Selasa, Mei 18, 2021

Max Havelaar, Inspirasi Perjuangan Tanpa Lelah

Bagaimana Komunitas Kristen Armenia Hidup di Iran?

Bangsa Armenia di manapun mereka berada seringnya dikenal sebagai penganut agama Kristen yang taat. Misalnya saja di Iran, mengutip World Population Review, pada tahun...

Aktivis, Sains, dan Kemajuan Peradaban Manusia

Setiap kali para pejuang HAM dan pembela masyarakat yang tertindas melakukan aksi, ada saja orang yang nyir-nyir: “Ngapain sih berdiri-berdiri ga jelas,” “Aduh, ngapain repot-repot,” "BUBAR WOY!" Ada...

MAARIF Institute Mencegah Bullying

Kasus bullying di kalangan pelajar terus saja terjadi meskipun sudah berbagai upaya dilakukan untuk mencegahnya. Yang tengah hangat menjadi perbincangan publik dan viral di...

IPD dan Kemiskinan Pedesaan

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Pembangunan Desa (IPD), yang menyebutkan jumlah desa tertinggal berkurang sebanyak 6.518 desa menjadi 13.232 desa dibandingkan dengan...
Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta

Dampak dari penerbitan novel Max Havelaar bagi rakyat Indonesia (waktu itu masih bernama Hindia Belanda) bisa dikatakan sama dengan dampak yang ditimbulkan dari terbitnya novel Uncle Tom’s Cabin bagi rakyat Amerika Serikat khususnya yang berkulit hitam atau Noli Me Tangere bagi rakyat Filipina.

Max Havelaar yang pertama kali terbit di negeri Belanda pada tahun 1860 ini menimbulkan kegemparan di negeri Belanda. Selanjutnya melahirkan tuntutan-tuntutan dari dalam negeri Belanda sendiri, agar pemerintah Belanda memberlakukan politik etis bagi rakyat negeri seberang (dalam hal ini Indonesia).

Pemberlakuan politik etis inilah yang memberikan kesempatan bagi segelintir rakyat Indonesia untuk mencicipi pendidikan yang lebih tinggi. Dan sejarah menceritakan kepada kita bahwa generasi itulah yang pada akhirnya memimpin Indonesia bebas dari penjajahan Belanda. Sehingga, dengan pengaruhnya yang sebegitu besar tidak salah Pramudya Ananta Toer mengatakan bahwa novel inilah yang menghabisi zaman kolonialisme.

Max Havelaar memang secara eksplisit bercerita tentang kolonialisme. Novel yang ditulis Eduard Douwes Dekker pada tahun 1859 di sebuah losmen sederhana di Belgia, dengan gayanya yang sangat realis menceritakan ketimpangan yang dilakukan pemerintah Belanda terhadap rakyat di daerah jajahannya.

Douwes Dekker menulis novel ini sebagai bentuk kefrustrasiannya melihat praktik eksploitasi lewat sistem tanam paksa serta kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda yang menindas bumiputra. Dengan nama pena Multatuli yang berarti aku menderita, dia mengisahkan kekejaman tanam paksa yang menyebabkan ribuan pribumi kelaparan, miskin dan menderita. Mereka diperas sedangkan pejabat kolonial Belanda dan pejabat pribumi sibuk memperkaya diri dengan praktik-praktik korupsi.

Diceritakan dalam novel itu, bahwa Douwes Dekker sempat menduduki jabatan controleur di Natal, Sumatera Utara. Kemudian dimutasi ke Padang tepatnya di Sumatera Barat dan Rangkas Bitung, Lebak, Banten. Dia selalu menentang kebijakan atasannya yang selalu merugikan kaum pribumi.

Ketidakadilan dan perampasan hak yang dilakukan Belanda membuatnya bersikukuh untuk melakukan perlawanan dan terus mengkritik model tersebut. Meskipun seorang Belanda, dia justru lebih memilih untukbersimpati pada rakyat pribumi yang teraniaya dan tertindas. Kelakuan pemerintah Belanda terhadap penduduk dianggapnya tidak berkemanusian dan justru memperlihatkan bahwa Negeri Belanda sebagai negeri yang tidak berperadaban.

Akibat dari tekadnya yang sangat keukeuh dalam membela penduduk itu Douwes Dekker pernah diskors. Karena hal itu juga, gajinya hanya dibayar separuh oleh pemerintah Belanda. Pada akhirnya, perlawanannya pada tahun 1856 membuat dirinya diberhentikan dari jabatannya. Bahkan pemerintah Belanda mengajukan Douwes Dekker ke pengadilan.

Setelah kalah dalam perkara ini Douwes Dekker dipulangkan ke Eropa. Namun, semangatnya tidak pernah pudar. Hal ini membuat pemerintah Belanda kesulitan untuk menghilangkan ideologi Douwes Dekker. Dengan menyewa sebuah apartemen sederhana di Belgia, dia memulai melakukan perlawanan. Sifat antikolonialnya ditunjukan tetap dengan cara non-kooperatif, yaitu menolak penindasan, perampasan, penganiayaan, antidiskriminasii.

Meski begitu, sebenarnya Novel ini belum berbicara tentang pembebasan politis, namun baru berbicara tentang pembebasan pada kelas pekerja atau buruh tanam paksa dan kelas bawah atas pengusaha dan penguasa. Akan tetapi, setidaknya lewat keberanian yang dipompakan Multatuli lewat buku ini mulai menyadarkan orang akan kebejatan politik kolonialisme.

Seperti yang dikatakan oleh John F. Kennedy bahwa “Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya”. Jadi, Max Havelaar sebagai sebuah karya sastra memang layak menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin merdeka dan melakukan perlawanan dari segala bentuk penjajahan ketidakadilan.

Pandangan-pandangan Multatuli dapat membuka perspektif orang orang bahwa kita harus melakukan pergerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan yang menjadi hak segala bangsa.

Gerry Katon Mahendra
Dosen Administrasi Publik Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Hari Buku Nasional, Budaya Literasi Kita Masih Rendah!

Dalam sebuah video perjalanannya, Fiersa bersari pernah mengucapkan perbanyaklah membaca buku, supaya pertanyaan bagaimana cara menulis tidak perlu diucapkan lagi. Suatu ungkapan yang menekankan...

Biografi dan Cara Berpikir Hamka (Bagian 1)

Sabtu pagi, 8 Juni 2013, Prof. James R. Rush dari Arizona State University, berkunjung ke tempat tinggal saya di Jakarta, untuk bertukar pikiran tentang...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Nasib Korban Kejahatan Seksual di Indonesia

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh ValueChampion tahun 2019, Indonesia disebut sebagai negara kedua di kawasan Asia Pasifik yang paling berbahaya untuk wisatawan wanita. Bagi...

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Rasa Kemanusiaan Tidak Mengenal Batas Negara

Nampak aneh jika ada seorang manusia bisa berbuat baik tanpa ada alasan apapun dibelakangnya. Itu pikiranku dulu, ternyata hal itu pernah terjadi setelah aku...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.