Minggu, Mei 26, 2024

5 Lagu Asyik Pengantar Mudik

Aksi panggung Iwan Fals/ANTARA
Aksi panggung Iwan Fals/ANTARA

Dari kesyahduan irama folk hingga kegarangan heavy metal.

Kementerian Perhubungan memprediksi tahun ini pemudik Lebaran mencapai 20 juta orang. Orang-orang perantauan akan melakukan perjalanan penuh perjuangan untuk berlebaran di kampung halaman. Bertemu sanak saudara. Sembari mengenang masa kecil yang riuh, bertemu kawan-kawan lama sekondan perbuatan usil dan kenakalan anak-anak, dan tentu menemui orang tua yang penuh welas asih.

Orang Jawa menyebut mudik dengan istilah telasan atau penghabisan. Idiom yang tepat bagi para pemudik. Selama setahun, para perantau bekerja dan mengumpulkan uang untuk mudik. Untuk menghabiskan hasil kerjanya di kampung. Membaginya untuk para adik dan keponakan atau memberikan sebagian rezeki pada orang tua.

Mudik tidak sekadar perpindahan antarkota atau antarpulau. Bagi orang Indonesia, mudik adalah ritual. Mudik adalah budaya. Mudik adalah Indonesia. Baik muslim maupun non-muslim, semua bersuka cita saat mudik.

Berikut saya pilihkan 5 lagu untuk mudik. Lagu-lagu yang mengingatkan kita tentang rumah. Mengingatkan kita, para manusia, bahwa sejauh apa pun melangkah, rumah akan selalu menunggu kita.

  1. Silampukau – Lagu Rantau (Sambat Omah)

Band folk asal Surabaya ini membuat kata “pulang” jadi terdengar kerah putih sekali. Ini lagu para pekerja rantau yang “…berharap jadi kaya”. Tapi ternyata setelah bekerja, para perantau ini sadar bahwa hidup adalah pengulangan dan perihal membayar utang.

Kerja semakin berat. Tak ada waktu untuk melakukan hobi lagi. Nihil waktu untuk berkumpul sembari ngopi santai. Pada akhirnya, para pekerja rantau tak lagi punya kekuatan selain keinginan untuk pulang ke rumah.

O, demi Tuhan atau demi setan
sumpah aku ingin rumah untuk pulang!

  1. Komunal – Higher Than Mountain

Band heavy metal ini beranggotakan para perantau dari Sumatera dan Kalimantan yang telah lama bermukim di Bandung. Wajar jika mereka punya banyak stok kerinduan untuk kampung halaman.

“Higher Than Mountain” adalah perwujudan sempurna untuk rasa kangen itu. Dimainkan dengan format akustik dan harmonika, lagu ini mendapat tambahan kesyahduan. Kisahnya tak jauh dari para pengelana yang merindukan rumah, nun jauh di sana.

When all the time I stared the moonlight
I miss the place where I grow up
When the bird singing
It’s hard to say goodbye

  1. Ozzy Osbourne – Mama I’m Coming Home

Sebenarnya Ozzy menciptakan lagu indah ini untuk sang istri, Sharon, yang dipanggilnya Mama. Namun lagu ini sangat cocok buat para anak yang pergi jauh dari sang ibu. Waktu bisa mengubah banyak hal pada anak dan ibu. Ozzy menyebutnya:here I come but I ain’t the same.

  1. Iwan Fals – Ujung Aspal Pondok Gede

Lagu legendaris ini bisa mewakili dua hal secara bersamaan: perasaan rindu rumah, sekaligus menggambarkan betapa jahat dan serakah pembangunan.

Di lagu ini, Iwan berkisah lancar tentang kenangan masa kecil, balai bambu buatan ayah, ibu yang penuh kasih, dusun yang rimbun, penduduk yang ramah, dan teman bermain masa kecil di samping rumah pak lurah.

Pondok Gede, nama kampung itu, akhirnya jadi bukti keserakahan pembangunan. “Angkuh tembok pabrik berdiri. Satu per satu sahabat pergi. Dan tak akan pernah kembali,” Iwan bernyanyi dengan lirih.

Kini lagu ini makin relevan dan terasa menemukan pembenaran. Ada banyak pabrik yang dibangun di desa dan dusun. Menghilangkan dan menghancurkan tanaman yang menghijau. Semua kenangan masa kecil rata sudah dengan tanah.

  1. Cat Stevens – Father and Son

Ini tidak melulu tentang mudik dalam arti yang sebenarnya. Tapi lagu ini sangat cocok buat hubungan antara anak lelaki –bisa juga son diganti dengan daughter bagi anak perempuan– dan sang ayah.

Saya rasa, semua anak lelaki pernah bentrok dengan ayahnya. Entah soal kecil, entah soal prinsipiil. Anak muda memang diberkahi energi dan kemarahan yang meluap. Sedangkan seorang ayah pasti mendapatkan kebijakan dari pelajaran masa lalu. Pada titik ini, ayah dan anak lelakinya kerap berseberangan.

Banyak sekali anak lelaki dewasa yang memutuskan pergi dari rumah agar tak melulu bentrok dengan ayah. Bisa juga karena merasa tak cocok dengan pandangan ayah. Saya salah satunya.

Kini, saat saya sudah lebih dewasa dan tak lagi mudah marah terhadap apa pun, saya merasa perkataan ayah dulu benar adanya. Namun, waktu itu saya terlalu mentah dan keras kepala untuk memahaminya.

Lagu ini saya persembahkan bagi semua anak lelaki yang mudik untuk sungkem pada sang ayah. [*]

Facebook Comment

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.