Bilingual Itu Hebat, Tapi Tidak Sesederhana Itu

FIras Rabbani
FIras Rabbani
Firas Aufa Rabbani saya adalah seorang mahasiswa muda yang memiliki minat mendalam terhadap bahasa dan sastra Arab. Dengan latar belakang pendidikan di pesantren modern, saya memiliki pemahaman yang kuat tentang agama dan budaya, serta keterampilan bahasa yang luas. Kini, saya menempuh studi di salah satu universitas Islam terkemuka di Indonesia, berfokus pada memperdalam ilmu linguistik dan sastra Arab, sebuah bidang yang saya yakini dapat membuka pintu bagi kontribusi besar di masa depan. Saya tidak hanya fokus pada akademis, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi internal dan eksternal di kampusnya.
- Advertisement -

Di zaman sekarang, kemampuan bahasa asing sudah seperti kebutuhan dasar. Banyak orang tua mulai mengenalkan bahasa Inggris atau bahasa lain kepada anak sejak kecil, bahkan sebelum anak benar-benar lancar menggunakan bahasa ibu. Fenomena ini bisa kita lihat dari semakin banyaknya sekolah bilingual, kursus bahasa untuk anak usia dini, hingga kebiasaan orang tua yang mencampur bahasa dalam percakapan sehari-hari. Tidak sedikit juga yang menganggap bahwa semakin cepat anak belajar dua bahasa, maka semakin pintar anak tersebut. Tapi kalau dipikir lebih dalam, apakah benar bilingualisme selalu membawa dampak positif tanpa risiko?

Kalau melihat dari berbagai penelitian, memang tidak bisa dipungkiri bahwa anak bilingual punya banyak keunggulan. Salah satunya dalam cara berpikir. Anak yang terbiasa menggunakan dua bahasa cenderung lebih fleksibel dalam memahami sesuatu. Mereka lebih mudah berpindah dari satu cara berpikir ke cara lain dan lebih cepat menyesuaikan diri dengan situasi baru. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Ellen Bialystok (2011) yang menunjukkan bahwa anak bilingual memiliki kontrol kognitif yang lebih baik serta lebih peka terhadap struktur bahasa dibandingkan anak monolingual. Dengan kata lain, belajar dua bahasa tidak hanya berdampak pada kemampuan komunikasi, tetapi juga pada cara anak memproses informasi dan menyelesaikan masalah.

Selain itu, dari segi masa depan, kemampuan bilingual jelas menjadi nilai tambah yang penting. Anak yang menguasai bahasa asing sejak dini memiliki akses yang lebih luas terhadap berbagai sumber pengetahuan, baik melalui buku, internet, maupun pendidikan internasional. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemampuan ini bisa menjadi keunggulan kompetitif. Menurut penelitian dalam jurnal Learning and Instruction (2026), anak yang terbiasa dengan dua bahasa sejak kecil menunjukkan perkembangan yang lebih baik dalam penguasaan bahasa kedua, terutama dalam kosakata dan tata bahasa. Ini menunjukkan bahwa pengenalan bahasa asing sejak dini memang dapat memberikan keuntungan nyata, terutama dalam jangka panjang.

Namun, di balik berbagai kelebihan tersebut, bilingualisme juga memiliki tantangan yang tidak boleh diabaikan. Salah satu hal yang sering terjadi adalah pada tahap awal perkembangan, anak bilingual terkadang terlihat lebih lambat dalam penguasaan bahasa dibandingkan anak yang hanya menggunakan satu bahasa. Misalnya, jumlah kosakata dalam satu bahasa bisa lebih sedikit atau anak terlihat mencampur dua bahasa dalam satu kalimat. Hal ini sebenarnya wajar, karena anak harus membagi fokusnya ke dua sistem bahasa sekaligus. Jadi, kondisi ini bukan menunjukkan kelemahan, melainkan bagian dari proses adaptasi yang sedang berlangsung.

Selain itu, ada juga risiko yang cukup penting, yaitu hilangnya bahasa ibu. Dalam kajian tentang Language Attrition, disebutkan bahwa seseorang bisa mengalami penurunan kemampuan dalam bahasa pertamanya jika bahasa tersebut jarang digunakan. Hal ini diperkuat oleh penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology (2023) yang menunjukkan bahwa anak bilingual yang lebih sering menggunakan bahasa kedua cenderung mengalami penurunan kemampuan dalam bahasa pertama. Dalam konteks Indonesia, hal ini cukup relevan karena banyak anak yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing dibandingkan bahasa daerahnya. Jika tidak dijaga, bahasa ibu bisa perlahan hilang dari kehidupan sehari-hari anak.

