OUR NETWORK
Jumat, Juni 25, 2021

Sepi dan Tekanan Hidup

cindyrebecca
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta

Bagi Alexandra, pekerjaannya sebagai Relationship Manager di Border Bank, salah satu bank multinasional di Jakarta sudah sangat menjanjikan kehidupan yang baik. Gaji yang besar, terbang ke berbagai penjuru Indonesia hampir setiap bulan untuk mengelola kredit nasabah, hingga jam kantor yang sebenarnya tidak berguna karena tetap saja ia sering lembur malam hari. Kisah wanita 27 tahun ini dituliskan dalam novel berjudul Divortiare karya Ika Natassa.

Divortiare berkisah mengenai Alexandra yang memiliki hidup sempurna dengan pekerjaannya tetapi tidak dengan percintaannya. Ia harus merelakan kehidupan rumah tangga dengan suaminya yang berprofesi sebagai dokter bedah jantung karena keduanya saling tidak mampu menekan ego pribadi. Jam kerja seorang dokter dan banker yang tidak pas lama-kelamaan membuat keduanya kehilangan waktu sebagai pasangan suami istri.

Di tengah perjalanan hidup dengan segala rutinitas padat seorang banker, Alexandra kerap merasa sepi. Terkadang, saat baru menyelesaikan seluruh pekerjaan kantor dan kembali ke apartemennya ia hanya bisa terduduk sendirian, melepas penat sambil menatap koleksi foto di dinding kamarnya.

Divortiare memang tidak sepenuhnya menceritakan tentang rasa sepi. Namun, ini menjadi menarik ketika seorang Alexandra yang memiliki karir bagus tetap menderita kesepian dalam hidupnya. Bagian pada saat ia selalu merasa kosong setelah menyelesaikan rutinitas kerjanya adalah salah satu wujud kesepian yang kerap dialami oleh masyarakat di kota besar.

Memasuki dunia nyata, kesepian yang dialami oleh Alexandra juga dirasakan oleh mereka yang bertempat tinggal di kota-kota besar. Banyak hal dan kemudahan yang bisa didapatkan di perkotaan.

Salah satunya yaitu ketersediaan lapangan kerja. Tahun 2014, 16,5% kegiatan ekonomi Indonesia berasal dari Jakarta. Karena kemudahan itu kota menjadi sasaran utama sebagian besar masyarakat untuk mengadu nasib. Di tengah padatnya aktivitas kota siapa sangka ternyata masyarakatnya mengalami yang namanya kesepian.

Kesepian tetap ada di tengah kesibukan kota besar. Salah satu penyebabnya yaitu tuntutan pekerjaan. Rata-rata orang Jakarta bekerja mulai pukul 8 pagi hingga 5 sore. Ironisnya, tidak sedikit dari mereka yang juga harus merelakan waktu istirahatnya demi lembur di kantor. Hingga akhirnya berdampak pada kurangnya intensitas berkumpul bersama keluarga, kerabat, maupun teman.

Survei yang dilakukan Kompas terhadap orang Jakarta pada Februari 2008 mengungkapkan bahwa orang Jakarta lebih memilih berdiam diri di rumah dari pada berkumpul bersama keluarga.

Rasa sepi tidak bisa dianggap sebagai masalah sepele. Mark Robinson, ketua Age of UK, salah satu lembaga donor di Inggris mengatakan bahwa masalah rasa kesepian lebih berbahaya dibandingkan dengan mengisap 15 batang rokok sehari.

Jika dibiarkan berlarut-larut bisa berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Kesepian, menurut Bruce Rabin, direktur Lifestyle Program di University of Pittsburgh Medical Center dapat menyebabkan depresi, penyakit jantung, penumpukan hormon stres, penurunan sistem kekebalan tubuh, hingga meninggal.

Kodokushi di Jepang adalah salah satu bentuk dampak dari kesepian. Istilah ini merujuk pada peristiwa orang meninggal sendirian tanpa diketahui orang lain. Setelah beberapa hari atau minggu kemudian jasadnya baru ditemukan. Biasanya ditemukan oleh petugas kebersihan di apartemen-apartemen warga. Di Tokyo, tahun 2011 dilaporkan sekitar 2000 orang meninggal karena kodokushi.

Inggris sudah menaruh perhatian lebih atas fenomena ini. Di Inggris, ada kementerian urusan kesepian. Negara ini memang menempati urutan kedua negara kesepian setelah Afrika Selatan. Menurut penelitian The Co-op dan British Crpss Rowad, 9 juta warga Inggris merasa kesepian, 200 ribu di antaranya adalah orang tua yang tidak lagi berkomunikasi dengan teman atau saudaranya lebih dari satu bulan.

“Kesepian itu realitas menyedihkan di kehidupan modern,” kata Theresia May (Perdana Menteri Inggris) dilansir dari Telegraph, 16 Januari 2018. Pemerintah Inggris membuat kerangka strategi penanganan kesepian. Salah satu strateginya yaitu dengan membuat metode pengukuran tentang perasaan kesepian.

Selain dari pemerintah, upaya melawan kesepian bisa melalui teknologi. Aplikasi bernama Huggle buatan Valerie Stark berawal dari pengalaman Stark yang kesepian saat pindah dari Moskow ke London. Ia mengobati kesepiannya dengan makan malam sendiri hingga kesulitan untuk ngobrol dengan pengunjung lainnya. Huggle, aplikasi yang menghubungkan orang-orang dengan ketertarikan yang sama.

Terlihat seperti masalah pribadi tidak boleh membuat kita mengabaikan masalah kesepian. Hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan agar terhindar atau meminimalisirnya adalah mendeteksi sejak dini apakah kita termasuk penderitanya, sadarlah bahwa rasa sepi ini harus dihilangkan (jangan menganggap remeh) karena banyak dampak negatifnya, lalu ambil tindakan. Mulailah menjalin komunikasi dengan orang sekitar agar kita tidak merasa terkungkung oleh kesepian.

cindyrebecca
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN "Veteran" Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERBARU

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.