Selasa, Juli 16, 2024

Al-Ghazali: Dari Keraguan Menuju Kepastian (2)

Akbar Darojat
Akbar Darojat
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Surabaya Angkatan 21

Setelah yakin akan epistemologi seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya, ia langsung mengklasifikasi 4 golongan pencari ilmu: (1) Mutakallimun adalah adalah golongan yang mengklaim dirinya sebagai ahli pikir dan ahli ahli pemeriksaan, (2). Bathiniyyah adalah golongan yang mendaulat dirinya sebagai orang-orang yang menerima pengajaran dan secara khusus mengambil pelajaran dari seorang Imam yang Ma’shum, (3). Falasifah adalah golongan yang menganggap dirinya sebagai ahli mantiq (logika) dan buktidan, (4). Shufiyyah adalah golongan yang menganggap dirinya telah khowas kepada Allah dan ahli musyahadah serta mukasyafah.

Pemetaan dan pendefinisian tersebut adalah titik berangkat Al-Ghazali untuk melucuti habis-habisan tujuan dan kedok golongan tersebut. Ilmu kalam yang menjadi konsen Mutakallimun—bagi Al-Ghazali—memang awalnya bertujuan untuk mengapologi As-Sunnah dengan argumen-argumen yang kuat dan sistematis; menyingkap kengawuran ahli bid’ah yang tidak senafas dengan As-Sunnah; dan mengeksorsis hama-hama bid’ah dalam batang tubuh As-Sunnah. Tak ayal, ilmu kalam berkembang dengan pesat dan mendapatkan simpati dari banyak orang.

Namun, kaum Mutakallimun justru melangkah lebih jauh dari tugas maha mulia tersebut. Mereka membahas dan berdebat mengenai persoalan dan elemen yang sama sekali tidak produktif seperti, persoalan surga dan neraka; dosa besar dan dosa kecil; Dzat Tuhan dan seterusnya. Menurut Al-Ghazali, masyarakat malah menjadi bingung atas berbagai pertentangan yang mereka perbuat. Kritik Al-Ghazali hanya berhenti sampai di sini. Ia tidak ingin melanjutkan karena ia hanya perlu menceritakan keadaannya dan tak perlu mencela kaum Mutakallimun yang ia anggap sedang sakit.

Sehingga, ia langsung mengurai ilmu filsafat yang dikuasai oleh golongan Falasifah. Al-Ghazali menerangkan bahwa golongan ini terpecah menjadi 3 kubu: (1). Al-Dahriyyun (atheis). Golongan ini termanifestasikan oleh aliran filsafat kuno yang mengingkari adanya Tuhan. Bagi aliran ini, kehidupan ini berjalan dengan sendirinya tanpa campur tangan Tuhan sendikitpun

Alam semesta bisa mengatur dirinya sendiri (self-regulation) tanpa intervensi dari Yang Transenden. (2). Thabi’iyyun (naturalis). Aliran ini lebih banyak menyoroti unsur, gejala dan elemen yang ada di alam semesta ini.

Namun, aliran ini hanya menyelidiki sesuatu yang bersifat fisik saja. Barngakali karena itu aliran ini tak mengimani sesuatu yang bersifat adikodrati, sekalipun Tuhan masih dipancangkan dalam jiwanya. (3)  Ilahiyyun (metafisika/ketuhanan). Aliran inilah yang melucuti berbagai kecacatan yang diperbuat kedua aliran sebelumnya. Aliran ini mempercayai adanya Tuhan dan Sokrates, Plato serta Aristoteles termasuk dalam aliran ini. Namun, setelah ditelisiki oleh Al-Ghazali, ada beberapa bagian dalam aliran ini yang harus dikafirkan dan dibida’hkan. Kendati demikian, ada bagian yang tidak wajib diingkari.

Menurut Al-Ghazali, terdapat 6 bagian dalam ilmu filsafat yang meliputi matematika (riyadliyyah), logika (mantiqiyyah), ilmu alam (thabi’iyyah), metafisika (ilahiyyah), politik (siyasiyyah) dan etika (khalqiyyah). Berkenaan dengan matematika, Al-Ghazali mengatakan bahwa ilmu ini tidak ada hubungannya dengan agama, entah itu menetapkan atau menafikan. Matematika merupakan ilmu aksiomatik yang kebenarannya tak boleh disangkal.

