Senin, Mei 17, 2021

Membaca Jokowi dan Tantangan Kabinet Agile

Nawa Cita Jokowi dan Tragedi Ahmadiyah

ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/nz/16. Kami merasa tak memiliki pemerintah. Kami dilarang beribadah. Warga membunuh saudara kami. Pemerintah setengah hati melindungi, membiarkan kami mengungsi (Nayati, Jemaah...

Tafsir Konstitusi Presiden Harus “Orang Indonesia Asli”

Ketika masalah kewarganegaraan Archandra Tahar mencuat yang berujung pemberhentian dirinya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, saya langsung teringat soal syarat untuk menjadi...

Perjuangan Muhammadiyah untuk Keadilan Siyono

Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas (kedua kiri), Ketua tim dokter forensik dr Gatot Suharto SpF (kiri) serta dua Komisioner Komnas HAM Siane Indriani (kedua...

Sukses Asian Games Bukan Keajaiban Anak-Anak dari Keluarga Miskin

Asian Games segera berakhir. Tentu saya ikut senang dan memberi selamat kepada seluruh pihak yang memungkinkan keberhasilan perhelatan ini dan terdongkraknya prestasi Indonesia pada...
Avatar
M. Athar Januar
Menamatkan kuliah hingga S2 pada tahun 2008 di University of Karlsruhe, Jerman, dengan pendalaman Software Engineering dan tesis di National University of Singapore (NUS). Konsultan di IT Project Management, Project Management Office (PMO), Change Maagement, dan Agile. Wasekjen Ikatan Alumni Jerman (IAJ).

Ada beberapa sosok agile (gesit dan lincah) di tubuh Kabinet Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Lantas, tantangan-tantangan apa yang akan mereka hadapi kelak?

Mari kita fokuskan kepada beberapa karakter agile tersebut: Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Erick Thohir di Kementerian Badan Usama Milik Negara (BUMN), dan Wishnutama di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 

Saya mencoba terlebih dulu membaca pikiran Presiden Jokowi dan menyimpulkan ekspektasinya:

Nadiem Makarim mendapat tugas bagaimana mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul seperti sosoknya: muda, pintar, memiliki jiwa entrepreneur, dan melek teknologi.

Erick Thohir mendapat tugas mentransformasi BUMN supaya tidak lagi menjalankan tugas negara saja, tapi sebagai profit center yang dikelola secara profesional dengan key performance indicator/KPI (profit and loss).

Wishnutama mendapat tugas membuat pariwisata yang merupakan potensi terbesar Indonesia non-sumber daya alam (SDA) bisa tergali secara kreatif sehingga pertumbahan ekonomi di daerah bisa tumbuh secara mandiri.

Bagaimana dengan tantangan untuk mewujudkan itu semua? Banyak! Daftar tantangannya akan sangat panjang, namun menurut hemat saya ini yang terberat antara lain.

Pertama, kultur. Kultur adalah kebiasaan di dalam suatu organisasi yang sudah turun temurun dan mengakar. Berbeda dengan perusahaan yang mereka bangun, Kementerian sudah ada sejak mereka belum lahir! Proses, prosedur operasional standar (SOP), aturan tertulis, dan tidak tertulis sudah berjalan sejak saat itu.

Dan kita semua tahu, kultur pemerintahan kita adalah sangat birokratif dan lambat. Pengambilan keputusan penting dan urgen bisa memakan waktu berminggu-minggu, sehingga roda pemerintahan berjalan lambat, alias tidak agile

Kedua, organisasi. Kementerian memiliki organisasi sangat besar dan luas yang mencerminkan besarnya wilayah republik kita ini. Ukuran organisasi seperti ini membuat sulitnya berkoordinasi, sehingga gerakannya menjadi pelan dan lambat. Tidak hanya itu, organisasi yang besar membuat mereka tidak saling kenal sehingga dapat memunculkan ego sendiri-sendiri dan akhirnya mereka bekerja berdasarkan fungsi mereka masing-masing. No teamwork means no agility!

Ketiga, birokrasi. Birokasi yang mengutamakan paperwork ketimbang hasil sebenarnya untuk menghindari cacat administrasi yang dapat berakibat panjang, seperti menjadi temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) hingga menjadi kasus hukum. Kondisi ini membuat tim menjadi tidak berani mengambil risiko dan akibatnya roda pemerintahan berjalan bukan berdasarkan hasil, namun sempurnanya administrasi.

Keadaan ini mematikan inovasi dan ide-ide kreatif yang justru sedang gencar-gencarnya diharapkan lahir dari sosok-sosok agile seperti mereka.

