Sabtu, April 17, 2021

Kesamaan Deschamp dan Beckenbauer

Menengok Pendidikan Sejarah Kita : Membebaskan atau Membelenggu?

Pernyataan pembuka di atas termuat dalam sebuah buku berjudul “Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia” (2008) yang saya kira sangat pas menjadi fondasi awal untuk...

Wajah Bandung dan Orang-Orang Kota yang Kesepian

Barangkali Sangkuriang tidak akan menyangka, jika danau yang sepatutnya jadi tempat berlayar perahu buatannya waktu itu akan berhenti membendung aliran air dan kemudian nyatanya...

Ramadan dalam Perspektif Kasta Modern

Di hari-hari akhir Ramadan, rumah makan berani buka secara terang-terangan. Tidak sekadar sedikit membuka pintu atau menutupinya dengan kerai bambu. Orang yang tidak puasa,...

Bangsa Republik-Monarki

Sejak kita mendeklarasikan kemerdekaan kita, kita secara resmi telah menepikan sistem dan kultur pemerintahan serta politik masa silam kita. Kerajaan-kerajaan yang dulu ada di...
Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

Franz Beckenbauer adalah legenda sepakbola Jerman (dulu Jerman Barat) khususnya dan dunia pada umumnya. Seorang libero yang taktis dan pintar membaca permainan. Saat menjadi kapten kesebelasan jerman pada tahun 1974 ia mengantarkan timnya menjadi Juara dunia.

Saat itu, di piala dunia tahun 1974, ada tim Belanda yang dimotori oleh Johan Cruyff yang begitu menakutkan dengan gaya total footballnya. Namun dibawah komando sang kaisar, julukan Beckenbauer, Belanda bisa dijinakkan dan Jerman keluar sebagai juara.

Di tahun 1990 saat sang kaisar ini menjadi pelatih Jerman ia berhasil mengantarkan Lothar Mathaeus dkk menjadi jawara setelah di final menaklukkan Argentina yang saat itu masih diperkuat sang legenda Maradona.

Apa yang dicapai oleh Beckenbauer, di piala dunia tahun ini, ada sosok yang hampir sama dengan Beckenbauer dalam pencapaiannya dalam dunia sepakbola. Posisinya bukan seorang libero saat bermain sebagaimana Beckenbauer, namun sebagai gelandang bertahan yang terkenal taktis dan pekerja keras.

Didier Claude Deschamps, nama pria tersebut. saat Prancis menjadi jawara piala dunia 1998 ia adalah kapten kesebelasan yang disegani bahkan oleh bintang prancis ssat itu, Zineddin Zidane. Dengan gaya permainan yang ngotot dan tanpa kenal lelah Deschamps berhasil menjinakkan penari penari Samba Brazil dengan skor 3:0.

Kini, ia berhasil membesut Prancis menjadi juara dunia di Rusia, Deschamps mengikuti jejakl Franz Beckenbauer yang sukses menggondol piala dunia sepakbola baik  sebagai kapten maupun sebagai pelatih.

Perjuangan Deschamps tentunya tidak mudah mengingat lawan yang  dihadapi oleh Prancis adalah tim tim kuat. Sejak babak knock out prancis harus bertemu Argentina di babak 16 besar. Di Final Prancis berhasil menjinakkan tim kuda hitam, Kroasia, yang sudah menampilkan permainan impresifnya sejak fase grup.

Kroasia menjinakkan tim favorit argentina 3:0 di pertandingan fase grup. Dipermepat final bahkan mereka membungkam tuan rumah Rusia lewat pertarungan dramatis yang harus diselesaikan dengan adu penalty setelah bertanding sama kuat 2:2.

Pria kelahiran. Bayyone 15 Oktober 1968 ini terkenal sebagai gelandang bertahan pekerja keras. Posisinya dalam bermain membuat ia terkenal sebagai pengangkut air yang membantu playmaker mengalirkan bola. Saat itu Zidane begitu terbantu dengan adanya Deschamp sebagai gelandang bertahan di tim prancis. Dan tak salah bila Prancis begitu perkasa di akhir 1990-an.

Meski sempat menuai banyak protes dari dalam negeri karena tidak mengikutsertakan Karim Benzema, Deschamp berhasil membuktikan bahwa keputusannya tidak salah. Ia berpendapat bahwa kolektivitas tim lebih utama dari pada keberadaan seorang bintang di lapangan.

Baginya, meski Benzema begitu luar biasa di klubnya, Real Madrid, namun itu tidak mendukung skema permainan yang dibangunnya. Baginya Oliver Giroud, lebih efektif dalam menunjang permainan timnya meski Giroud bukan seorang goal getter.

Kita bisa melihat bukti yang disampaikan oleh Deschamp, meski sepanjang turnamen Giroud tidak mencetak gol tapi perannya dalam membuka ruang dan memberi peluang rekan lainnya untuk mencetak gol begitu besar. Sekali lagi kolektivitas tim adalah kunci kemenangan seperti yang selam ini diyakininya.

Salah satu poin penting yang dilakukan Deschamp adalah berhasil  mengorbitkan Kylian Mbappe menjelma menjadi seorang remaja yang sejajar dengan legenda, Pele. Mbappe adalah bagian dari salah satu remaja yang mampu mencetak gol di final piala dunia sebagaimana yang dilakukan pele di tahun 1958 di Swedia.

Kini, Deschamp telah menyamai prestasi sang Kaisar, yaitu sebagai kapten tim dan pelatih yang memenangi piala dunia. Dunia sudah menyaksikannya. Selamat Monsieur!

Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Generasi Z dan Radikalisme Beragama

Peristiwa ledakan bom di Gereja Katedral Kota Makassar pada 28 Maret 2021 lalu, menggegerkan masyarakat Indonesia. Bukan hanya karena jenis ledakan yang masuk kategori...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Peran Besar Generasi Milenial Menuju Indonesia Maju

Menurut data Badan Pusat Statistika (2020), Indonesia memiliki jumlah penduduk yang cukup tinggi yaitu sekitar 270 juta jiwa dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sebesar 1,25%...

Dua Sisi Media Digital Terhadap Budaya Lokal

Mari kita mulai membaca dan sambil memperhatikan sekitar kita tentang Media,Budaya, dan Jati Diri. Mungkin kita sudah mengetahui istilah Globalisasi. Globalisasi itu ditandai dengan...

ARTIKEL TERPOPULER

Gagalnya Kudeta Terhadap Raja Yordania?

Pada 4 April 2021, Panglima Militer Yordania, Mayjen Yousef Huneiti menyatakan bahwa pihaknya telah meminta secara resmi Pangeran Hamzah untuk menghentikan semua kegiatan atau...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Daniel Dhakidae, Kekuasaan dan Pelanggaran HAM

“Kekuasaan yang tidak memiliki kehormatan, tidak akan pernah mampu menghadirkan keadilan.” Ungkapan yang keras, menohok hati itu diucapkan oleh Bung Daniel Dhakidae awal tahun 2020...

Memandang Terorisme Melalui Evolusi Kultural

Bangsa Indonesia tengah dikejutkan dengan serangkaian serangan terorisme seperti ledakan bom di Gereja Makassar dan serangan ke Mabes Polri. Terorisme setidaknya telah merenggut 21.000...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.