Dari Senapan Usang ke Rudal Presisi: Evolusi Laskar Houthi Menantang Monarki Saudi

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Sirene bahaya meraung tanpa henti di seantero selatan Arab Saudi. Rentetan ledakan dahsyat mengguncang instalasi vital, disusul kabar bahwa kawanan drone kamikaze dan rudal balistik tengah menghujani pembangkit listrik, pos perbatasan, hingga fasilitas strategis jauh di jantung kerajaan. Dalam beberapa pekan terakhir, pemandangan mencekam ini seolah bertransformasi menjadi rutinitas harian. Houthi tak henti-hentinya menembakkan gelombang senjata murah melintasi batas negara. Di seberangnya, militer Saudi—kendati dibentengi alutsista dan jet tempur tercanggih AS bernilai miliaran dolar—tetap kepayahan membendungnya.

Pertanyaannya: mengapa dari sekian banyak negara di Timur Tengah—seperti Yordania, Oman, Mesir, UEA, hingga Qatar—kebencian paling pekat dan obsesif kelompok Houthi tertuju khusus kepada Arab Saudi?

Banyak yang mengira bara ini tersulut akibat perang Gaza, blokade jalur Laut Merah, atau sekadar manuver pion proksi Iran belakangan ini. Namun, tajuk berita hari ini sejatinya baru menyentuh kulit terluarnya.

Akar perseteruan ini bukan baru kemarin bersemi, melainkan telah berurat akar selama empat dekade. Api dendam ini dikobarkan oleh invasi ideologis, terkoyaknya martabat suku-suku lokal, serangkaian pemberontakan gerilya di lereng berbatu, hingga kampanye agresi udara delapan tahun yang menyeret sebuah bangsa ke tepi jurang kelaparan.

Untuk membedah mengapa sekelompok milisi gunung bertekad membakar Arab Saudi, kita harus memutar waktu kembali ke era 1970-an dan 1980-an. Secara geografis, Yaman menempel tepat di selatan Arab Saudi. Di bagian utaranya terbentang Sa’dah, benteng alam berbatu yang selama seribu tahun lebih dipimpin oleh komunitas Muslim Syiah Zaidiyah.

Zaidiyah adalah corak Islam yang unik. Kendati berakar pada Syiah, secara teologis dan fikih alirannya memiliki kedekatan luar biasa dengan tradisi Sunni. Selama ratusan tahun, jemaah Zaidi dan Sunni di Yaman beribadah berdampingan di bawah satu atap masjid tanpa riak kebencian. Mereka hidup mandiri, memelihara tradisi keilmuan, dan menjunjung tinggi otonomi kultural.

Semuanya jungkir balik ketika petrodolar meledak pada 1970-an. Mengapung di atas kekayaan minyak yang melimpah, Riyadh menyepakati kompromi politik dengan ulama Wahhabi-Salafi: keluarga kerajaan mendanai dakwah transnasional, sementara para ulama mengganjar dinasti penguasa dengan legitimasi religius. Proyek ekspor paham ini merambah dunia, dan sasaran paling empuk tak lain adalah tetangga miskin di pekarangan sendiri: Yaman.

Dana segar mengalir deras ke pelosok utara Yaman. Kompleks madrasah raksasa didirikan tepat di episentrum komunitas Zaidi, salah satunya yang paling menonjol berada di Dammaj—halaman belakang kaum Houthi. Para dai Saudi masuk dan mulai mendoktrin generasi muda bahwa warisan keagamaan leluhur mereka sesat dan usang. Lewat iming-iming tunjangan tunai, santunan logistik, dan beasiswa keagamaan, nilai-nilai lama dibeli secara sistematis. Bagi suku-suku pegunungan yang bangga akan asal-usulnya, ini bukan dakwah; ini adalah agresi kultural terang-terangan dari tetangga adidaya yang menyusup ke ruang tamu dan merampas jati diri anak-anak mereka.

