Selasa, Maret 5, 2024

Darurat Bahaya Narkoba di Kalangan Pelajar

Odemus Witono
Odemus Witono
Odemus Bei Witono, Mahasiswa Doktoral STF Driyarkara, Jakarta.

Saa itu, memasuki tahun 2023, anggota komunitas pendidikan banyak berharap agar proses pembelajaran berjalan secara baik, tanpa gangguan berarti. Ada beberapa penyebab “gangguan” terhadap proses pendidikan, antara lain adanya kerusuhan, bencana, kekacauan sistem manajemen, penyalahgunaan, dan tindak kriminal. Pada kesempatan ini, penulis berfokus membahas penyalahgunaan Narkoba di kalangan pelajar.

Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika, psikotropika, obat-obatan terlarang, dan zat adiktif. Peredaran Narkoba di banyak tempat sangat memprihatinkan. Berdasarkan laporan Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dalam kurun waktu 2021 hingga pertengahan 2022 berhasil mengungkapkan 55.392 kasus tindak pidana Narkoba dengan 71.994 tersangka.

Kasus Narkoba, di Indonesia ibarat mata rantai melingkar yang tidak mudah diputuskan, apalagi dihancurkan. Butuh upaya radikal berkesinambungan guna mengatasi persoalan luar biasa, karena de facto kasus Narkoba secara nasional dari tahun ke tahun berada dalam skala jumlah yang besar, bahkan modus operandi pengedaran barang “haram” tersebut semakin canggih.

Salah seorang pejabat BNN RI, melalui pesan singkat kepada penulis mengatakan, war on drugs atau perang terhadap Narkoba. Pernyataan tegas yang demikian sangat masuk akal mengingat betapa dahsyat jejaring sindikat kejahatan Narkoba bekerja meracuni hidup generasi muda.

Para pengedar Narkoba, berupaya memasarkan barang “haram” tersebut ke semua lapisan di masyarakat. Paparan paling krusial menyasar anak remaja yang masih bersekolah. Dalam dunia pendidikan, kategori yang dapat dipakai, yaitu “darurat terhadap bahaya Narkoba”.

Kategori demikian perlu dipertegas, karena berdasarkan laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia 2021, korban coba pakai di kalangan pelajar, 57 % dari total penyalahgunaan Narkoba. Ada 13,2% remaja terjerat tidak pidana Narkotika yang diikuti dengan kasus asusila.

Sungguh menyedihkan, ada begitu banyak orang muda yang menjadi korban sindikat kejahatan Narkoba. Oleh karena itu Jumat, 20 Januari 2023, Perkumpulan Strada mengadakan seminar nasional bertajuk Membangun Generasi Bebas Narkoba dengan mengundang pembicara Deputi BNN Cegah, Bpk. Irjen. Pol. Drs. Richard Nainggolan, S.H., M.M., MBA. dan penyintas Narkoba & Program Officer Sekretariat Nasional Jaringan Indonesia Positif Indra Simorangkir.

Kedua narasumber menegaskan bahwa penyalahgunaan Narkoba di Indonesia sangat berbahaya, dan potensial menghancurkan masa depan generasi muda. Korban Narkoba, ibarat pohon menurut Pak Richard, yang hancur adalah bagian akar sehingga batang pohon, cabang, dan ranting sekuat apapun akan roboh.

Bahaya Narkoba langsung menyerang organ penting seperti akar pada pohon, yaitu otak, dan sistem syaraf manusia. Barang-barang terlarang itu secara liar menstimulasi daya khayal, dan imajinasi semu yang dapat menimbulkan halusinasi. Akibatnya fungsi otak menjadi rusak, dan sulit sekali untuk dipulihkan kembali.

Persoalan Narkoba perlu diatasi mulai dari hulu hingga hilir, dari tindakan pencegahan preventif hingga penanggulangan kuratif. Jika dilakukan secara simultan, maka diharapkan korban Narkoba dapat semakin berkurang. Keluarga, dan sekolah bagi pelajar merupakan benteng pertahanan utama dalam upaya pencegahan terhadap bahaya Narkoba.

Para pelajar perlu dibekali mengenai pemahaman bahaya dan dampak buruk Narkoba. Informasi terkait pencegahan dapat diakses mereka melalui berbagai sumber informasi baik secara virtual melalui internet, maupun media langsung tertulis berupa brosur, dan penyuluhan anti Narkoba.

Dalam analisis Fields (2017) ada tiga kategori pencegahan, yaitu pertama, pencegahan primer terhadap mereka yang tidak pernah mencoba Narkoba. Pencegahan primer dilakukan melalui cara menegakkan norma larangan penggunaan dengan membangun harga diri yang positif, mengembangkan keterampilan mengatasi dan penolakan yang baik, dan memberikan informasi tentang bahaya Narkoba.

Kedua, pencegahan sekunder terhadap mereka berada pada tahap awal penggunaan tetapi tidak rutin menggunakan obat-obatan. Strategi pencegahan sekunder mencoba menghentikan penggunaan Narkoba dengan memberikan informasi, mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan dan penolakan, dan meningkatkan komunikasi keluarga; mungkin juga termasuk konseling individu yang dilakukan oleh guru konseling.

Ketiga, pencegahan tersier terhadap mereka yang secara teratur mulai menggunakan Narkoba tetapi belum menjadi pengguna biasa. Pencegahan tersier meliputi konseling, pendidikan obat, dan terapi keluarga. Ada garis sangat halus yang membedakan antara tingkat layanan pencegahan tersier dengan pengobatan kuratif.

Para pendidik — dalam banyak kesempatan — perlu melakukan pengarahan, memberikan nasihat, paparan argumentatif, dan rambu-rambu peringatan terkait bahaya Narkoba (Mathews, 1975).

Jika pendidik menemukan pengguna aktif, diharapkan menjadi mediator pelajar untuk menghubungi keluarga, dan tenaga profesional yang sudah terbiasa mengatasi penyalahgunaan Narkoba.

Sebagai catatan akhir, keluarga, dan sekolah merupakan tempat penting bagi pelajar melakukan pencegahan terhadap bahaya penyalahgunaan Narkoba. Pihak sekolah perlu menjalin kerja sama dengan pihak kepolisian dalam hal ini, BNN RI di masing-masing kabupaten.

Para pelajar dan guru perlu menjaga diri agar tidak terpapar pengedaran Narkoba. Pencegahan yang dilakukan bersama merupakan faktor penting dalam gerakan melawan Narkoba.

Semoga para pelajar setelah melakukan upaya preventif, aman terhadap bahaya Narkoba. Dengan demikian, masa depan luhur mereka pun dengan rasa optimis, akan lebih mudah tercapai.

Odemus Witono
Odemus Witono
Odemus Bei Witono, Mahasiswa Doktoral STF Driyarkara, Jakarta.
Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.