Selasa, Mei 28, 2024

Ini Asumsi Dasar Makro Ekonomi di RAPBN 2016

Suasana Sidang Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5). Sidang Paripurna ke-29 tersebut mengagendakan mendengar keterangan pemerintah mengenai Pokok-pokok pembicaraan pendahuluan RAPBN Tahun Anggaran 2016, laporan Tim Implementasi Reformasi DPR serta penetapan struktur Tim Mekanisme Penyampaian Hak Mengusulkan dan Memperjuangkan Program Pembangunan Daerah Pemilihan (DAPIL). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Suasana Sidang Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (20/5). Sidang Paripurna ke-29 tersebut mengagendakan mendengar keterangan pemerintah mengenai Pokok-pokok pembicaraan pendahuluan RAPBN Tahun Anggaran 2016, laporan Tim Implementasi Reformasi DPR serta penetapan struktur Tim Mekanisme Penyampaian Hak Mengusulkan dan Memperjuangkan Program Pembangunan Daerah Pemilihan (DAPIL). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Badan Anggaran Dewan Pewakilan Rakyat dan pemerintah telah menyepakati poin-poin yang akan menjadi asumsi dasar makro ekonomi dalam penyusunan Rancangan Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (RAPBN) 2016.

“Pemerintah dalam menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk tahun anggaran 2016 supaya lebih realistis. Dengan mengacu pada perkembangan kondisi perekonomian nasional saat ini,” kata Ketua Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat, Ahmadi Noor Supit, dalam dalam Rapat Paripurna di Kompleks Parlemen Jakarta, Selasa [7/7].

Dia memaparkan, dari hasil rapat kerja Badan Anggaran DPR dengan pemerintah, telah diambil beberapa kesimpulan mengenai asumsi dasar makro untuk penyusunan RAPBN 2016. Pertama, pertumbuhan ekonomi pada tahun depan dipatok sebesar 5,5 sampai 6 persen. Angka itu turun dari yang diusulkan pemerintah sebelumnya sebesar 5,8 sampai 6,2 persen.

Kedua, inflasi ditetapkan berada pada kisaran 3 sampai 5 persen atau 4 plus minus 1 persen. Ketiga, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat adalah Rp13.000 sampai Rp13.400 per dolar. Nilai tersebut naik dari usulan awal yakni Rp12.800 sampai Rp13.200 per dolar. Keempat, tingkat suku bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan yakni 4-6 persen.

Kelima, harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) dipatok sebesar US$60 sampai 70 per barel dari sebelumnya US$ 60 sampai 80 per barel. Keenam, lifting minyak ditargetkan 800 ribu sampai 830 ribu barel per hari (BPH) dari usulan awal 830 ribu-850 ribu BPH. Ketujuh, lifting gas bumi 1.100 ribu-1.300 ribu BPH setara minyak dari sebelumnya 1.100 ribu-1.200 ribu BPH setara minyak.

Sementara dari segi pembangunan, pada 2016 ditargetkan tingkat pengangguran disepakati sebesar 5,2 sampai 5,5 persen. Kedua, angka kemiskinan 9 sampai 10 persen. Ketiga, tingkat ketimpangan sebesar 0,39 persen. Keempat, indeks pembangunan manusia sebesar 70,10 persen.

Dengan demikian, menurutnya, arah kebijakan fiskal pada 2016 ini ditujukan untuk penguatan pengelolaan fiskal guna memperkokoh fundamental pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Karenanya, perlu strategi untuk mencapai target tersebut yakni dengan memperkuat stimulus, yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan penguatan daya saing.

Kemudian, memperkuat ketahanan fiskal agar berdaya tahan, sehingga mampu menjaga terlaksananya program-program prioritas meski di tengah jalan menuai tekanan yang kuat, serta mempunyai daya redam yang efektif untuk merespon ketidakpastian ekonomi. Terakhir, mengendalikan risiko dan menjaga kesinambungan fiskal dalam jangka menengah dan panjang. [*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.