumi). Sebab seperti seorang ibu, bumi juga merawat, memelihara, dan menyembuhkan kita dengan makanan yang kita makan, air yang kita minum, dan udara yang kita hirup.
Mungkin hubungan antara alam dan ‘feminitas’ ini juga bisa menjelaskan mengapa, selama beberapa waktu belakangan ini, kita dengan kejam mendominasi dan mengendalikan alam demi keuntungan kita sendiri atau lebih tepatnya, demi keuntungan segelintir orang yang memiliki kekuatan dan pengaruh. Karena hal-hal seperti dominasi, kontrol, agresi, dan ambisi sering diagung-agungkan karena kedekatannya dengan cita-cita ‘maskulin’. Sedang di waktu yang sama, perilaku-perilaku feminin cenderung dipandang inferior. Begitu pula dengan perempuan dan hal lain yang dianggap ‘feminin’ termasuk planet kita sendiri.
Meskipun beberapa orang mungkin menganggap stereotip gender semacam ini sudah ketinggalan zaman, namun kita tidak bisa menafikan fakta bahwa stereotip ini masih ada hingga saat ini. Maka tidak mengherankan jika perempuan lebih peduli terhadap lingkungan dan mendukung solusi ramah lingkungan daripada laki-laki. Mengapa demikian? Karena hal ini sudah tertanam dalam diri kami, perempuan, sejak lahir untuk selalu berorientasi pada orang lain, berkorban, dan mengurus segala sesuatu terutama dalam lingkup domestik.
Selain itu, kita juga bisa melihat perbedaan gender dalam tindakan-tindakan perempuan. Di sektor swasta, usaha-usaha yang dijalankan perempuan cenderung lebih mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup dibandingkan dengan usaha-usaha yang dijalankan oleh laki-laki. Sementara itu, negara-negara dengan populasi perempuan terbesar dalam pemerintahannya lebih mungkin meratifikasi regulasi-regulasi yang pro ekologi dan mengadopsi kebijakan krusial untuk mengatasi perubahan iklim.
Sebagai konsumen pun perempuan menghabiskan lebih banyak uang untuk produk dan layanan ramah lingkungan dibandingkan laki-laki. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa pria menghabiskan 70% lebih banyak uang untuk barang-barang yang menyebabkan efek rumah kaca. Sebaliknya, rata-rata perempuan justru lebih banyak mendaur ulang dan lebih sedikit membuang sampah.
Yang jelas bagaimana pun kita melihatnya, baik itu di sektor swasta, publik, atau domestik, perempuan selalu mengadvokasi dan menerapkan perilaku ramah lingkungan, sebuah fenomena yang oleh para peneliti sebut sebagai eco-gender gap. Kontrasnya, beberapa laki-laki justru menganggap produk dan perilaku ramah lingkungan sebagai sesuatu yang ‘tidak jantan’ dan sebagai ancaman terhadap maskulinitas mereka.
Sayangnya hari ini masih banyak laki-laki yang lebih mendominasi dalam pengambilan keputusan di bidang politik, ekonomi, dan hukum, dan oleh karena itu, mereka pula lah yang memiliki suara terbesar dalam isu-isu lingkungan. Tetapi, apakah akan berbeda jika mayoritas penguasa adalah perempuan?
Dalam dekade terakhir ini, beberapa pihak mencoba untuk mengubah citra perempuan yang ingin meraih kekuasaan dan kepatuhan terhadap norma-norma ‘maskulin’ di lingkungan perusahaan dan politik sebagai upaya untuk mencapai kesetaraan. Itulah mantra gerakan ‘girl boss’, yang dimulai oleh buku self-help Sheryl Sandberg, ‘Lean In’ dan pengusaha di balik gaya hidup Nasty Gal, Sophia Amoruso, yang juga menerbitkan buku dengan nama yang sama.
Jika perempuan meniru perilaku laki-laki, terutama mereka yang sukses, maka logikanya adalah mereka akan naik pangkat, dan kesuksesan mereka pasti akan menular ke perempuan lain sehingga membantu kesuksesan yang lain, dan perempuan akan menang. Tapi konsep ini menurut saya cukup ambigu. Di satu sisi, ini mengasumsikan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang berkuasa dan kaya itu baik, tidak disfungsional dan merusak. Namun di sisi lain, hal ini juga mengasumsikan bahwa perempuan, tidak seperti laki-laki, kuat terhadap godaan korupsi dan keserakahan ketika menapaki tangga kesuksesan dan kekuasaan. Tapi benarkah seperti itu?
Jika besok, semua laki-laki yang berkuasa digantikan oleh perempuan, apakah semuanya akan menjadi lebih baik? Mungkin sampai batas tertentu dan dalam jangka pendek, ya. Tapi menurut saya itu bukan solusi akhir. Sebab bagi saya ini bukan tentang perempuan atau laki-laki, melainkan tentang sistem cacat yang kita terapkan dalam masyarakat kita seperti patriarki yang menglorifikasi nilai-nilai yang menjadi kekuatan pendorong krisis iklim – dominasi, keserakahan, dan individualisme – dan merendahkan nilai-nilai seperti kepedulian, empati, dan kolaborasi.
Semua penelitian dan survei yang menunjukkan bukti kesenjangan eco-gender membuktikan bahwa bukan perempuan yang harus meniru sifat-sifat ‘maskulin’, namun laki-laki lah yang harus didorong untuk mengadopsi beberapa sifat-sifat ‘feminin’. Seperti yang ditunjukkan oleh banyak penelitian, stereotip gender sebagian besar bisa dipelajari, bukan bawaan, termasuk kualitas-kualitas seperti empati dan kasih sayang. Seandainya saja anak laki-laki didorong sejak usia dini untuk lebih peduli terhadap orang lain, seperti halnya anak perempuan, dan kita berhenti memandang ‘feminitas’ sebagai sesuatu yang inferior, mungkin banyak laki-laki yang akan mendukung kebijakan-kebijakan yang pro lingkungan.
Selain itu, memperjuangkan dunia yang sehat, bersih, dan bahagia bukan hanya menjadi tanggung jawab perempuan saja. Saat ini kami, perempuan, mungkin merupakan pihak yang paling banyak menyuarakan mitigasi lingkungan, namun jangan lupa bahwa perempuan juga merupakan korban terbesar dari krisis ini. Olehnya kita semua, baik laki-laki dan perempuan, harus merawat dan memelihara rumah tempat kita tinggal — tanaman dan bunga, hewan, sungai dan lautan, gunung, dan hutan. Hal ini tidak boleh semata-mata dianggap sebagai perilaku ‘feminin’ atau ‘maskulin’ lagi.
Namun terlepas dari itu semua, hanya satu hal yang pasti, bahwa jika kita tidak bertindak sekarang maka suatu hari nanti kita mungkin akan berteriak sama seperti pepohonan saat ini tentang mengapa kita tidak berbuat lebih banyak untuk mencegah kerusakan lingkungan. Dan mengapa kita tidak mendengarkan suara-suara yang seharusnya didengarkan, termasuk suara perempuan, masyarakat adat, dan kelompok marjinal lainnya yang berada di garis terdepan dalam perjuangan melawan krisis ini. Tapi, mudah-mudahan, kita belum terlambat.
