Minggu, Mei 26, 2024

Mengenal Copycat Suicide, Sang Bumerang Jurnalistik

Anisa Cahyani
Anisa Cahyani
Mahasiswi Ilmu Hukum Universitas Negeri Semarang. Instagram @roussenisaa

Terdapat berbagai macam alasan dibelakang korban yang mengambil keputusan untuk melakukan upaya bunuh diri, tetapi ada satu faktor yang juga ternyata memengaruhi keputusan mereka. Ya, faktor tersebut adalah sugesti akibat melihat pemberitaan orang lain yang kurang lebih mengalami perasaan, permasalahan, hingga nasib yang sama dengan calon korban. Cara mereka mengetahui hal tersebut ialah lewat pemberitaan media massa yang terlalu rinci menyebutkan suatu kasus bunuh diri.

Kasus bunuh diri di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin marak dan menjadi pemberitaan di media massa nasional. Didukung oleh semakin canggihnya teknologi informasi dan komunikasi, penyebaran berita pun akan secara masif terjadi sehingga pemberitaan terkait suatu kasus akan lebih menjangkau banyak khalayak ramai secara cepat dan tanpa penyaringan.

Data menunjukkan, lebih dari 800.000 orang di penjuru dunia teridentifikasi meninggal dengan cara bunuh diri di tiap tahunnya, melansir dari perhitungan World Health Organization (WHO). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2018 pun mengemukakan dalam risetnya, bahwa sebanyak 6,1% penduduk dengan rentang usia sekitar 15 tahun menderita gangguan kesehatan mental atau depresi, tetapi dari besaran jumlah tersebut hanya sebesar 9% saja yang melakukan pengobatan dengan standar medis yang layak. Sementara itu, sebanyak 91% dari sisanya tidak melakukan apa-apa atas permasalahan kesehatan mental mereka.

Lebih lanjut lagi, World Health Organization (WHO) telah merilis data terkait ratio bunuh diri di Indonesia. Pada 2019, Indonesia berada di peringkat 171 dari total 183 negara. Ratio tersebut tercatat sebesar 2,4 untuk setiap 100 ribu orang, sehingga dapat diambil perhitungan dengan asumsi total penduduk Indonesia saat itu sebanyak 270 Juta jiwa maka jumlah bunuh diri berada dikisaran angka 6,480 kasus. Tentu hal ini adalah angka yang cukup fantastis untuk jenis kasus meninggal akibat mengakhiri hidup sendiri.

Apa Itu Copycat Suicide?

Copycat suicide atau bisa juga dikenal sebagai werther effect, merupakan suatu kondisi saat tingkat bunuh diri di suatu daerah meningkat seiring dengan terpublikasinya berita kematian seseorang yang juga melakukan bunuh diri, baik orang tersebut adalah orang terkenal dan berpengaruh maupun masyarakat biasa. Akan tetapi, dikutip dari pendapat yang dikemukakan oleh Sharon Curran dalam Ciavaglia, perilaku bunuh diri sendiri tidak linier dengan tingkat kekayaan atau pun terkenalnya orang tersebut.

Istilah dari werther effect sendiri tercipta saat salah satu penulis paling terkenal, Goethe, menerbitkan novel karyanya dengan judul The Sorrows of Young Werther yang berisi cerita cinta romansa tetapi berakhir dramatis sebab tokoh didalamnya melakukan bunuh diri. Memang pada masa tersebut, di akhir abad ke-18, karya Goethe satu ini menjadi terbitan yang mampu membangkitkan perasaan emosional para pembacanya. Lebih lanjut lagi, mereka yang merasa nasibnya mirip dengan sang protagonis di dalam novel tersebut mulai terpengaruh untuk mengikuti jejak tokohnya. Konsekuensinya, tingkat kasus bunuh diri pun ikut meningkat.

Masih berkaitan dengan tersohornya karya Goethe, dapat dipetik suatu pembelajaran bahwa pemberitaan yang menyangkut isu bunuh diri harus dilakukan secara hati-hati. Liputan media memang memiliki pengaruh yang cukup kuat di masyarakat. Kuatnya pengaruh tersebut atas pemberitaan bunuh diri dapat memengaruhi pembacanya dan menimbulkan penularan. Hal ini pun sesuai dengan pendapat yang diutarakan oleh penulis Stay: A History of Suicide and The Arguments Againts It, Jennifer Michael Hecht dalam wawancaranya.

Tanggapan Dewan Pers

Kasus bunuh diri membutuhkan sensitivitas yang lebih tinggi bagi para wartawan dalam tahap pengolahan informasinya sebelum dipublikasikan secara luas di masyarakat. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya berita yang dimuat ternyata justru mengandung unsur identitas korban, alamat tempat tinggal, siapa saja keluarganya, alasan melakukan tindak bunuh diri, sampai dengan alat-alat yang digunakan untuk eksekusi. Pemberitaan yang memuat berbagai unsur tersebut sangat berpotensi menimbulkan aksi peniruan bagi para pembacanya yang berpikir dalam kondisi atau keadaan sama seperti yang korban alami. Lantas apa yang harus dilakukan oleh teman-teman jurnalis apabila terdapat kasus bunuh diri?

Merespons permasalahan tersebut, Dewan Pers sendiri memiliki pedoman bagi para jurnalis ketika akan memberitakan kasus bunuh diri. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Dewan Pers Nomor 2/Peraturan-DP/III/2019 tentang Pedoman Pemberitaan terkait Tindak dan Upaya Bunuh Diri.

Pedoman ini diantaranya berisikan tata cara penulisan yang baik, seperti memuat manfaat dari diberitakannya kasus tersebut, menekankan bunuh diri sebagai isu kesehatan jiwa, menghindari isi berita yang menggiring opini buruk, menghindari muatan berisi identitas korban serta lokasi kejadian, menghindari untuk lebih baik tidak menyebut lokasi secara spesifik (jembatan, gedung, tebing, dsb.), tidak menampilkan foto atau gambar dari peristiwa yang bersangkutan, tidak melakukan siaran langsung pada saat korban hendak melakukan bunuh diri, tidak menyebut detil informasi atas peralatan yang digunakan untuk eksekusi, tidak melakukan pemberitaan secara berulang atas kasus yang sama, serta tidak mengaitkan kasus dengan hal mistis atau takhayul.

Oleh karena itu, bagi para jurnalis terutama, dengan melakukan hal-hal tersebut setidaknya telah memberikan dukungan agar kesehatan mental para calon korban tidak semakin terpengaruh untuk melakukan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dilakukan di luar sana.

Anisa Cahyani
Anisa Cahyani
Mahasiswi Ilmu Hukum Universitas Negeri Semarang. Instagram @roussenisaa
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.