Dosa Menjadi Buzzer, Perspektif Islam dan Etika Sosial

Ahmad Zainsty
Ahmad Zainsty
State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta Madzhab Comparison student
- Advertisement -

Belakangan ini, fenomena Buzzer atau penggiring opini publik semakin marak di tengah masyarakat. Terlebih lagi dikarenakan adanya konflik Israel-Palestina dan juga beberapa fenomena Politik serta Regulasi Pemerintah yang terjadi di beberapa bulan terakhir. Buzzer, yang sering kali dikaitkan dengan dunia politik dan bisnis, adalah individu atau kelompok yang dibayar oleh suatu instansi untuk menyebarkan pesan tertentu di media sosial guna mempengaruhi opini publik terhadap suatu isu. Meski tampak sederhana dan menggiurkan, menjadi Buzzer tidaklah bebas dari konsekuensi moral, sosial, dan agama yang serius.

Agama Islam sangat menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam menyampaikan informasi dilihat dari adanya beberapa ayat yang menyinggung tentang hal ini. Oleh karena itu Menjadi Buzzer yang menyebarkan informasi menyesatkan atau hoaks adalah tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam.  Hal ini disampaikan oleh Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Al Qur’an juga menjelaskan bagaimana Allah SWT mengecam orang orang menyebarkan berita yang tidak benar dan palsu demi kesenangan pribadinya dengan adzab nya yang sangat pedih. Sebagaimana yang tertulis pada surat An nur ayat 19:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang senang atas tersebarnya (berita bohong) yang sangat keji itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang sangat pedih di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Kedua Ayat ini mengajarkan untuk memilah informasi yang akan disampaikan kepada publik juga pentingnya verifikasi informasi sebelum menyebarkannya.  Menjadi Buzzer yang menyebarkan berita palsu atau tidak diverifikasi berarti melanggar perintah Allah dan dapat menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat.

Keberadaan Buzzer juga dapat merusak tatanan sosial dan demokrasi yang sehat. Demokrasi seharusnya didasarkan pada pertukaran ide dan argumen yang bebas dan jujur. Namun, ketika Buzzer memainkan peran besar dalam membentuk opini publik, proses demokrasi menjadi terdistorsi. Keputusan yang diambil oleh masyarakat atau pemerintah bisa jadi tidak lagi mencerminkan kehendak rakyat yang sebenarnya, melainkan hasil manipulasi oleh kelompok dengan kepentingan tertentu.

Menjadi Buzzer juga dapat merusak kewibawaan seorang Muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

- Advertisement -

“Hendaklah kamu berkata benar, karena sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan itu membawa kepada surga. Dan jauhilah olehmu perkataan dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa kepada neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketika seseorang secara sadar memilih untuk menyebarkan kebohongan demi keuntungan pribadi atau kelompok, mereka tidak hanya menodai nama baik mereka sendiri, tetapi juga menambah beban dosa yang harus mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Pada akhirnya, kesadaran moral dan etika setiap individu sangat penting dalam mencegah dampak negatif dari fenomena Buzzer. Menyebarkan kebenaran dan menjaga integritas dalam setiap tindakan adalah langkah awal untuk membangun masyarakat yang lebih jujur, adil, dan harmonis. Dosa menjadi Buzzer bukan hanya dosa terhadap orang lain, tetapi juga dosa terhadap diri sendiri dan masyarakat secara keseluruhan.

Ahmad Zainsty
Ahmad Zainsty
State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta Madzhab Comparison student
Facebook Comment
- Advertisement -