Tidak hanya itu, keberhasilan bilingualisme juga sangat bergantung pada lingkungan. Anak tidak otomatis menjadi bilingual hanya karena dikenalkan dua bahasa. Cara orang tua menggunakan bahasa di rumah, konsistensi dalam berkomunikasi, serta lingkungan sekolah dan sosial sangat berpengaruh. Menurut penelitian dalam jurnal Frontiers in Psychology (2025), pengalaman bahasa yang diterima anak sangat memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial mereka. Artinya, kualitas interaksi jauh lebih penting daripada sekadar jumlah bahasa yang diajarkan. Jika lingkungan tidak mendukung, anak justru bisa mengalami kebingungan atau tidak maksimal dalam kedua bahasa tersebut.

Kalau kita lihat dari kondisi di Indonesia, banyak anak sebenarnya sudah hidup dalam situasi multilingual. Mereka bisa menggunakan bahasa daerah di rumah, bahasa Indonesia di sekolah, dan bahasa Inggris dalam pelajaran tertentu. Kondisi ini sebenarnya sangat potensial untuk membentuk kemampuan bilingual atau bahkan multilingual yang kuat. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, justru bisa membuat salah satu bahasa biasanya bahasa daerah menjadi semakin jarang digunakan. Ini yang sering tidak disadari oleh orang tua.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa masalahnya bukan pada apakah anak perlu belajar satu atau dua bahasa, tetapi lebih pada bagaimana cara mengajarkannya. Bilingualisme tetap bisa menjadi hal yang sangat positif, asalkan dilakukan dengan cara yang tepat. Misalnya, bahasa ibu tetap digunakan secara aktif dalam keluarga, sehingga anak tetap memiliki dasar yang kuat. Sementara itu, bahasa asing bisa dikenalkan secara bertahap melalui aktivitas yang menyenangkan seperti bermain, menonton, atau membaca cerita. Dengan cara ini, anak tidak merasa tertekan dan proses belajar menjadi lebih alami.

Menurut saya, pendekatan yang paling masuk akal adalah tidak menjadikan bahasa sebagai sesuatu yang harus dipilih salah satu. Bahasa ibu dan bahasa asing seharusnya bisa berjalan berdampingan dan saling melengkapi. Bahasa ibu penting sebagai dasar, karena dari situlah anak pertama kali belajar memahami dunia, membangun emosi, dan berinteraksi dengan keluarga. Sementara bahasa asing bisa menjadi jembatan untuk membuka peluang yang lebih luas di masa depan.

Pada akhirnya, bilingualisme memang menawarkan banyak keuntungan, baik dari segi kognitif maupun peluang hidup. Namun, keuntungan tersebut tidak datang secara otomatis. Dibutuhkan kesadaran, konsistensi, dan strategi yang tepat dari orang tua dan pendidik. Jika dilakukan dengan seimbang, bilingualisme bisa menjadi kekuatan besar bagi anak. Tapi jika tidak, justru bisa menimbulkan masalah baru, seperti kebingungan bahasa atau hilangnya bahasa ibu.

- Advertisement -

Jadi, yang terpenting bukan seberapa banyak bahasa yang dikuasai anak, tetapi bagaimana bahasa tersebut digunakan untuk mendukung perkembangan mereka. Bilingualisme bukan sekadar tren atau simbol kecerdasan, tetapi sebuah proses yang perlu dijalani dengan pemahaman yang matang. Dengan pendekatan yang tepat, anak tidak hanya bisa menguasai dua bahasa, tetapi juga tumbuh menjadi individu yang lebih terbuka, adaptif, dan siap menghadapi dunia yang semakin kompleks.

FIras Rabbani
FIras Rabbani
Firas Aufa Rabbani saya adalah seorang mahasiswa muda yang memiliki minat mendalam terhadap bahasa dan sastra Arab. Dengan latar belakang pendidikan di pesantren modern, saya memiliki pemahaman yang kuat tentang agama dan budaya, serta keterampilan bahasa yang luas. Kini, saya menempuh studi di salah satu universitas Islam terkemuka di Indonesia, berfokus pada memperdalam ilmu linguistik dan sastra Arab, sebuah bidang yang saya yakini dapat membuka pintu bagi kontribusi besar di masa depan. Saya tidak hanya fokus pada akademis, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi internal dan eksternal di kampusnya.
Facebook Comment
- Advertisement -