OUR NETWORK
Selasa, Desember 7, 2021

Merawat Sungai

Bahasa Slang dalam Game

Guru Honorer, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.

Di lereng Pegunungan Dieng, tak jauh dari rumah kami, ada sebuah mata air terkenal: Tuk Bima Lukar. Ini mata air purba yang legenda­nya masih dituturkan secara turun-­temurun hingga kini.

Legenda itu mengambil cerita Mahabharata. Bima, kesatria Pandawa, syahdan menerima wangsit tentang bagaimana mengalahkan pasukan Kurawa di medan perang. Bima harus telanjang (lukar) dan mandi di pancuran kolam sebuah mata air.

Pandawa terbukti menang. Dan sampai sekarang orang percaya mandi atau cuci muka di mata air Bima Lukar akan membuat mampu mengalahkan waktu: tetap awet muda.

Legenda, mitos, dan dongeng ada di mana-­mana, termasuk dalam masyarakat Jawa tradisional. Itulah salah satu cara para leluhur memandang hidup dan alam; cara mereka memberi tahu kita tentang pentingnya sesuatu.

Bima Lukar sangat penting. Inilah mata air Sungai Serayu, sungai terbesar di Jawa Tengah, yang bermuara di Samudra Hindia. Jutaan masyarakat kota­-kota kecil seperti Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, dan Cilacap bergantung hidupnya, baik secara langsung maupun tak langsung, dari kelestari­an sungai ini.

Bukan kebetulan jika pada Agustus ini Serayu menjadi tuan rumah Kongres Sungai Indonesia, per­temuan nasional yang jarang diketahui. Pertemuan ini membahas berbagai aspek: budaya, ekonomi, sosial, dan spiritual. Pada intinya mengingatkan kem­bali pentingnya sungai dalam kehidupan manusia.

Pertemuan seperti itu penting di tengah kerusakan lingkungan daerah­-daerah aliran sungai, serta isu global tentang kelangkaan air. Orang bilang, perang di masa depan bukan lagi memperebutkan minyak, melainkan air bersih.

Para pelajar berangkat sekolah menumpang rakit bambu menyeberangi Sungai Bogowonto di Desa Borowetan, Banyuurip, Purworejo,  Jateng, Kamis. ANTARA FOTO/ Anis Efizudin

Ironisnya, banyak mata air hilang akibat penggun­dulan hutan. Sungai­-sungai mengering ketika kema­rau, seperti pernah saya lihat bahkan di Kapuas, Kali­mantan. Di dasar sungai terpanjang Indonesia itu anak-­anak bisa main sepak bola. Sebaliknya, sungai membawa banjir ketika musim hujan. Dan, di antara dua musim ekstrem itu, airnya berlumpur, beracun, serta padat sampah.

Banyak kota, pusat ekonomi ataupun pusat peradaban masa lalu Indonesia bertumpu pada kelestarian muara dan delta­-delta. Itu menjadi bagian integral dari peradaban maritim kepulauan Indone­sia. Tapi, kini muara­muara sungai cepat dangkal dan tercemar, menurunkan kualitas ekonomi, sosial, bah­kan budaya keseluruhan bangsa kita.

Jika ingin menghidupkan peradaban maritim, pemerintahan Joko Widodo perlu memandang penting revitalisasi sungai. Bukan justru sebaliknya. Rencana pembangunan Waduk Jatigede di Jawa Barat dan 49 waduk besar lain di seluruh Indonesia, berlawanan dengan semangat itu.

Bendungan­-bendungan besar memang dibangun dengan niat bagus: mengendalikan banjir, mengairi sawah demi swasembada pangan, dan membang­kitkan listrik. Tapi, dalam praktik, tujuan baik tidak sepenuhnya tercapai, sementara ongkos sosial dan lingkungannya sangat mahal.

Dari pengalaman internasional, bendungan besar tak hanya mengubah sungai alami, tapi juga mendo­rong orang merusak hutan. Bendungan, kata Arun­ dhati Roy, aktivis sosial India, punya daya rusak seperti bom nuklir. Makin besar makin merusak.

Di sisi lain, pembangunan waduk memicu gegar budaya: ratusan ribu keluarga harus menyingkir. Petani yang tergusur harus mencari tempat tinggal baru dan jenis pekerjaan baru.

Bendungan menggusur petani dan menenggelam­ kan lahan pertanian subur yang sering justru ber­lawanan dengan motif swasembada pangan. Petani yang kehilangan lahan membabat bukit dan gunung, memperbesar ancaman longsor, serta mempercepat pelumpuran waduk.

Jika revitalisasi sungai menjadi prioritas, membuat jaringan waduk-­waduk kecil yang dirancang secara matang dengan mempertimbangkan berbagai aspek akan lebih bermanfaat ketimbang membangun bendungan raksasa. Risikonya juga lebih mudah diantisipasi.

Pelestarian sumber air dan pengendalian banjir tak bisa lain kecuali merawat aliran sungai alami serta menjaga keutuhan hutan di gunung dan perbukitan. Hutan yang menghidupi mata air.

Sebagai mata air Serayu, Tuk Bima Lukar adalah simbol penting Kongres Sungai Indonesia tahun ini. Bahkan mereka yang tak percaya mitos atau legenda perlu menyadari bahwa melestarikan mata air dan merawat sungai akan membuat masyarakat atau bangsa tetap “awet muda”. Bergairah secara ekonomi, sosial, seni, dan budaya.

Avatar
Farid Gaban
Editor in Chief The Geo TIMES.
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.