Petikan gitarnya tidaklah riuh dan gegap gempita. Namun, jemari bergerak demikian lincah merupa tarian di atas dawai. Iramanya mampu merobek hening dan memenuhi setiap bagian ruang.
Dilakukan hanya di sebuah kamar bersahaja, jemari Alip Ba Ta memang menari di atas senar. Tidak ada vokalis, tidak ada mikrofon mahal. Bahkan, hanya ada asbak dan panduan membaca huruf serta angka untuk anak-anak di latar belakang.
Namun, lewat teknik fingerstyle yang begitu cair, melodi lagu Galang Rambu Anarki seolah bernapas kembali. Seolah ada gaung suara Iwan Fals meski tanpa bunyi. Setiap gesekan jari dan aksentuasi ketukannya menghidupkan ratapan, harapan, kegelisahan, sekaligus kehangatan seorang ayah.
Dari kepolosan eksekusinya, kita ditarik masuk ke dalam lorong waktu—menuju sebuah kamar kecil pada awal tahun 1982, tempat lagu itu pertama kali lahir dari kegelisahan paling privat seorang Iwan Fals.
Januari 1982, Iwan Fals menggenggam takdir barunya sebagai seorang ayah saat Galang Rambu Anarki lahir ke dunia. Namun, kebahagiaan itu beradu cepat dengan kenyataan getir. Di luar jendela, keputusan politik menaikkan harga BBM menampar nadinya: harga barang melambung, dan sekaleng susu formula pun mendadak menjadi barang mewah yang sulit terjangkau. Di sisi lain, Iwan menaruh harapan besar bahwa Galang akan tumbuh besar, kuat, dan menjadi lelaki yang membuat ibunya tenang kelak.
Dari dinding kamar yang bersahaja, kegairahan Iwan Fals sebagai musisi bertransformasi menjadi lirik-lirik jeritan puitis. Gitar akustik digenjreng, harmonika ditiup dengan napas yang getir. Galang Rambu Anarki lalu bukan sekadar perayaan kelahiran seorang anak, melainkan meneroka catatan harian seorang ayah muda yang bertarung melawan impitan ekonomi.
Pada nada dan lirik yang bersahaja, Iwan membawa misi humanis yang melampaui zamannya. Lagu-lagunya adalah cermin jernih-bening yang menolak memalingkan wajah dari penderitaan kaum pinggiran—mulai dari sopir truk, pengamen, hingga rakyat kecil yang terhimpit sistem. Bahkan, dengan lugas ia membahas kenyataan pahit yang hadir di dunia sosial: lonte.
Iwan tidak sedang berkhotbah, ia sedang memanusiakan cerita-cerita yang kerap dihapus dan dilindas oleh narasi besar kekuasaan. Lewat lirik yang jujur dan apa adanya, musik menjadi media empati yang meruntuhkan jarak antara panggung megah dan garis kemiskinan yang jauh dari kata layak.
Puluhan tahun berlalu, lagu Iwan tentang Galang masih terus membakar kesadaran kolektif. Ia menjadi pendamping setia para orang tua muda yang tengah tertatih membesarkan buah hati. Ia menjadi lagu kebangsaan di sudut-sudut tongkrongan di gang sempit dan kumuh, hingga menjadi suluh pendorong aksi sosial nyata di akar rumput.
Galang Rambu Anarki adalah salah satu bukti bahwa sebuah karya musik sanggup menggugah nurani pun mengubah keprihatinan pribadi menjadi gerakan solidaritas antarsesama.
Kini, jauh setelah tahun 1982 itu berlalu, lanskap negeri masih dipenuh-sesaki oleh kegelisahan sosial dan riuh kesalehan simbolis.
Beban rakyat tak sekadar datang dari melambungnya harga kebutuhan pokok, tetapi juga dari gurita korupsi, praktik KKN, dan kejahatan birokrasi yang tidak saja menjijikkan, tetapi kian menggerogoti keadilan.
Kegelisahan masyarakat makin memuncak saat hukum tampak enggan memihak rakyat kecil, sementara desakan akan kejelasan Undang-Undang Perampasan Aset—sebagai alat memiskinkan para perampok uang negara—masih tertahan di lorong-lorong kekuasaan.
Keprihatinan ini kian diperparah oleh hadirnya program-program pemerintah yang cenderung menghambur-hamburkan anggaran demi citra belaka, tanpa memiliki daya dongkrak (bouncing factor) maupun efek pengganda (multiplier effect) yang nyata untuk memicu pertumbuhan ekonomi masyarakat bawah. Kegelisahan hari ini adalah gaung baru dari jeritan yang sama di masa lalu yang semakin kuat menggema dan melahirkan tangisan tanpa suara.
Sekarang, kehadiran sosok dan spirit seperti Iwan Fals justru terasa kian mendesak. Negeri ini mungkin tidak kekurangan bangunan megah untuk ritual ibadah, tetapi ia amat dahaga akan tindakan humanis yang menjelma menjadi kesadaran sosial bersama.
Musik dan dedikasi Iwan mengingatkan kita pada satu hal mendasar: bahwa bentuk ibadah yang paling nyata di bumi adalah keberanian untuk hadir, merawat sesama yang rapuh, dan memastikan tak ada lagi anak-anak negeri yang kehilangan masa depannya hanya karena susu yang semakin tak terbeli.
Kalau ada waktu, sempatkan menikmati jernih petikan gitar Alip Ba Ta. Cukup untuk sekadar menikmati akhir pekan dengan kejujuran yang semakin susah ditemui di ruang publik.
