Republik Para Miliarder

Edy Suhardono
Edy Suhardono
Dr. Edy Suhardono, M.Psi. Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Buku terbarunya berjudul “Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasi di Era Transformasi Sosio-Digital” (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025) dan buku yang ia tulis bersama Audifax berjudul “Membaca Identitas: Multirealitas dan Reinterpretasi Identitas, Suatu Tinjauan Filsafat dan Psikologi” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2023). Ia juga penggagas SoalSial.com.
- Advertisement -

Daftar terbaru orang terkaya Indonesia kembali menghadirkan angka yang sulit dibayangkan dalam keseharian masyarakat. Forbes mencatat Low Tuck Kwong memiliki kekayaan sekitar US$16,7 miliar atau setara Rp300,6 triliun, disusul sejumlah konglomerat lain dengan kekayaan di atas Rp100 triliun (Kompas.com, 03/08/2026).

Sementara itu, Produk Domestik Bruto per kapita Indonesia berada pada kisaran US$5.060 per tahun atau sekitar Rp7,5 juta per bulan dalam pendekatan kasar (World Bank, 2025). Perbandingan ini bukan alasan untuk mempersoalkan keberhasilan individu. Namun, angka-angka tersebut layak dibaca sebagai cermin tentang bagaimana kekayaan diciptakan, didistribusikan, dan dimaknai dalam sebuah republik. 

Di Antara Dua Angka

Perbedaan antara kekayaan miliarder dan pendapatan rata-rata warga sering memancing emosi. Padahal, yang lebih penting adalah memahami maknanya. Pendapatan per kapita merupakan angka rata-rata yang menggambarkan kemampuan ekonomi nasional. Sebaliknya, daftar miliarder menunjukkan akumulasi aset yang terkonsentrasi pada individu atau kelompok tertentu.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi tidak selalu identik dengan pemerataan kesejahteraan. World Bank mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2025, sementara PDB per kapita mencapai US$5.059,6 (World Bank, 2025). Namun, angka rata-rata tersebut tidak menjelaskan bagaimana manfaat pertumbuhan tersebar di antara kelompok sosial yang berbeda. Dalam praktiknya, sebagian warga menikmati kenaikan pendapatan dan aset lebih cepat dibanding kelompok lainnya.

Di sinilah muncul pelajaran pertama bagi penyelenggara negara. Keberhasilan pembangunan tidak cukup dinilai dari besarnya pertumbuhan ekonomi. Ukuran yang sama pentingnya adalah seberapa luas manfaat pertumbuhan itu dirasakan. Pertumbuhan tanpa pemerataan dapat menghasilkan paradoks: negara menjadi lebih kaya, tetapi sebagian warga tidak merasa hidupnya banyak berubah. Ketika jarak antara statistik makro dan pengalaman sehari-hari semakin jauh, kepercayaan terhadap narasi pembangunan perlahan melemah.

Itulah sebabnya negara perlu melihat distribusi manfaat pertumbuhan sebagai tujuan kebijakan, bukan sekadar konsekuensi yang diharapkan terjadi dengan sendirinya.

Aset dan Kesempatan

Daftar orang terkaya Indonesia memperlihatkan pola yang konsisten. Kekayaan terbesar berasal dari kepemilikan aset produktif, mulai dari batu bara, energi, petrokimia, perbankan, pusat data, hingga perkebunan (Kompas.com, 03/08/2026). Fakta ini mengajarkan bahwa sumber utama kemakmuran bukanlah pendapatan bulanan, melainkan kepemilikan atas aset yang mampu menghasilkan nilai secara berkelanjutan.

Pelajaran kedua terletak di sini. Jika negara ingin memperkuat kelas menengah dan memperluas kesejahteraan, fokusnya tidak boleh hanya pada peningkatan konsumsi. Yang lebih penting adalah memperbesar akses masyarakat terhadap aset produktif. Pendidikan berkualitas, akses modal usaha, kepemilikan lahan yang legal, pasar keuangan yang inklusif, serta peluang membangun usaha menjadi instrumen yang menentukan.

Kajian World Inequality Database mengenai ketimpangan kekayaan Indonesia menunjukkan bahwa distribusi aset memiliki peran sentral dalam menjelaskan ketimpangan ekonomi jangka panjang (WID, 2023). Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan sekadar berapa banyak pendapatan yang diterima seseorang, melainkan peluang untuk memiliki aset yang dapat berkembang nilainya dari waktu ke waktu.

Dalam konteks itu, bantuan sosial tetap penting untuk melindungi kelompok rentan. Namun bantuan sosial tidak dapat menjadi satu-satunya strategi. Masyarakat membutuhkan tangga mobilitas yang memungkinkan mereka naik kelas secara berkelanjutan. Negara yang berhasil bukan hanya negara yang mengurangi kemiskinan, melainkan negara yang memperluas kepemilikan aset kepada semakin banyak warga.

- Advertisement -

Menjaga Kepercayaan Publik

Pelajaran ketiga berkaitan dengan modal sosial yang sering luput dari perhatian, yakni kepercayaan publik. Ketimpangan yang terlalu besar berisiko menggerus keyakinan bahwa sistem ekonomi masih memberikan kesempatan yang adil.

Data World Bank menunjukkan koefisien Gini Indonesia berada pada kisaran 34,4 pada 2025 (World Bank, 2025). Angka ini lebih baik dibanding beberapa periode sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan bahwa hasil pembangunan belum tersebar sepenuhnya secara merata. Pada saat yang sama, Edelman Trust Barometer mencatat 61 persen responden global memiliki tingkat keluhan tinggi terhadap institusi karena menganggap kepentingan kelompok tertentu lebih sering diutamakan dibanding kepentingan masyarakat luas (Edelman, 2025).

Bagi negara, pesan dari dua data tersebut cukup jelas. Stabilitas sosial tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada persepsi keadilan. Masyarakat dapat menerima keberadaan miliarder sepanjang mereka percaya bahwa kesempatan untuk maju tetap terbuka, aturan berlaku bagi semua orang, dan keberhasilan diperoleh melalui proses yang adil.

Pada akhirnya, daftar orang terkaya seharusnya tidak dibaca sebagai katalog kekayaan individu. Daftar itu lebih berguna sebagai cermin yang memperlihatkan arah sebuah bangsa. Sebab ukuran kemajuan sebuah republik bukan terletak pada seberapa banyak miliarder yang berhasil diciptakannya, melainkan pada seberapa banyak warga yang masih percaya bahwa kerja keras, pendidikan, dan kesempatan yang adil dapat mengubah hidup mereka. Ketika keyakinan itu tetap terjaga, kekayaan akan menjadi sumber harapan. Namun ketika keyakinan itu memudar, republik para miliarder berisiko berubah menjadi republik yang kehilangan kepercayaan pada masa depannya sendiri.

Edy Suhardono
Edy Suhardono
Dr. Edy Suhardono, M.Psi. Pendiri IISA VISI WASKITA dan IISA Assessment, Consultancy & Research Centre. Pengamat Psiko-Politik. Buku terbarunya berjudul “Teori Peran, Konsep, Derivasi dan Implikasi di Era Transformasi Sosio-Digital” (Sidoarjo: Zifatama Jawara, 2025) dan buku yang ia tulis bersama Audifax berjudul “Membaca Identitas: Multirealitas dan Reinterpretasi Identitas, Suatu Tinjauan Filsafat dan Psikologi” (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2023). Ia juga penggagas SoalSial.com.
Facebook Comment
- Advertisement -