Luka inilah yang melahirkan perlawanan di bawah figur kuncinya: Hussein Badreddin al-Houthi. Sadar bahwa identitas Zaidi di ambang kepunahan, Hussein pada era 1990-an menginisiasi gerakan Believing Youth (Forum Pemuda Beriman). Mulanya, perkumpulan ini sekadar ruang pembinaan budaya, bumi perkemahan pemuda, dan aksi sosial. Namun, di baliknya terselip seruan politik yang lantang: jaga marwah budaya, lawan cengkeraman riyal Saudi, dan bongkar perselingkuhan rezim ibu kota yang telah menjual bangsanya.

Kritik itu beralasan kuat. Selama puluhan tahun, rezim di Sana’a di bawah komando Ali Abdullah Saleh menganaktirikan wilayah utara. Saleh sengaja membiarkan Saudi mengobrak-abrik lanskap keagamaan Yaman asalkan kucuran dana bilateral tetap mengalir. Bagi Riyadh, Yaman yang kuat, bersatu, dan demokratis adalah skenario mimpi buruk; mereka lebih menyukai negara penyangga yang lemah dan terbelah. Melalui diplomasi amplop kepada para kepala suku dan pemeliharaan faksi-faksi yang saling sikut, Yaman sengaja dipasangi selang penunjang hidup (life support).

- Advertisement -

Khotbah-khotbah sengit Hussein al-Houthi yang mengecam monarki Saudi sebagai antek Barat seketika memikat puluhan ribu simpatisan. Merasa terancam oleh gelombang pembangkangan ini, pemerintah Yaman pada 2004 mengerahkan brigade tempur ke utara untuk membungkamnya. Pertempuran sengit meletus. Hussein terpojok di persembunyian gua berbatu Sa’dah sebelum akhirnya dieksekusi oleh aparat.

Sana’a berasumsi bahwa melenyapkan sang komandan akan mengubur ideologinya. Perhitungan itu meleset telak. Gugurnya Hussein menjadikannya figur martir. Gerakannya mengalami militerisasi penuh, mengadopsi nama sang martir, dan terlahir kembali sebagai faksi tempur Houthi.

Antara 2004 hingga 2010, pegunungan Sa’dah menjadi saksi bisu enam ronde perang berdarah. Di balik layar, Saudi senantiasa menyuplai logistik, senjata, dan intelijen demi menghabisi gerilyawan. Bara api memuncak pada 2009 ketika baku tembak meluber ke teritorial kerajaan. Untuk kali pertama, jet dan artileri Saudi menyerang langsung posisi Houthi. Namun, bukannya tertekan, para milisi gunung justru mempermalukan pasukan penjaga perbatasan Saudi lewat taktik gerilya yang lincah. Sejak detik itu, permusuhan fisik kedua kubu resmi terpahat permanen.

Memasuki 2011, badai Arab Spring menghempas kawasan. Gelombang unjuk rasa di Sana’a menuntut mundurnya Presiden Saleh yang berkuasa korup selama tiga dekade. Riyadh lekas bermanuver mengawal transisi kekuasaan, menunjuk sang wakil setia, Abdrabbuh Mansur Hadi, sebagai nakhoda baru. Bagi Houthi, manuver ini adalah lelucon: Hadi tak lebih dari boneka boneka baru pesanan Riyadh demi melanggengkan status quo.

Puncaknya terjadi pada akhir 2014. Merasa jalur diplomasi buntu, laskar Houthi turun gunung, menerobos Sana’a, dan menduduki sentra-sentra kekuasaan hampir tanpa perlawanan berarti. Presiden Hadi dijadikan tahanan rumah, sebelum akhirnya kabur ke Aden lalu dievakuasi ke pelarian di Riyadh.

Garis batas telah dilanggar. Pintu gerbang selatan Saudi kini tak lagi dipegang loyalis berbayar, melainkan dikuasai milisi bersenjata anti-Saudi yang bercokol di perbatasan dan mengendalikan urat nadi Laut Merah. Kepanikan pun menjalar di Riyadh.

