Asap itu naik perlahan, berputar, lalu lenyap di udara. Di mata lahiriah, ia hanyalah abu yang terbakar; di hidung, ia hanyalah aroma yang menguar. Namun, di kedalaman hati manusia, asap yang sama bisa menjelma doa yang melangit, atau justru dituduh sebagai berhala yang menyesatkan.
Dupa tidak pernah bersuara. Ia hanyalah sebatang kayu wangi yang rela habis dimakan api kecil. Manusia-lah yang memberinya makna. Ada yang melihatnya sebagai penghantar permohonan, ada yang menganggapnya penyejuk ruang batin, dan ada pula yang menghakiminya sebagai tanda kesesatan. Namun, benarkah sebatang kayu bisa mencuri kuasa Tuhan?
Agama mengingatkan bahwa syirik adalah ketika manusia menaruh harap pada selain Sang Pencipta. Jika asap dipercaya memiliki kekuatan magis untuk membawa rezeki atau menjamin keselamatan tanpa izin-Nya, maka hati memang telah terikat pada ilusi. Tetapi, jika dupa dipandang sebagai wewangian untuk merawat kekhusyukan, maka ia hanyalah budaya—tak lebih sakti dari api yang menyulutnya.
Kekuatan dupa sebagai simbol nampak nyata dalam tradisi Jawa, Bali, dan Tionghoa. Di sana, dupa adalah bahasa tanpa kata:
- Dalam tradisi Jawa, dupa adalah sasmita atau tali rasa. Saat ritual nyadran atau ziarah, asapnya bukan disembah, melainkan digunakan untuk menciptakan suasana hening. Ia adalah media estetis untuk mengkondisikan jiwa agar lepas dari hiruk-pikuk duniawi menuju kekhusyukan doa.
- Masyarakat Hindu di Bali menempatkan dupa sebagai simbol Dewa Agni atau Dewa Api. Dupa hadir sebagai “saksi” suci dalam setiap yadnya (persembahan). Tanpa api, sebuah ritual dianggap kehilangan unsur penyelarasan antara manusia dan alam semesta.
- Dalam tradisi Tionghoa, membakar hio adalah bentuk etika komunikasi. Tiga batang hio yang diangkat melambangkan keharmonisan antara Langit (Thian), Bumi (Ti), dan Manusia (Ren). Ia adalah jembatan penghormatan kepada leluhur, sebuah tanda bahwa yang hidup tak pernah lupa pada akar sejarahnya.
Tradisi-tradisi ini memandang dupa sebagai sarana, bukan tujuan. Seperti bunga di pusara atau air dalam kendi, ia adalah tanda penghormatan kepada Sang Khalik dan alam ciptaan-Nya.
Seringkali, kita terlalu sibuk menghakimi “bungkus” luar hingga lupa membedah isi di dalamnya. Kebenaran seringkali tidak terletak pada apa yang tertangkap oleh mata, melainkan pada makna yang tersirat di balik setiap sudut pandang yang berbeda. Menilai sesuatu hanya dari permukaannya adalah bentuk ketidakmampuan kita untuk menyelami samudera niat orang lain. Sebelum jari menunjuk sesat, ada baiknya hati bertanya: “Makna apa yang sedang ia bangun melalui asap itu?”
Orang Jawa berpesan, “Urip iku urup”—hidup itu harus memberi cahaya. Maka dupa, bila dimaknai sebagai penerang suasana batin, adalah pengingat agar manusia selalu eling lan waspada. Selalu ingat kepada Tuhan, dan selalu waspada terhadap kesombongan diri yang seringkali lebih berbahaya daripada sekadar asap yang mengepul.
Pada akhirnya, yang menentukan nilai sebuah perbuatan bukan terletak pada batang dupanya, melainkan pada hati yang menyalakannya. Apakah ia menyalakan api untuk memuja benda semu, atau ia menyalakan batin agar lebih jernih berserah pada Sang Pencipta?
Sebab dupa tetaplah dupa. Syirik atau tidaknya bukan berada pada asap yang hilang ditelan angin, melainkan pada keyakinan yang berdiam teguh di dalam dada manusia.