Namun, matematika menimbulkan dua bahaya eksternal: pertama, orang yang mengagumi ketepatan, kejelasan dan kebenaran bukti yang dipaparkan oleh matematika, sehingga menimbulkan kesan bahwa filosof lah pemilik kebanaran.

Dengan pikiran ini, ia berkeyakinan bahwa apabila filosof dengan jelas melakukan kekufuran terhadap agama, maka ia akan mempercayainya dan mengatakan “Seandainya agama memang ada dan merupakan kebenaran, niscaya agama itu tidak akan ditinggalkan oleh para filosof. Sebab para filosof adalah orang-orang yang berpengetahuan sangat luas.” Secara implisit, orang ini adalah orang yang terlalu fanatik dengan filosof, sehingga segala ujaran yang menyembur dari mulut filosof dianggap benar dengan sendirinya.

Kedua, bahaya yang ditimbulkan dari teman-teman yang tak mengerti mengenai Islam yang sesungguhnya. Orang ini akan membersihkan Islam dari bid’ah-bid’ah filsafat. Ia akan menolak ilmu-ilmu filosof secara total demi memurnikan Islam. Tak peduli dengan kebenaran filosof mengenai persoalan Kusyuf dan Khusuf (gerhanan bulan dan matahari). Pokoknya apa saja yang datang dari filsuf sudah pasti salah dengan sendirinya. Orang yang terlalu fanatik dengan Islam ini juga berbahaya. Jika mereka mengetahui kebenaran filsuf tersebut disertai dengan bukti-bukti kuat dan dapat diterangkan secara empiris, maka ia berbalik memusuhi Islam dan menjadi fanatik terhadap filsafat.

Melalui dua bahaya tersebut, Al-Ghazali mengajarkan kita untuk tidak fanatik terhadap sesuatu ilmu. Kita mesti bersikap kritis, obyektif dan menjaga jarak terhadap sesuatu ilmu, kendati ilmu itu tampak istimewa atau bahkan kerap menelurkan kebenaran.

Satu tarikan nafas dengan matematika, logika juga tak ada hubungannya dengan agama. logika adalah alat yang digunakan untuk menemukan dalil, membuat qiyas (analogi), menetapkan syarat-syarat premis, menyusun definisi dan seterusnya. Dengan demikian, logika tak perlu ditolak. Bahkan, logika menjadi bagian dari ilmu yang dimanfaatkan oleh Mutakallimun dan orang yang mempunyai kepentingan untuk mengemukakan dalil.

Berbeda dengan kedua ilmu tersebut yang berkonsentrasi pada ketepatan dan kejelasan argumen, ilmu fisika adalah ilmu yang membahas benda-benda yang ada di langit seperti bintang, bulan dan matahari; sembari juga mempelajari benda-benda yang ada di bawahnya seperti, air, tanah, udara dan api. Ilmu fisika juga menyelidiki hewan, tumbuhan, manusia, benda-benda tambang dan lain-lain. Ilmu inilah yang dipakai oleh kedokteran untuk meneliti anatomi manusia. Sehingga, ajaran agama tak pernah mengingkari ilmu fisika, kecuali beberapa persoalan yang dengan rinci dijelaskan dalam kitab Tahafut Al-Falasifah.

Namun, dalam ilmu ilahiyat (teologi), banyak orang jatuh dalam kekeliruan. Hal ini disebabkan karena mereka tidak mampu memaparkan bukti yang akurat berdasarkan ilmu manthiq. Al-Ghazali merinci 20 kekeliruan itu dalam kitab Tahafut Al-Falasifah. 3 perkara dari kekeliruan itu harus dikufurkan, sementara 17 perkara lainnya harus dihindari. Adapun 3 perkara itu antara lain ialah: (1). Pembenaran atas kebangkitan ruh dan pengingkaran atas kebangkitan jasmani.  (2). Alam semesta yang bersifat Qidam dan Azali.  (3). Penyangkalan bahwa Allah hanya mengetahui dengan Dzat-Nya.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa Al-Ghazali tak pernah menolak filsafat secara keseluruhan. Melainkan hanya menolak filsafat yang berkaitan dengan persoalan ketuhanan atau agama. Penolakan ini timbul karena seringkali filsafat yang menjurus para persoalan ketuhanan/agama tak sesuai—dalam kacamata Al-Ghazali—dengan ajaran Islam.

Akbar Darojat
Akbar Darojat
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Surabaya Angkatan 21
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.