Di tengah banjir informasi, Al-Ghazali mengingatkan bahwa kita bukan kekurangan ilmu, melainkan hilangnya kemampuan menentukan ilmu yang layak diprioritaskan.
Kita hidup di era ketika pengetahuan tersedia di ujung jari. Buku, jurnal, video, hingga kecerdasan buatan menawarkan jawaban hampir untuk setiap pertanyaan. Namun, mengapa manusia justru semakin gelisah? Mungkin persoalannya selain karena kita kurang belajar, juga karena kita kehilangan arah belajar.
Berabad-abad lalu, Imam Al-Ghazali menawarkan sebuah kompas yang masih relevan hingga hari ini. Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, ia tidak mengajarkan bagaimana mengumpulkan sebanyak mungkin ilmu, tetapi bagaimana memilih ilmu yang benar-benar layak diperjuangkan.
Tiga Jenis Ilmu
Al-Ghazali membagi ilmu menjadi tiga. Pertama, ilmu yang tercela, sedikit maupun banyak. Ilmu seperti sihir, perdukunan, atau segala pengetahuan yang lebih banyak membawa mudarat daripada manfaat adalah racun. Sedikit ataupun banyak, tetap harus dijauhi.
Kedua, ilmu yang semakin diperdalam semakin mulia, yaitu ilmu yang mengenalkan manusia kepada Allah, hikmah penciptaan, dan jalan menuju keselamatan. Lautan ilmu ini tak bertepi; semakin dipelajari, semakin tampak luasnya.
Ketiga, ilmu yang cukup dipelajari sesuai kebutuhan. Seperti keberanian; terlalu sedikit melahirkan kepengecutan, terlalu banyak berubah menjadi kenekatan. Yang terpuji adalah keseimbangan.
Jangan Keliru Antara Alat dan Tujuan
Ilmu-ilmu seperti tafsir, hadis, fikih, usul fikih, bahasa Arab, dan nahwu adalah ilmu yang penting dan cukup dipelajari sesuai kebutuhan (tanpa terlena dengan pendalaman). Bagi Al-Ghazali, ilmu-ilmu ini merupakan alat (wasilah), bukan tujuan akhir.
Karena itu, jangan habiskan seluruh umur mengejar rincian satu cabang ilmu hingga melupakan tujuan utamanya: membentuk manusia yang mengenal Tuhannya dan memperbaiki dirinya.
Kritik ini terasa relevan di dunia modern. Kita sering mengejar gelar, sertifikat, dan spesialisasi, tetapi jarang bertanya: untuk apa semua pengetahuan ini?
Ilmu Hati yang Terlupakan
Inilah kritik Al-Ghazali yang paling tajam. Banyak orang sibuk terlena dengan menyempurnakan tata cara ibadah, tetapi melupakan penyakit hati seperti riya, dengki, tamak, sombong, dan ujub. Padahal, penyakit-penyakit inilah yang merusak seluruh amal.
Al-Ghazali mengibaratkannya seperti orang yang hanya mengolesi kulit dengan salep, tetapi membiarkan sumber penyakit tetap bersarang di dalam tubuh. Luka tampak tertutup, tetapi racunnya terus menyebar.
Karena itu, ulama sejati bukan hanya mengajarkan amalan lahiriah, melainkan juga membersihkan hati. Sebab, hati yang bersih akan melahirkan akhlak yang baik sebagaimana tanah yang telah dibersihkan dari gulma akan dengan sendirinya ditumbuhi tanaman yang indah.
Perbaiki Diri Sebelum Mengurus Dunia
Al-Ghazali kemudian menyusun skala prioritas belajar. Mulailah dari ilmu yang wajib bagi diri sendiri. Perbaiki hati, tinggalkan dosa lahir dan batin, lalu jadikan kebaikan sebagai kebiasaan. Setelah itu, barulah sibuk mengurus kepentingan orang lain.
Beliau mengingatkan, jangan menjadi orang yang sibuk mengusir lalat dari tubuh orang lain sementara di balik pakaiannya sendiri telah bersarang ular dan kalajengking. Apa gunanya memperbaiki dunia jika diri sendiri justru sedang menuju kehancuran? Ibnu Sina dalam al-Siyasah berkata, “orang yang mengurusi orang lain adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri”.
Di era media sosial, nasihat ini terasa semakin penting. Kita begitu mudah mengoreksi orang lain, tetapi sering lupa mengoreksi diri sendiri.
Menata Ulang Arah Belajar
Al-Ghazali tidak pernah meremehkan ilmu pengetahuan. Ia hanya mengajarkan agar setiap ilmu ditempatkan pada proporsinya. Sains, teknologi, hukum, ekonomi, maupun ilmu agama tetap mulia selama menjadi jalan menuju kemaslahatan personal maupun sosial, bukan sekadar kebanggaan intelektual.
Pada akhirnya, ukuran ilmu bukanlah banyaknya yang kita kuasai, melainkan sejauh mana ia membersihkan hati, meluruskan tujuan, dan menghadirkan manfaat. Sebab, ilmu yang benar bukan hanya memenuhi kepala, tetapi juga menerangi hati dan menjadi pelita menuju masyarakat madani.
