Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Musik dan Nyanyian dalam Islam | GEOTIMES
Jumat, April 16, 2021

Musik dan Nyanyian dalam Islam

Gus Dur Menjawab Kegelisahan

Buku setebal 176 halaman berjudul Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat yang diterbitkan Kompas pada tahun 2007. Berisikan 24 artikel yang dimuat di Kompas antara...

Indonesia Mayoritas Muslim Merayakan Tahun Baru

Setelah melewati bulan – bulan dengan ragam intrik kerjadian semasa di tahun 2018. Wacana keagamaan Islam dibutuhkan, ada yang mengatakan sebagai agenda politik tahun...

Syafii Maarif dan Bangkitnya Generasi Milineal yang Pluralis

Pada 21 Juli 2018 lalu, berkumpul anak-anak muda yang datang dari berbagai pelosok negeri, dari Aceh, Jawa, Sulawesi, hingga kawasan timur Indonesia. Kaum milineal...

Jerman Unggul dari Spanyol di Masa Pandemi

Pandemi virus covid-19 memaksa perhelatan Liga Champions Eropa tahun 2020 dilanjutkan tanpa penonton. Otoritas tertinggi sepak bola Eropa (UEFA) memilih Portugal sebagai tuan rumahnya....
Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.

Dalam al-Qur’an, tidak ada teks yang secara terang benderang menyinggung masalah musik. Fatwa-fatwa ulama juga menunjukkan pendapat yang berbeda-beda tentang musik, ada yang membolehkannya, ada pula yang melarangnya. Mereka yang melarang musik, mendasarkan diri pada penafsiran atas Surat Lukman Ayat 6:

Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”.

Menurut catatan sumber-sumber Muslim awal, ditemukan pandangan Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa ayat ini mengacu pada makna nyanyian atau bernyanyi. Juga, salah seorang penafsir awal, Mujahid, mengatakan bahwa makna ayat ini mengacu pada bermain drum. Lebih tegas lagi, Hasan al-Basri berpendapat bahwa ayat ini mengacu pada bernyanyi dan alat musik.

Beberapa pendapat ulama kontemporer yang juga menolak musik, sebagamana dikutip oleh Abdullah Saeed dalam bukunya berjudul “Islamic Thought; an Introdaction”, menyatakan bahwa makna ayat ini mencakup segala bentuk ucapan yang dilarang, omong kosong, kebohongan dan bentuk diskusi yang mendorong kepada ketidakpercayaan kepada Tuhan, seperti ghibah, kebohongan dan fitnah, penghinaan, makian, menyanyi dan alat-alat musik iblis yang dianggap tidak memiliki manfaat secara spiritual dan duniawi.

Selain itu, ada ayat lain yang juga dijadikan landasan dasar untuk melarang musik, seperti tertuang dalam Surat Al-Isra’ Ayat 64: “Dan perdayakanlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu”. Ibn Qoyyim berpendapat bahwa kata “suaramu” dalam ayat ini mengacu pada segala sesuatu yang tidak patuh kepada Allah. Sehingga, siapa saja yang memainkan musik dan menimbulkan bunyi-bunyian, maka itu termasuk kategori suara iblis.

Sementara itu, mereka yang memilih sikap terbuka dan membolehkan musik, berpendapat bahwa alam raya ini pada hakikatnya adalah orkestra simponi yang terdiri atas lantunan suara, gerakan, nada, ritme dan berbagai ketukan yang indah dan saling beriringan, semua itu diciptakan secara sempurna oleh Allah.

Tilawatil Qur’an misalnya, merupakan bentuk ekspresi musik religius yang amat mendalam. Banyak hadits yang menyebutkan agar al-Qur’an dibaca dengan bacaan yang indah dan harmonis. Selain itu, seruan sholat pun (adzan) dimulai oleh Nabi sendiri pada tahun pertama setelah hijrah ke Madinah. Suara panggilan untuk mendirikan sholat juga dilantunkan dengan irama yang indah.

Para ulama yang membolehkan musik, mendasarkan diri pada hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Ia mengatakan bahwa pada suatu hari raya, Abu Bakar memasuki rumah yang juga ditinggali oleh Nabi. Di dalam rumah tersebut, ada dua wanita yang sedang bernyanyi, lalu Abu Bakar marah dan berkata “Apakah alat musik setan dibiarkan di dekat Nabi?”, Nabi mendengar dan berkata kepada, “Wahai Abu Bakar, masing-masing kaum memiliki hari rayanya, dan inilah hari raya kita” (Sahih Bukhari).

Hadits lain yang dikutip oleh mereka yang membolehkan musik adalah riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad pernah menyuruh agar seorang penyanyi dikirim ke sebuah acara pesta pernikahan yang diselenggarakan oleh salah seorang Sahabat dari Madinah.

Terlepas dari sikap umat Islam yang pro dan kontra terhadap musik, sejarah telah membuktikan bahwa musik telah menjadi suatu pencapain yang sempurna dan memiliki momentum saat masa keemasan Islam era itu, yakni pada antara abad ke-8 hingga abad ke-13. Adanya interaksi dengan budaya luar melalui proses asimilasi menjadikan musik Arab berkembang semakin pesat.

Secara integral, musik juga dikaitkan dengan disiplin ilmu pengetahuan. Misalnya, buku-buku dari Yunani yang dibaca oleh para cendekiawan muslim telah membantu mengembangkan musik menjadi suatu disiplin spekulatif dan menjadi bagian dari bidang ilmu matematik.

Begitu juga pada masa kekaisaran Turki Usmani, adanya hegemoni politik era dinasti Utsmaniah telah menyebabkan terjadinya asimilasi dan pertukaran budaya secara gradual, khususnya interaksi antara musik Arab dan Turki sekaligus menyerap berbagai unsur musik dari Asia Tengah, Persia, Anatolia dan juga kebudayaan Islam Damaskus dan Irak pada masa abad pertengahan.

Sebut saja misalnya musik religius sufi dalam bentuk instrumen, tari dan vocal suara yang sebagaian telah ditransmisikan ke dalam dunia Islam melalui jenis tarikat Maulawiah, atau suatu bentuk ajaran musik yang berasal dari Turki selama abad ke13 M.

Al-Farabi, salah seorang filosof dan ilmuwan yang sangat produktif, juga menulis tentang musik yang tertuang dalam karyanya berjudul Kitab al-Musiqa al-Kabir. Kitab ini secara khusus, membahas tentang tema-tema utama dalam musik, seperti ilmu suara, instrumen musik, komposisi dan pengaruh musik. Seorang teoritikus abad ke-13 M, Saifuddin al-Urmawi, juga merupakan seorang kontibutor musik yang sangat signifikan terhadap perkembangan pengetahuan dan sistematisasi model-model irama musik.

Ini menunjukkan bahwa musik dalam sejarah Islam telah menjadi bagian penting dari cakrawala perkembangan ilmu pengetahuan. Musik tidak hanya sekedar alat atau bunyi-bunyian yang tidak berguna, tetapi berkembang lebih jauh melintasi batas agama dan kebudayaan. Jadi tidak benar jika musik dan nyanyi-nyanyian selalu mengacu pada hal-hal yang menjauhkan diri kepada Allah. Justru seseorang dapat menjadi amat sangat religius berkat musik, sebagaimana dalam sufisme yang tergambar dalam tarikat Maulawiah.

Rohmatul Izad
Alumni Pascasarjana Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.