Sabtu, Juli 20, 2024

Tentang Ekologi Revolusioner dan Kapitalisme

Rully Baba
Rully Baba
Mahasiswa

Ekologi Revolusioner merupakan judul buku yang ditulis oleh Judi Bari, seorang anggota Earth-First, yang sangat peduli tentang isu-isu lingkungan.

Ekologi revolusioner itu sendiri merupakan sebuah ide dari Judi Bari untuk gerakan dari organisasi Earth-First, karena menganggap bahwa praktik sosial saat ini sangat tidak mempedulikan ekologi dan akan membawa alam serta kehidupan di dalamnya pada kehancuran.

Hal yang mendasari ide ekologi revolusioner ini adalah Biosentrisme. Sebuah istilah yang meyakini bahwa alam tidak tercipta untuk melayani manusia, tapi manusia adalah bagian dari alam itu sendiri; satu spesies dari banyak spesies lainnya.

Sasaran kritik dari ide ekologi revolusioner ini lebih tertuju pada praktik pengrusakan lingkungan di bawah sistem kapitalisme. Karena menganggap bahwa prinsip kapitalisme didasari pada kepemilikan pribadi, akhirnya para pelaku hanya mementingkan profit ketimbang tanggung jawab mereka terhadap lingkungan.

Kapitalisme menurutnya selalu mengambil nilai lebih (surplus value) tidak hanya dari para pekerja, tapi dari bumi itu sendiri. Contohnya, pohon Redwood dihargai lebih tinggi dari pada pohon Cemara, karena pohon redwood lebih tahan busuk dan bisa dijadikan tembok atau juga bisa digunakan sebagai pondasi yang bersentuhan langsung dengan tanah. Kualitas tahan busuk ini tidak berasal dari para pekerja, tapi langsung dari alam. Penggundulan pohon-pohon oleh perusahaan-perusahaan besar merupakan bukti konkrit.

Judi Bahri juga memberikan analogi yang cukup bagus, “Bagaimana bisa seorang penjahat korporat semacam Charles Hurwitz mengklaim “memiliki” kayu-kayu redwood berumur 2000 tahun di Hutan Headwaters hanya karena ia menandatangani beberapa lembar kertas untuk menukarnya dengan obligasi sampah (junk bond)?”

Baginya gagasan ini absurd, “Hidup Hurwitz hanyalah satu titik kecil dibandingkan kehidupan yang telah dilalui oleh pohon-pohon tua ini.”

Analogi semacam ini, saya kira rasional jika dasar kira berfikir menggunakan definisi dari biosentrisme, yaitu; kita adalah bagian dari alam. Tapi bagi saya secara pribadi, justru gagasan biosentrisme ini juga absurd, karena melupakan fakta bahwa manusia bukanlah benda mati.

Coba kita bayangkan, makhluk hidup di luar genus kita, seperti ayam, kambing, rusa dan lain lain. Kita sendiri tahu bahwa mereka juga merasakan sakit, tapi kita harus mengkonsumsi mereka untuk kebutuhan perut.

Saya langsung teringat buku Sapiens karya Yuval Noah Harari. Yang masih terlintas dalam kepala saya tentang buku tersebut adalah; yang mendorong punahnya saudara kandung kita seperti homo Neanderhal bukan hanya bencana alam, tapi kita juga ikut berkontribusi atas kepunahaan tersebut, apalagi pohon yang tidak menunjukkan tanda-tanda rasa sakit sama sekali?

Maksud saya adalah, manusia pasti akan melindungi dirinya, membuat dirinya agar lebih mudah mengerjakan sesuatu. Manusia harus melahap ayam jika dirinya lapar. Manusia akan menebang pohon- pohon agar bisa membuat perahu, jembatan dan lain-lain.

Saya rasa Judi Bahri ini terlalu peduli terhadap bumi sampai menghakimi kebebasan manusia. Seandainya Judi Bahri lahir sama-sama dengan Elon Musk, saya kira Judi Bahri tidak berpikiran demikian, karena Elon Musk masih berusaha agar manusia bisa tinggal di planet Mars.

Kapitalisme Sebagai Mekanisme Ekonomi Yang Solutif

Ada pertanyaan menarik dari salah satu sub bab dalam buku Why Liberty oleh Tom G. Palmer. Pertanyaan tersebut ditulis sebagai pembuka dari tulisan Marteen Wegge; Bagaimana hal-hal yang hanya diketahui secara terpisah oleh jutaan orang dapat menjadi berguna bagi semua orang?

Jika tidak berlebihan, saya ingin menyederhanakan pertanyaan ini; apakah ada seorang individu yang mampu mengetahui apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan oleh jutaan orang berbeda-beda rasa di dunia ini?

Teman saya beberapa hari yang lalu pamitan ke saya. Katanya Dia harus balik ke daerah kami, karena urusan perkuliahannya sudah selesai di Jogja. Dan katanya dia ingin balik dengan kapal, padahal pikir saya naik pesawat jauh lebih cepat. Anda bisa sampai berhari-hari jika Anda menggunakan kapal untuk pergi ke Maluku.

Walaupun sedikit kaget, tapi saya biarkan saja, karena memang itu hal yang dia inginkan. Mungkin dia ingin perjalanan pulangnya seperti petualangan, rasa takut ketika kapal dihantam obak, atau ingin lihat luasnya lautan, atau mungkin saja hanya ingin lihat ikan terbang.

Saya juga kadang seperti itu. Jika saya mulai lapar, kadang saya lebih suka makan padang yang jauh dari kosan saya ketimbang ke Warmindo atau Mie Ayam yang dekat kos saya. Hal itu bukan karena Warmindo dan Mie Ayam tidak enak, tapi sebagai seorang manusia, saya mempunyai rasa bosan. Untuk itu sesekali saya makan di warung Masakan Padang.

Manusia pada dasarnya mempunyi rasa yang berbeda-beda. Untuk itu sistem ekonomi harus mengikuti apa yang diinginkan oleh berjuta juta individu tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah; sistem seperti apa yang mampu memenuhi kebutuhan yang berbeda beda tersebut? Anda boleh berpedapat lain, tapi bagi saya, kapitalisme adalah sistem yang paling masuk akal untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Kenapa demikian? Karena individu itu sendiri yang paling mengetahui apa yang paling dia butuhkan. Bukan teman, bukan keluarga, bukan komunitas atau institusi negara.

Kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang menempatkan kebebasan sebagai dasar aktivitas perekonomian. Setiap individu bebas memilih sesuatu yang dia butuh dan dia inginkan.

Di dalam sistem ekonomi kapitalisme, perusahaan-perusahaan swasta berlomba-lomba dan berusaha agar mampu menyediakan barang dan jasa sesuai dengan permintaan dan penawaran setiap individu.

Jika anda berada di Jogja, saran saya sesekali anda pergi ke Jogjatronik Mall. Di sana anda bisa mimilih smartphone sesuai dengan keinginan Anda. Mau pilih Azus, Pilih Oppo, atau Iphone, terserah Anda.

Sama seperti di pasar Malioboro, anda bisa memilih berbagai macam atribut sehari hari. Terserah Anda mau pilih yang mana. Mau beli sepatu, mau celana, kaos, semuanya ada di situ.

Rully Baba
Rully Baba
Mahasiswa
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.