Maret 2015, arsitek pertahanan muda yang ambisius, Mohammed bin Salman, menggelar Operasi Badai Penentu (Operation Decisive Storm). Berbekal koalisi sepuluh negara, armada tempur Barat, bom berpemandu satelit, dan dukungan intelijen modern, perang ini mulanya diproyeksikan tuntas dalam hitungan pekan. Targetnya jelas: mengusir Houthi, melumat gudang persenjataan, dan mendudukkan kembali sang presiden pro-Riyadh.

Namun, hitungan pekan itu membengkak menjadi satu dekade petaka berdarah. Alih-alih tunduk, laskar Houthi justru berkamuflase di balik dinding gunung. Saudi menggempur membabi buta dari udara sembari memberlakukan blokade total lewat laut dan udara di pelabuhan-pelabuhan strategis. Bantuan tertahan, pasokan medis macet, dan bahan bakar menguap. PBB melabeli krisis Yaman sebagai bencana kemanusiaan terburuk di bumi. Jutaan jiwa diintai kelaparan, wabah kolera merenggut nyawa anak-anak, dan generasi muda tumbuh dalam trauma raungan mesin jet tempur. Alhasil, jika sebelumnya publik Yaman menyimpan keraguan terhadap Houthi, bom-bom Saudi justru memicu solidaritas nasional untuk bangkit melawan musuh bersama.

Di sinilah letak ironi geopolitik terbesarnya: agresi tersebut menjadi senjata makan tuan bagi Riyadh.

Sebelum 2015, poros Teheran-Houthi sebatas kedekatan ideologis dengan sokongan finansial marjinal; Houthi murni faksi pemberontak lokal dengan agenda domestik. Namun, ketika digempur oleh teknologi militer tercanggih tanpa opsi mundur, Houthi menyambut uluran tangan siapa pun. Sinyal dikirim ke Teheran dan Hizbullah—dan Iran dengan antusias menyambutnya.

Bagi Iran, inilah perang paling murah dan efektif sepanjang sejarah. Tatkala Saudi menghamburkan ratusan miliar dolar untuk jam terbang armada jet mahal, Teheran cukup menyisihkan recehan anggaran guna menyelundupkan modul kendali rudal, suku cadang drone, dan tenaga teknisi lewat rute-rute bawah tanah. Dalam sekejap, petarung gunung berbekal bedil usang disulap menjadi kekuatan asimetris berbahaya yang piawai merakit drone bunuh diri dan meluncurkan proyektil balistik berdaya jangkau ratusan mil.

Peta pertempuran pun berbalik arah. Houthi mulai membalas dengan menghujani pangkalan militer, bandara sipil, hingga urat nadi minyak Saudi Aramco. Klimaksnya terjadi pada September 2019, ketika serbuan drone dan rudal jelajah seketika melumpuhkan separuh kapasitas produksi minyak mentah Arab Saudi hanya dalam hitungan jam.

Riyadh tersudut oleh kalkulasi ekonomi yang timpang. Sebuah pencegat rudal Patriot AS berharga 3 hingga 4 juta dolar, sedangkan sebuah drone rakitan Houthi—yang ditenagai mesin pemotong rumput dan dipandu chip GPS komersial—hanya menelan biaya belasan ribu dolar. Perang asimetris ini perlahan menguras pundi-pundi monarki sekaligus menelanjangi rapuhnya pertahanan mereka.

Kini, lanskap telah bergeser. Putra Mahkota Mohammed bin Salman tengah bermanuver membebaskan kerajaan dari ketergantungan minyak lewat visi transformasi: membangun megapolitan NEOM, memancing raksasa teknologi, menggenjot pariwisata ultra-mewah, serta menggelar panggung dunia seperti World Expo. Megaproyek bernilai triliunan dolar mustahil terwujud jika langit negeri kerap digetarkan sirene serangan udara dan maskapai global waswas melintas.

Sadar tak lagi dapat memenangi perang di rawa-rawa Yaman, Riyadh kini berupaya keras menghentikannya—menggelar diplomasi sunyi di balik pintu tertutup demi menyepakati gencatan senjata permanen dengan sang musuh bebuyutan.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -