Minggu, Mei 26, 2024

Fenomena Stockholm Syndrome pada Korban KDRT

Diandra Niken
Diandra Niken
Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Beberapa bulan lalu sedang ramai diperbincangkan tentang kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami oleh salah satu selebriti terkenal di Indonesia.

Banyak masyarakat Indonesia yang awalnya merasa iba kepada korban, tetapi situasi tersebut tidak bertahan lama karena sang korban memutuskan untuk memaafkan pelaku atas segala tindakan yang telah dilakukan kepadanya. Para warganet pun heran mengapa sang korban memutuskan untuk melakukan hal itu? Banyak yang mengaitkan tindakan korban tersebut dengan stockholm syndrome.

Apa Itu Stockholm Syndrome?

Stockholm syndrome adalah keadaan dimana seseorang merasakan perasaan positif terhadap orang yang telah menyakitinya dan enggan untuk menerima bantuan agar terlepas dari pelaku. Menurut Graham, dkk., (1995), stockholme syndrome merupakan suatu kondisi dimana paradoks psikologis menimbulkan ikatan kuat antara korban dengan pelaku kekerasan.

Hal itu meliputi rasa cinta korban terhadap pelaku, memberikan perlindungan kepada pelaku yang telah menyakitinya, menyalahkan diri sendiri sebagai alasan terjadinya kekerasan, dan membantah atau meminimalisir kekerasan yang terjadi.

Apa tanda-tanda orang yang mengalami Stockholm Syndrome?

Setelah tau apa itu stockholm syndrome, ternyata orang yang mengalami stockholm syndrome dapat ditandai oleh beberapa gejala. Stockholm syndrome dapat ditandai oleh 3 (tiga) hal, yaitu:

  • Korban mengembangkan perasaan positif terhadap orang yang sudah melakukan kekerasan kepada mereka.
  • Korban menolak pihak yang mencoba membantu mereka terlepas dari pelaku kekerasan.
  • Korban merasakan rasa kemanusiaan dari pelaku dan percaya bahwa mereka mempunyai tujuan yang sama.

Penyebab Stockholm Syndrome

Penyebab utama dari stockholm syndrome belum dapat dipastikan, tetapi, terdapat beberapa faktor psikologis yang melatarbelakangi munculnya stockholm syndrome, yaitu:

  1. Ketika pelaku sedang tidak menyakiti korban, korban akan merasa bahwa pelaku baik hati karena tidak menyakiti mereka.
  2. Korban merasa diperlakukan dengan baik oleh pelaku.
  3. Korban dan pelaku berada di tempat yang sama, sehingga korban memiliki perspektif yang berbeda terhadap pelaku
  4. Agar tidak disakiti oleh pelaku, korban akan berusaha bersikap baik kepada pelaku dan hal ini menjadi kebiasaan bagi korban.

Hal yang dapat dirasakan korban dan cara penanganannya

Jika stockholm syndrome tidak segera ditangani bisa membawa dampak bagi korban. Seseorang yang mengalami stockholm syndrome bisa mengalami kondisi post-traumatic stress disorder (PTSD), masalah pada harga diri, dan dapat menimbulkan kondisi trust issue.

Lalu bagaimana cara menangani stockholm syndrome? Terdapat beberapa cara untuk menangani stockholm syndrome, yaitu:

1. Melakukan Konseling atau Terapi Psikologis

Konseling merupakan salah penanganan untuk korban dengan melibatkan seorang konselor yang bertujuan untuk membantu korban menemukan cara untuk mengatasi serta memahami masalah mereka.

2. Terapi Pemaparan

Terapi pemaparan berguna untuk membantu korban menghadapi situasi dan ingatan yang ditakuti, sehingga korban dapat belajar mengatasinya secara bertahap.

3. Desensitisasi dan Pemrosesan Ulang Gerakan Mata (EMDR)

Terapi EMDR merupakan terapi yang dapat membantu para korban untuk meredakan stress psikologis. Terapi ini merupakan gabungan dari terapi pemaparan dengan serangkaian gerakan mata terpandu yang membantu pasien memproses kenangan traumatis dan mengubah cara pasien bereaksi terhadapnya.

Perlu diketahui, tidak semua korban kekerasan mengalami stockholm syndrome. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mengetahui tentang stockholm syndrome agar kita dapat mengetahui gejala dan cara penangananya.

Menurut penulis, jangan biarkan rasa cinta menguasai kita, karena kesehatan mental dan fisik kita juga penting untuk diperhatikan. Jangan menganggap KDRT sebagai suatu hal yang wajar untuk dilakukan kepada kita maupun orang lain dan jangan takut untuk bersuara. Kita juga tidak boleh men-judge korban, tetapi bantulah korban keluar dari zona tersebut. Jika kita memiliki orang tedekat yang mengalami gejala sindrom ini, jangan ragu untuk segera mencari bantuan profesional agar lebih cepat tertangani.

Referensi:

Sekarlina, I. (2013). Stockholm syndrome pada wanita dewasa awal yang bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS AIRLANGGA). https://www.klikdokter.com/penyakit/masalah-mental/sindrom-stockholmhttps:// . https://www.halodoc.com/artikel/gejala-dan-penanganan-penyakit-stockholm-syndrome

Diandra Niken
Diandra Niken
Mahasiswi Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.