Tren Camilan Manis dan Risiko Kesehatan

- Advertisement -

Satu hal yang rasanya sulit dihindari manusia adalah makanan manis. Makanan yang mengandung gula biasanya memang sulit untuk ditolak. Kadang kita hanya berniat makan satu, tetapi setelah mencobanya kita malah ingin makan lagi.

Camilan manis hampir selalu ada di sekitar kita, mulai dari minimarket, kafe, hingga aplikasi pesan antar makanan, sehingga sangat mudah ditemukan dan sering dipilih. Selain rasanya enak, bentuk dan warnanya juga memikat mata. Apalagi kini banyak makanan yang sengaja dibuat dengan tampilan estetik agar layak diunggah ke media sosial. Makanan manis tidak hanya membuat kita ingin mencicipi, tetapi juga ingin terlihat mengikuti tren. Di titik inilah makanan mulai bergeser dari sekadar kebutuhan menjadi bagian dari gaya hidup. Salah satu contoh yang paling terasa saat ini adalah Dubai chewy cookie.

Kudapan manis satu ini berasal dari Korea Selatan, negeri ginseng terinspiarsi dari cokelat dubai pistachio kunafa yang sangat tren  pada tahun 2024. Para pembuatnya memodifikasi menggunakan bahan utama marshmallow, diberi isian kunafa dan pasta pistachio untuk memeperkaya cita rasanya bagian terluar dibaluri dengan bubuk cokelat . Teksturnya yang kenyal dan rasanya yang berbeda dari makanan biasa membuat banyak orang penasaran untuk mencobanya.  Ukurannya yang kecil dan isiannya yang lumer di mulut juga menjadikannya ide konten makanan yang menarik untuk dibagikan. Tidak heran jika banyak anak muda, terutama Generasi Z, akhirnya membeli kudapan ini setelah melihatnya di media sosial.

Sebenarnya, tidak masalah jika kita menikmati makanan manis sesekali, dan kita juga tidak harus selalu menghitung jumlah kalori dari makanan yang kita makan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut dilakukan terlalu sering. Makanan yang awalnya hanya dimakan sesekali bisa berubah menjadi hampir setiap hari. Masalahnya, dampak gula berlebih jarang terasa langsung, sehingga kita cenderung menganggapnya aman. Bahaya  terbesar bukan pada satu kali makan, melainkan pada kebiasaan makan makanan manis yang kita anggap sepele, karena dalam jangka panjang kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Kandungan gula dalam satu keping Dubai chewy cookie Menteri Kesehatan memperkirakan angkanya sekitar 25–30 gram gula dengan kalori 500–1.000 per keping, meski angka ini bukan hasil uji laboratorium dan bisa berbeda pada setiap produk. Untuk ukuran sekitar 50 gram, estimasinya jauh lebih kecil, yakni 280 kalori dan 18 gram gula (Akurat, 2026). Perbedaan yang mencolok ini membuat saya berpikir bahwa ukuran dan resep sangat menentukan, tetapi pembeli jarang memperhatikannya.

Kita cenderung menilai kudapan dari tampilan dan rasanya yang kenyal, bukan dari ukuran atau kandungan gizinya. Padahal, jika satu keping saja sudah menyumbang sekitar separuh batas konsumsi gula harian, satu kali jajan sudah cukup untuk memakan sebagian besar jatah gula sehari. Karena itu, bagi saya, persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak membeli, melainkan seberapa sadar kita terhadap apa yang kita makan.

Dari kebiasaan itu meningkatkan faktor risiko penyakit diabetes melitus, diabetes melitus sering dianggap sebagai penyakit orang dewasa atau lansia yang tidak ada hubungannya dengan anak muda. Namun, data berkata lain. Sebagian besar kasus diabetes di dunia, sekitar 90 hingga 95 persen, adalah diabetes tipe 2, dan di Indonesia jumlah penyandangnya diperkirakan naik dari 10,2 juta orang pada 2017 menjadi 16,7 juta pada 2045 (Murtiningsih et al., 2021).

Pergeseran usia kejadian diabetes melitus menjadi perhatian karena penyakit yang sebelumnya lebih banyak ditemukan pada orang dewasa kini juga perlu diwaspadai pada kelompok usia yang lebih muda. Penelitian menggunakan data survei kesehatan nasional Indonesia tahun 2013, 2018, dan 2023. Hasilnya menunjukkan prevalensi diabetes pada penduduk berusia 15 tahun ke atas sebesar 10,7% pada 2013, 11,8% pada 2018, dan 11,3% pada 2023. Penelitian ini juga menemukan bahwa prevalensi diabetes meningkat seiring bertambahnya usia. (Muharram et al., 2025)

Angka ini seharusnya menjadi peringatan bahwa diabetes bukan lagi persoalan yang jauh dari kita. Penyakit ini tidak muncul dalam semalam, melainkan tumbuh dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus, dari mengonsumsi karbohidrat berlebih seperti makan nasi, tepung dan juga minum-minuman yang mengandung banyak gula termasuk kebiasaan membeli camilan manis hanya karena sedang viral. Karena itu, kesadaran terhadap asupan gula sebaiknya dimulai sejak muda, bukan menunggu hingga tubuh memberi tanda bahaya. Pada akhirnya, makanan manis seharusnya menjadi kenikmatan, bukan kebiasaan yang tidak terkendali. Camilan boleh manis, tetapi kesadaran harus lebih manis.

Terdapat beberapa cara untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit diabetes melitus dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti makan makanan yang bergizi sesuai dengan panduan pembagian isi piringku. Membatasi makanan cepat saji yang mengandun msg. Mengurangi konsumsi gula berlebih dari cemilan, minuman bersoda atau yang mengandung banyak perisa tambahan.  Melakukan olahraga dan aktivitas fisik secara rutin dan konsisten. Menjaga berat badan ideal. Mengontrol gula darah dan melakukan pengecekan kesehatan berkala di fasilitas kesehatan terdekat.

- Advertisement -

 

Daftar Pustaka

Chandra Putri (2026) Dubai Chewy Cookie Viral, Berapa Kalori dan Gula dalam Satu Potong. https://www.akurat.co/health/892581/dubai-chewy-cookie-viral-berapa-kalori-dan-gula-dalam-satu-potong

Muharram, F. R., Swannjo, J. B., Melbiarta, R. R., & Martini, S. (2025). Trends of diabetes and pre-diabetes in Indonesia 2013–2023: a serial analysis of national health surveys. BMJ Open, 15(9), 1–11. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2024-098575

Murtiningsih, M. K., Pandelaki, K., & Sedli, B. P (2021). Gaya Hidup sebagai Faktor Risiko Diabetes Melitus Tipe 2. E-CliniC, 9(2), 328. https://doi.org/10.35790/ecl.v9i2.32852

 

 

 

 

Facebook Comment
- Advertisement -