Prolog
Pendongeng handal kerap kali lekat pada siapa yang sering membual atau hanya sekedar yapping dalam potret kehidupan bermedia sosial sekarang. Apakah kata ‘sekedar’ memang pantas untuk para pendongeng handal?, fakta mereka mendapatkan julukan dalam sosmed membuktikan setidaknya satu hal akan perhatian kepada mereka. Atau jangan-jangan memang dari segala lini usia membutuhkan orang dengan peran ini? Mari kita coba bahas.
Makhluk Langka Pahlawan Oksitosin
Kepunahan spesies pendongeng handal seakan di ujung tanduk dalam kehidupan sosial kita, adanya ledakan konten singkat menjadikan kemampuan ini dipandang sebelah mata. Pada awalnya para pendongeng sangat lekat dengan kehidupan anak dan sekarang tergeser oleh konten yang diberikan orang tua sebagai alat ampuh penghenti tantrum.
Paul J. Zak, seorang neuroeconomics yang menghabiskan karirnya meneliti hubungan antara cerita dan otak. Saat seseorang mendengarkan narasi yang menyentuh emosi entah itu kisah sedih, haru, atau meregangkan otak mereka memerintahkan kelenjar pituitari untuk melepaskan Oksitosin. Oksitosin ini sering disebut sebagai “hormon cinta” atau “hormon pelukan”. Ini adalah zat kimia yang sama membanjiri tubuh seorang ibu saat menyusui bayinya, atau saat sepasang kekasih saling bertatapan. Maka terbentuklah rasa percaya, rasa aman, dan ikatan emosional yang mendalam.
Lalu bagaimana dengan orang dewasa? Jika kita melihat kolom komentar di video TikTok yang berisi tulisan panjang tentang patah hati atau kehilangan orang tua, kita akan melihat fenomena yang sama: Orang dewasa berkerumun, menangis, dan merasa “ini gue banget”. Mereka mencari Oksitosin meskipun dalam lingkup digital. Mereka merindukan suara Ibu yang mendongeng sebelum tidur. Karena di dunia kerja yang kejam, tidak ada yang menceritakan kisah heroik tentang perjuangan mereka. Mereka adalah tokoh utama dalam cerita hidup yang sepi, dan mereka butuh seseorang bahkan jika itu hanya teks berjalan di layar untuk berkata, “Kamu tidak sendirian.”
Bahasa Bayi
Dalam bahasa yang mudah dimana pendongeng handal seperti jamu dari sisi orang dewasa dengan rasanya yang pahit, tradisional, atau mungkin terasa tertinggal. Tapi karena itu kita tahu bahwa lidah kita juga memiliki fitur untuk merasakan pahit, sedangkan konten-konten yang tersedia baik itu untuk bayi atau untuk orang dewasa seperti makanan manis yang disukai, memang memiliki rasa yang comfort (nyaman) tetapi semua org tau itu membuat adiktif (kecanduan) dan juga diabetes (efek jangka panjang) jika berlebihan, dan kita tidak menggunakan alat yang bernama lidah dengan sempurna.
Di dunia nyata, jarang sekali ada cerita yang hanya berisi warna pelangi dan tawa. Hidup itu pahit-getir. Ada kehilangan, ada perjuangan, ada kesedihan. Semuanya seperti vaksin emosi. Rasanya agak perih saat disuntikkan (membosankan), tapi hasilnya adalah kekebalan jiwa. Ironisnya, analogi ini berlaku untuk kita, orang dewasa. Mengapa kita begitu betah membaca tulisan panjang penuh kesedihan di TikTok? Karena jiwa kita haus akan rasa “Pahit” dan “Umami”.
Setelah seharian dicekoki gula algoritma (konten lucu, flexing, marah-marah), otak kita berteriak, “Tolong… aku butuh rasa yang lebih dalam. Aku butuh merasakan bahwa aku masih manusia!”. Maka kita mencari konten-konten sendu itu. Kita sedang berusaha mengaktifkan kembali reseptor lidah kita yang nyaris lumpuh. Karena proses ini, sekali lagi, adalah pabrik Oksitosin alami yang tidak bisa ditiru oleh layar.
Dongeng Masa Lampau Bukan Diksi yang Bijak
Seakan kebetulan bahwa dalam Islam menyediakan banyaknya kisah-kisah dari tokoh zaman dahulu. Maka, bekal untuk memahami Qashas (kisah-kisah) dalam Al-Qur’an menjadi penting sekarang. Tuhan tidak hanya bercerita tentang surga yang manis. Dia juga bercerita tentang kepedihan Nabi Yusuf di sumur, tentang pahitnya pengkhianatan saudara, dan tentang getirnya air mata Nabi Ya’qub hingga dikisahkan “Dan matanya menjadi putih karena kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84).
Mengapa Islam begitu kaya akan narasi? Sudah saatnya kita melihat bagaimana Kitab Suci justru adalah Farmakope (Buku Resep Jamu) terbesar sepanjang masa, dengan dasar (Qs.Al-A’raf : 176) “ Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.”
Kita telah berjalan cukup jauh, dari laboratorium biokimia Paul J. Zak, ke lidah yang haus rasa pahit, hingga kitab suci yang ternyata adalah buku resep jamu keabadian. Pada akhirnya, fenomena ini bukanlah soal memilih antara “zaman old” atau “zaman now”. Ini tentang fitrah. Manusia yang berusia tiga tahun atau tiga puluh tahun didesain oleh Sang Pencipta dengan kebutuhan yang sama, mendengar narasi yang membuatnya merasa hidup. Kita diciptakan dengan reseptor lidah yang lengkap, bukan hanya pengecap manis.
Pendongeng Handal, dengan segala suara sumbang dan intonasi dramatisnya, adalah alarm pengingat. Mereka adalah orang-orang yang berbisik di tengah hingar-bingar algoritma: “Hei, lidahmu masih bisa lho merasakan pahit. Hatimu masih bisa lho bergetar. Kamu belum mati rasa.” Maka, baik untuk diri kita, anak-anak kita, atau bahkan anak-anak dalam setiap diri orang di luaran sana. Ceritakan satu hal paling menyebalkan yang terjadi hari ini, tapi ubahlah akhir ceritanya menjadi lucu. Walaupun tidak sempurna, setidaknya itu cukup untuk memberi tahu otak:
‘Aku masih bisa merasa.'”
