Pengangguran adalah kondisi ketika seseorang yang termasuk dalam angkatan kerja belum mempunyai pekerjaan dan sedang berusaha mendapatkan pekerjaan atau mempersiapkan usaha. Pengangguran sering kali dilihat dengan cara yang terlalu sederhana sebagai hasil dari kesalahan individu itu sendiri. Stigma bahwa orang yang tidak bekerja adalah orang yang tidak punya semangat, tidak berusaha, atau hanya malas seringkali menghiasi pembicaraan di masyarakat. Pandangan individualistis ini tidak memperhatikan fakta bahwa fenomena pengangguran bukan hanya masalah pilihan pribadi, melainkan tanda dari ketidakseimbangan dan kelainan struktur sosial yang lebih luas.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran juga mencakup orang yang sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha, atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan meskipun bersedia bekerja jika ada kesempatan (Pengangguran. n.d.). Saat jumlah orang yang tidak punya pekerjaan meningkat di tengah perubahan terus-menerus dalam sistem ekonomi, masalah utamanya bukan berada pada sifat moral para pencari kerja. Perbedaan akses terhadap pendidikan yang baik, perlakuan tidak adil di dunia kerja, pemutusan hubungan kerja karena otomatisasi, serta kurangnya jaringan pertemanan dan hubungan sosial yang kuat, merupakan faktor-faktor struktural yang menghalangi kesempatan individu.
Dalam perspektif sosiologi, khususnya melalui kacamata sociological imagination karya C. Wright Mills, pengangguran harus dilihat bukan hanya sebagai masalah pribadi (personal trouble), melainkan sebagai isu publik (public issue) (Bourdieu 2018). Orang-orang dari kelompok yang terpinggirkan sering kali terpisah dari jaringan profesional yang kuat, sehingga meskipun mereka memiliki kemampuan yang cukup, tetap merasa kesulitan untuk masuk ke pasar kerja. Selain itu, fenomena ketidaksesuaian antara kurikulum pendidikan dan kebutuhan industri menunjukkan bahwa lembaga-lembaga pendidikan gagal dalam menyelaraskan sistem pendidikan dengan kondisi perekonomian nyata.
Sosiologi ekonomi memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena ini melalui Teori Keterikatan Sosial (Embeddedness) dari Mark Granovetter, yang menegaskan bahwa tindakan dan peluang ekonomi seseorang tertanam kuat dalam jaringan hubungan sosial (Granovetter 2017). Dalam mencari pekerjaan, ikatan lemah seperti teman dekat atau jaringan profesional dari luar menjadi cara utama untuk menyebarluaskan informasi lowongan kerja yang tidak tersedia secara umum. Individu dari kelas sosial yang terpinggirkan sering kali tidak memiliki pekerjaan bukan karena malas, tetapi karena mereka sulit mendapatkan akses ke jaringan sosial yang bisa membantu mereka.
Selain kendala modal sosial, struktur pasar kerja modern yang semakin fleksibel dan mengarah pada gig economy serta kerja prekariat juga memperparah posisi para pencari kerja. Banyak pemuda yang mencari pekerjaan terjebak dalam pekerjaan yang tidak pasti, magang tanpa upah, atau kontrak singkat yang tidak menjamin masa depan karir mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa tidak adanya pekerjaan yang baik bukan karena seseorang tidak ingin bekerja, tapi karena jumlah pekerjaan yang tersedia tidak cukup dan tidak mampu memberikan kestabilan ekonomi.
Dampak pengangguran tidak hanya menyebabkan masalah uang, tetapi juga memengaruhi pikiran dan hubungan antarmanusia.Stigma buruk dari masyarakat terhadap orang yang tidak memiliki pekerjaan sering kali membuat mereka merasa tidak diakui, mengurangi rasa percaya diri, dan berisiko mengalami tekanan mental yang terus-menerus (Gallie, Paugam, and Jacobs 2003).
Kondisi terisolasi ini akhirnya merusak hubungan sosial di dalam keluarga dan komunitas, menciptakan siklus berulang di mana keterasingan sosial semakin membuat sulit bagi seseorang untuk bangkit kembali dan ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi. Ketika dukungan sosial berkurang karena tekanan stigma, energi psikologis yang seharusnya digunakan untuk mencari pekerjaan baru justru digunakan untuk mengatasi tekanan mental dan rasa bersalah yang sebenarnya tidak harus ditanggung sendirian.
Pengangguran adalah masalah yang tidak bisa dipahami hanya dari satu sudut pandang saja. Ketika seseorang belum mendapatkan pekerjaan, itu tidak berarti ia tidak mau bekerja atau tidak berusaha memperbaiki kondisi hidupnya. Ada beberapa hal yang bisa menghambat, seperti jumlah lowongan pekerjaan yang sedikit, persaingan yang semakin sengit, keterbatasan kemampuan, hingga kesulitan memperoleh informasi mengenai kesempatan kerja. Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap orang tidak selalu memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pekerjaan.
Pandangan publik yang menganggap orang tidak bekerja karena malas sebaiknya dipertimbangkan lagi. Penilaian semacam itu bisa membuat orang yang belum bekerja merasa lebih stres, meskipun mereka mungkin sedang berusaha mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Masalah pengangguran perlu diperhatikan oleh semua pihak, seperti pemerintah, perusahaan, lembaga pendidikan, dan masyarakat, agar peluang kerja menjadi lebih banyak dan merata bagi semua orang. Akhirnya, yang penting bukan hanya apakah seseorang sudah bekerja atau belum, tetapi juga bagaimana kondisi sosial dan ekonominya memengaruhi kemungkinan mereka untuk mendapatkan pekerjaan. Dengan cara itu, kita bisa lebih memahami masalah pengangguran tanpa terburu-buru menyalahkan orang yang mengalaminya.
Referensi
Bourdieu, Pierre. 2018. “The Forms of Capital.” The Sociology of Economic Life, Third Edition 78–92. doi:10.4324/9780429494338.
Gallie, Duncan, Serge Paugam, and Sheila Jacobs. 2003. “UNEMPLOYMENT, POVERTY AND SOCIAL ISOLATION: Is There a Vicious Circle of Social Exclusion?” European Societies 5(1):1–32. doi:10.1080/1461669032000057668.
Granovetter, Mark. 2017. “Economic Action and Social Structure : The Problem of Embeddedness Author ( s ): Mark Granovetter Source : American Journal of Sociology , Vol . 91 , No . 3 ( Nov ., 1985 ), Pp . 481-510 Published by : The University of Chicago Press Stable URL : Http://Www.Jstor.Org/Stable/2780199 Economic Action and Social Structure : The Problem of Embeddedness ’.” 91(3):481–510.
Pengangguran., BPS –. Konsep dan Definisi. n.d. “STATISTIK KETENAGAKERJAAN KABUPATEN SOLOK SELATAN 2023.”
