Jargon Kantor: Mesin Asap Linguistik yang Bikin Karyawan Kelihatan Pintar tapi Zonki Donny Syofyan

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Kalau Anda adalah tipe orang yang fasih cas-cis-cus pakai bahasa langit ala anak korporat, selamat! Tapi ada kabar buruk: kemungkinan besar kinerja asli Anda biasa-biasa saja, atau malah zonk. Ini bukan sekadar nyinyiran netizen biasa. Faktanya, ada riset ilmiah yang membuktikannya. Di era sekarang, ruang kerja kita memang mulai dijajah oleh “sampah” AI (AI slop). Tapi jangan lupa, jauh sebelum AI datang, kita sudah punya rajanya alienasi bahasa, yaitu salad kata korporat. Sebut saja ritual menunda pembahasan dengan dalih “let’s circle back”, jualan kata “synergy”, sok-sokan melakukan “deep dive”, sampai salam penutup email pasif-agresif berkedok “by EOD”.

Jargon korporat itu ibarat kamus tesaurus yang dipaksa naik jabatan jadi manajer menengah. Seolah-olah ada sumpah jabatan tak tertulis di setiap gedung perkantoran modern bahwa mulai hari ini, haram hukumnya berbicara seperti manusia normal. Kita tidak bisa lagi sekadar ngobrol dengan rekan kerja karena harus touch base. Kita tidak boleh meninjau ulang sebuah ide karena wajib circle back. Bahkan, kita dilarang menyelidiki masalah karena harus deep dive. Dosa-dosa besar linguistik seperti low-hanging fruit, pivot, move the needle, bandwidth, hingga kalimat pemicu red flag terbesar seperti “kita kan kekeluargaan,” kini menjamur di mana-mana.

Di dunia kerja modern, Anda bakal dicap kurang keren kalau cuma bilang, “Yuk, pakai cara yang gampang aja.” Kalimat itu harus dimodifikasi menjadi: “Mari kita leverage beberapa low-hanging fruit untuk menstimulasi cross-functional synergy agar bisa benar-benar move the needle sebelum kita pivot.” Pertanyaannya, itu artinya apa? Enggak ada yang tahu. Tapi keren dan terdengar visioner, kan?

Para peneliti dari Cornell University saking gemasnya sampai membuat penelitian ilmiah mengenai hal ini. Mereka menciptakan sebuah indikator bernama “Skala Reseptivitas Omong Kosong Korporat” (nama aslinya menggunakan kata umpatan yang terlalu kasar untuk disiarkan). Dalam eksperimennya, peserta disuguhi kalimat-kalimat palsu hasil racikan mesin jargon, seperti “pressure test adaptive coherence” atau “actualized scalable credentialing paradigms.” Membacanya saja sudah bikin lidah keseleo, tapi kalimat-kalimat asing inilah yang biasanya dipakai para konsultan sesaat sebelum mereka menagih biaya fiktif seharga kapal selam ke perusahaan Anda.

Hasil studinya sangat menampar. Orang-orang yang paling gampang terkesima oleh jargon korporat justru memiliki skor terendah dalam tes logika, kemampuan analitis, dan pengambilan keputusan. Artinya, tipe karyawan yang manggut-manggut paling antusias saat bosnya berpidato tentang “synergy” adalah orang yang secara statistik paling penakut untuk angkat tangan dan bertanya, “Maaf Pak/Bu, itu maksudnya apa, ya?” Fakta ini membuktikan bahwa fungsi sejati dari jargon korporat bukanlah untuk memperjelas komunikasi, melainkan untuk mengintimidasi.

Budaya pura-pura paham ini bukan cuma menyebalkan, tapi bisa memicu bencana finansial. Contohnya kasus nyata pada Januari 2012 di bank raksasa JPMorgan. Akibat transaksi ugal-ugalan seorang trader, perusahaan mengalami kerugian masif yang terus membengkak. Mengapa manajemen senior mengizinkan transaksi berbahaya itu? Usut punya usut, para bos yang memegang kendali pengawasan sama sekali tidak paham apa yang mereka setujui karena dokumen pengajuannya ditulis penuh jargon:

“Sell the forward spread and buy protection on the tightening move. Use indices and add to existing position. Go long risk on some belly tranches, especially where defaults may realize.”

Demi Tuhan, manusia bumi mana yang paham maksudnya? Manajemen JPMorgan pun tidak tahu. Akibat gengsi dan budaya asal setuju, JPMorgan Chase menelan kerugian fantastis lebih dari $6 miliar dolar. Semua orang diam karena kultur korporat telah mencuci otak kita bahwa paham itu nomor dua, yang penting kelihatan pintar.

Studi lain dari University of Florida memperingatkan bahwa kantor yang gila jargon menciptakan lingkungan yang beracun. Karyawan—terutama generasi muda—menjadi takut bertanya atau berkolaborasi. Mereka lebih memilih terjebak dalam “kebingungan yang sunyi” ketimbang dicap bodoh karena tidak tahu arti dari istilah ajaib seperti “leveraging stakeholder visibility.” Padahal, kenyataannya memang tidak ada yang tahu artinya karena frasa itu seperti sengaja dirakit di dalam laboratorium kegelapan.

Namun, mungkin di situlah letak kejeniusan jargon korporat. Ini adalah mesin asap linguistik bagi manajemen menengah. Sebuah alat canggih yang membuat seseorang terlihat sangat sibuk dan produktif, padahal mereka sama sekali tidak menghasilkan apa-apa. Sangat disayangkan, entah sejak kapan, dunia kerja berhenti menghargai pesan yang jelas, jujur, dan ringkas. Kita justru lebih suka memberi panggung dan tepuk tangan kepada orang yang bisa mengubah laporan dua kalimat menjadi sesi TED Talk membosankan tentang sinergi.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -