OUR NETWORK
Selasa, Oktober 4, 2022

Azyumardi Azra Pergi sebagai Jiwa yang Abadi

Mohamad Asrori Mulky
Penyintas di Jalan Ilmu; Pernah Nyantri di PonPes Subulussalam, Kresek, Banten dan Pondok Tahfidz Daarul Qur'an, Cikalahang Dukupuntang, Cirebon

Dalam suasana negeri masih diterpa awan mendung akibat kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang kian menambah beban hidup masyarakat, kita dikejutkan kabar duka atas berpulangnya cendikiwan ternama Prof. Azyumardi Azra, CBE, ke pangkuan Sang Pengatur Segala, Allah SWT. “Dan duka maha tuan bertahta”, demikian Chairil Anwar menggambarkan suasana lirih akibat ditinggal orang-orang terkasih.

Prof. Azyumardi Azra, CBE, menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (18/9/2022), di Rumah Sakit (RS) Serdang di Selangor, Malaysia, saat hendak memenuhi undangan diskusi “Kosmopolitan Islam: Mengilham Kebangkitan, Meneroka Masa Depan”. Kini, Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, setelah sebelumnya Buya Syafi’i Ma’arif lebih dulu memenuhi panggilan Illahi.

Di forum seminar ilmiah itu, Prof. Azyumardi Azra sebetulnya sudah menyiapkan tulisan berjudul“Nusantara Untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan peran Umat Muslim Asia Tenggara”. Dalam makalahnya, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, bicara tentang kemungkinan kebangkitan Peradaban Islam—dia biasa menyebutnya sebagai Kebangkitan Peradaban Islam Jilid II—yang muncul di Asia Tenggara.

Tesis kebangkitan Peradaban Islam jilid II yang dimungkinkan dimulai di wilayah Nusantara, di mana Indonesia sebagai kawasan paling potensial, itu dia kemukakan setelah melihat negara-negara Timur Tengah hingga kini masih dicabik perpecahan dan konflik internal yang tak kunjung usai. Negara-negara Islam terkotak-kotak kedalam kepingan persoalan kekinian yang membuat ‘macet’ keran persatuan dan kesatuan umat Islam.

Sementara Barat, kata Prof. Azyumardi Azra, kian mengalami ‘kemerosotan peradaban’ (the decline of Western civilization), dan kian gugup menyaksikan kebangkitan ekonomi China dalam beberapa tahun belakangan. China memang sedang menjadi kekuatan baru dan penantang dominasi Barat. Saat ini, kebangkitan China terjadi tidak hanya dalam sektor ekonomi, tapi juga sains dan teknologi. Ini membuat Barat, terutama Amerika Serikat (AS), ketar-ketir, dan mulai melakukan tekanan demi tekanan ke negeri yang berjuluk tirai bambu itu.

Wacana tentang ‘kebangkrutan’ peradaban Barat sebetulnya sudah diramalkan oleh banyak ahli dan pengamat internasional. Salah satunya, seperti dikutip Prof. Azyumardi Azra, adalah Fareed Zakaria. Dalam The Post American World (2008) Fareed Zakaria meramalkan kejayaan AS akan habis bersamaan dengan segala kebijakannya yang kontroversial dan merugikan masyarakat dunia. Pengalaman pahit yang kini dialami masyarakat Irak adalah buah dari kesewenang-wenangan AS. Kini, Irak menjadi porak, menjadi kepingan masyarakat yang tercecer tanpa arah.

Dalam situasi seperti itu, Indonesia dan Malaysia, yang mewakili ‘suara dari Asia Tenggara’, mesti segera mengambil bagian dalam percaturan global untuk kemajuan peradaban Islam.

Prof. Azyumardi Azra optimistis hanya Indonesia dan Malaysia yang bisa mengambil peran kebangkitan Islam. Optimisme tentang kebangkitan Islam di Nusantara, tentu saja, kata Prof. Azyumardi Azra, mensyaratkan umat Islam membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind. Pada saat yang sama umat Islam harus lebih menumbuhkan orientasi ke depan daripada romantisme tentang kejayaan peradaban Muslim di masa silam.

Di mata saya, Prof. Azyumardi Azra adalah guru sejati. Pengabdiannya pada ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan begitu tulus. Jalan hidup seperti itulah yang dia pilih hingga akhir hayatnya. Sebagai guru, dia telah memenuhi tugasnya, yaitu menerangi kegelapan alam pikiran manusia. Sebagai murid/mahasiswanya, saya telah banyak, dan bahkan ingin selalu mereguk ilmu pengetahuan darinya—bila perlu sampai suara kedunguan dalam diri ini sudah tidak lagi terdengar.