Keempat, people. Orang-orang di dalamnya sangat bervariasi dengan latar belakang yang berbeda-beda, dan motivasi kerja yang macam-macam. Walau orang nomor satunya sudah agile, tantangannya adalah bagaimana orang-orang di bawahnya yang menjalankan itu semua ikutan agile, karena pada akhirnya yang menjadi eksekutor bukan Nadiem, Erick Thohir, atau Wishnutama, tapi mereka yang di bawahnya. Apabila mereka tidak agile, maka mimpi pemerintahan berjalan dengan cepat tidak bisa diwujudkan. 

Menghadapi tantangan-tantangan di atas, kita harus buatkan roadmap dan menurut saya dengan usulan tiga tahapan besar. 

  1. Perubahan. Mengubah kultur organisasi merupakan pekerjaan rumah (PR) terberat buat mereka, karena tanpa perubahan tidak mungkin tujuan besar dari Jokowi bisa terealisasi. Perubahan kultur tidak bisa berjalan dalam waktu singkat (teorinya), namun ada beberapa BUMN yang berhasil mengubah kultur organisasinya dalam waktu  yang singkat (tidak perlu sebut nama).
  2. Perkembangan. Dari perubahan diharapkan adanya perkembangan yang mengarah kepada tujuan besar tersebut. Dalam agile dikenal istilah inspect & adapt, di mana proses perkembangan perlu improvisasi dan cepat beradaptasi dengan kondisi dari masing-masing organisasi.
  3. Pencapaian. Tahapan inilah di saat hasil tercapai, yaitu hasil dari kabinet agile yang dengan cepat dan lincah dalam waktu yang singkat berhasil mewujudkan mimpi besar di masing-masing kementerian yang dipimpin oleh sosok agile.

Jadi, kesimpulannya, hal pertama yang harus dilakukan adalah membuat perubahan yang mendorong perkembangan untuk meraih pencapaian yang diharapkan Presiden Jokowi dan kita semua yang juga punya ekspetasi tinggi kepada mereka.

Lalu, apa setelah itu? Saya akan mendetailkan kunci mewujudkan perubahan di kementerian yang mereka pimpin. Tentu, tak ada yang tidak mungkin untuk diwujudkan, yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari kita semua membantu mereka!

Bacaan terkait

Nadiem Makarim dan Kabinet Jokowi yang Agile

Saatnya Jokowi Memilih Kabinet Agile (Gesit dan Lincah) [Bagian 2 – Habis]

Bersama Nadiem, Saatnya Mendefinisikan Kembali Esensi Pendidikan

Menakar Nasib Pendidikan di Tangan Bos Gojek

Avatar
M. Athar Januar
Menamatkan kuliah hingga S2 pada tahun 2008 di University of Karlsruhe, Jerman, dengan pendalaman Software Engineering dan tesis di National University of Singapore (NUS). Konsultan di IT Project Management, Project Management Office (PMO), Change Maagement, dan Agile. Wasekjen Ikatan Alumni Jerman (IAJ).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Indonesia dan Konflik Palestina: Langkah Ekstrem

Akhir Ramadhan diwarnai dengan serangan yang berulang dari Zionis Israel kepada Palestina. The Reuters melaporkan bahwa tembakan roket dan serangan Israel berlangsung secara masif...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Individualisme dan Kecenderungan Nalar Eksploitasi

Sebelum Siddhata Gautama mencapai puncak pencerahan nirwana. Di masa kecilnya, ia pernah diajak ayahnya untuk menghadiri aktivitas pembajakan tanah yang oleh masyarakat setempat, dianggap...

Resolusi Kemandirian Pangan

Beberapa waktu yang lalu terjadi kegaduhan akibat statemen yang dilontarkan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi tentang rencana impor beras. Sejumlah kalangan kemudian bereaksi dan memberikan...

Diskursus Proporsionalitas Pidana dalam Kebijakan Formulasi Sanksi Pidana

Pada bulan Maret lalu, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI menyampaikan laporan terkait pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas Tahun 2021. Dalam laporan tersebut disampaikan...

ARTIKEL TERPOPULER

Tegakkan P3SPS Secara Keseluruhan

Televisi merupakan sebuah media telekomunikasi yang terkenal dengan fungsi sebagai penerima siaran gambar bergerak dan suara, dalam bentuk monokrom (hitam-putih) maupun berwarna. Kata "televisi"...

Doa dan Puisi untuk Palestina

Kamis malam ini (24-8-2017) akan digelar acara “Doa untuk Palestina”. Diprakarsai oleh Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, acara yang akan berlangsung di Grahana...

Membedah Ucapan Jokowi soal Bipang Ambawang

Ucapan Presiden Jokowi soal ajakan kepada masyarakat untuk membeli makanan khas daerah, salah satunya bipang Ambawang, menjadi kehebohan baru. Ucapan itu terdapat dalam potongan...

Strategi Mengikis Angka Golput

Golongan putih (Golput) atau perilaku non-voting (orang-orang yang tidak menggunakan hak pilihnya) masih menjadi bayang-bayang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019. Padahal, pesta demokrasi ini akan diselenggarakan...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.