Semasa hidupnya, Prof. Azyumardi Azra konsisten menjaga moralitas negeri agar tetap berjalan pada nilai-nilai luhur keadaban. Suara pembelaannya pada hak-hak minoritas begitu nyaring terdengar hingga tak satu ‘syetan’ pun mampu merintangi jalannya. Dalam konteks nasional, dia rawat demokrasi subtansial dengan cara membuka ruang kebebasan bagi setiap warga negara untuk berpendapat dan berkarya.

Dalam lingkup wawasan keislaman, dia gencar memberi pemahaman yang memadai tentang moderasi beragama (Islam Washatiyah), yang merupakan ciri dari Islam Nusantara (NU) dan Islam Berkemajuan (Muhammadiyah). Kedua ormas keagamaan ini dia sebut sebagai dua sayap Islam Indonesia yang satu sama lain saling mendukung dan melengkapi untuk masa depan masyarak Islam dan keutuhan bangsa.

Sementara dalam konteks global, dia sering terlibat dalam diskusi dan dialog internasional mengenai hubungan kerukunan beragama dan relasi agama-agama. Atas dedikasi dan pengabdiannya pada ilmu pengetahuan dan konsistensinya mempromosikan moderasi beragama dan dialog kerukunan beragama, Prof. Azyumardi Azra mendapat gelar kehormatan Commander of the Order of British Empire (CBE) dari Ratu Alizabeth II.

Sebagai Guru Besar Sejarah Islam, karyanya “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII” memantik banyak diskusi hangat di kalangan pakar. Keberhasilan Prof. Azyumardi Azra melacak jaringan dan geneologi keilmuan ulama Timur Tengah dengan Nusantara mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah pujian dari Prof. MC Ricklefs yang mengatakan hal itu kepada Fakhry Ali: “This is a very good dissertation”.

Penelitian disertasi Prof. Azyumardi Azra ini menepis asumsi yang umumnya dinyatakan akademisi Barat bahwa Islam Indonesia adalah Islam pinggiran, tidak otentik lantaran bukan berasal dari sumber asalnya. Padahal menurut dia, Islam Indonesia juga berasal dari sumber yang sama, meski ekspresinya berbeda. Perbedaan ekspresi keagamaan justru menunjukan citra Islam yang amat lentur dan akomodatif terhadap budaya.

Prof. Azyumardi Azra adalah cendikiawan mandiri. Dia konsisten menjaga jarak dari bau harum kekuasaan. Dia lebih setia kepada kebenaran pengetahuan yang diyakininya ketimbang ‘bisikan’ elite negara yang kerap menyalahi hati nurani rakyat. Perlawananya pada korupsi dan diskriminasi, serta pembelaanya pada kaum lemah, mencirikan pribadi yang peduli pada nilai-nilai kemanusiaan.

Prof. Azyumardi Azra adalah sosok yang mumpuni dalam banyak bidang. Rasanya sulit mencari penggantinya dalam waktu dekat ini. Kepergiannya untuk selama-lamanya tentu meninggalkan duka yang mendalam, tidak hanya bagi keluarga, bangsa, tapi juga masyarakat dunia.

Memang, ujung dari perjalanan manusia di dunia adalah kematian. Sebab hidup, kata Martin Heidegger, adalah menuju kematian. Ibarat pengembara merindukan jalan pulang. Begitu juga setiap manusia merindukan ruang kembali pada Yang Maha Suci. Manusia harus menyempurnakan perjalanan panjangnya di dunia dengan kembali pada asal primordialnya, yaitu kampung spiritual.

Dalam keyakinan saya, Prof. Azyumardi Azra tidak pergi. Dia masih ada bersama kita. Lewat karya dan tulisannya kita masih akan tetap bisa membersamainya. Takdir tubuh memang hancur, lebur bersama amuk waktu. Tapi karya cipta berupa buku akan tetap abadi meski melewati ribuan waktu. Prof. Azyumardi Azra, meski kini engkau berada di alam yang berbeda, engkau pergi sebagai jiwa yang abadi. Selamat jalan, prof!

Mohamad Asrori Mulky
Penyintas di Jalan Ilmu; Pernah Nyantri di PonPes Subulussalam, Kresek, Banten dan Pondok Tahfidz Daarul Qur'an, Cikalahang Dukupuntang, Cirebon
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.