Anabul Vs Balita

- Advertisement -

Perubahan demografis yang dramatis terjadi di kawasan perkotaan Asia, terutama di Tiongkok. Bagi semakin banyak pasangan muda dan pekerja, kehadiran anak biologis di rumah kini secara bertahap digantikan oleh hewan peliharaan. Data dari China Pet Industri White Paper mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, jumlah hewan peliharaan di kawasan perkotaan Tiongkok secara resmi telah melampaui jumlah anak di bawah usia empat tahun.

Bahkan, lembaga keuangan Goldman Sachs (2024) memproyeksikan bahwa pada tahun 2030, populasi kucing dan anjing di perkotaan akan melebihi 120 juta, hampir tiga kali lipat jumlah balita, yang diperkirakan akan menyusut menjadi di bawah 40 juta. Fenomena menjadi diskusi mengapa masyarakat perkotaan modern semakin enggan memiliki anak dan malah memilih untuk menyalurkan naluri pengasuhan mereka kepada hewan peliharaan?

Perubahan perilaku sosial yang ini tidak muncul begitu saja, melainkan merupakan konsekuensi sosial jangka panjang dari intervensi demografis pemerintah di masa lalu. Penerapan Kebijakan Satu Anak sejak (One Child Policy) sejak tahun 1979 yang diperketat secara masif melalui mekanisme birokrasi ‘One Vote Veto’ pada era 1990-an (Miller dkk., 2024). Mekanisme ini secara tidak langsung membentuk struktur psikologis dan norma sosial baru di dalam masyarakat. Selama lebih dari tiga dekade, gagasan bahwa keluarga kecil adalah pilihan paling rasional telah tertanam.

Ketika pemerintah Tiongkok berusaha menghentikan krisis demografis dengan meluncurkan Kebijakan Dua Anak (2016) dan Kebijakan Tiga Anak (2021), hasilnya terbukti tidak signifikan (Fang, 2021). Kombinasi antara melonjaknya harga perumahan perkotaan, biaya pendidikan yang tinggi, dan biaya hidup yang semakin mencekik memberi anggapab bahwa memiliki banyak anak tampak tidak realistis bagi generasi muda.

Secara psikososial, hewan peliharaan kini telah mengambil peran sebagai anak pengganti (surrogate children) bagi kelompok kelas menengah perkotaan. Penelitian eksploratif oleh Guo dkk. (2021) mengungkapkan adanya hubungan timbal balik yang signifikan antara keterikatan emosional terhadap hewan peliharaan (pet attachment) dan status sosial-ekonomi terhadap niat untuk memiliki anak (fertility intention).

Pada kalangan kelompok berpendidikan dan berpenghasilan tinggi, ikatan emosional yang kuat dengan hewan peliharaan berbanding terbalik dengan niat untuk melahirkan anak. Merawat hewan peliharaan memenuhi kebutuhan emosional (nurturing demand) dan ikatan persahabatan tanpa memerlukan komitmen finansial jangka panjang, fleksibilitas karier, atau pengorbanan personal sebesar membesarkan anak manusia.

Fenomena pergeseran kasih sayang ini pada akhirnya memicu ledakan di sektor ekonomi baru yang dikenal sebagai pet economy. Laporan oleh Allianz Global Investors (2024) mencatat bahwa 55% pemilik hewan peliharaan di Tiongkok secara terbuka menganggap hewan peliharaan mereka sebagai anabul/anak bulu (fur babies), sementara 28% menganggapnya sebagai anggota keluarga inti.

Humanisasi hewan peliharaan (pet humanisation) ini mendorong restrukturisasi pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran yang semula disisihkan untuk kebutuhan bayi, asuransi kesehatan anak, dan biaya sekolah kini dialihkan ke industri makanan hewan peliharaan, perawatan veteriner, dan asuransi hewan peliharaan (Liu dkk., 2022). Sektor ekonomi ini menunjukkan betapa mahirnya kapitalisme modern dalam mengkomodifikasi kebutuhan emosional orang-orang yang mengalami isolasi sosial di kota besar.

Namun, di balik maraknya tren fur parent ini, terdapat persoalan struktural yang sering terabaikan, seperti ketidaksetaraan gender di pasar tenaga kerja. Penelitian empiris dari China Family Panel Survey (CFPS) oleh Li (2024) mengungkapkan bahwa pelonggaran kebijakan satu anak justru telah memicu pinalti kehamilan (maternity penalty) yang parah bagi pekerja perempuan.

Pengusaha di sektor swasta cenderung berasumsi bahwa perempuan hamil akan mengambil cuti melahirkan, sehingga membuat mereka berisiko mengalami pemotongan gaji, penundaan promosi, dan bahkan pemecatan yang tidak adil. Dalam situasi di mana negara menuntut perempuan untuk memiliki lebih banyak anak, tetapi pasar tenaga kerja menjatuhkan sanksi ekonomi atas kehamilan, keputusan untuk menghindari kehamilan dan mengalihkan tanggung jawab pengasuhan kepada hewan peliharaan menjadi bentuk adaptasi dan perlindungan diri yang paling rasional bagi perempuan perkotaan.

- Advertisement -

Mengingat fakta di atas, jelas bahwa fenomena melonjaknya populasi hewan peliharaan dan menurunnya angka kelahiran bukan sekadar masalah pilihan gaya hidup individu semata. Ini merupakan pengingat bagi paradigma pembangunan yang terlalu fokus pada pertumbuhan ekonomi fisik tanpa memperdulikan aspek sosial dan kesejahteraan emosional warganya. Pendekatan kontrol populasi yang bersifat top-down atau sekadar bujukan insentif finansial, tidak cukup kuat untuk memulihkan tingkat kesuburan jika akar masalahnya yaitu tingginya biaya hidup di perkotaan dan ketidaksetaraan gender masih berlaku.

Sebagai langkah kedepan, pemerintah negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia, yang sedang memasuki era transisi demografis dan penuaan populasi, harus membedah akar masalah ini secara fundamental. Negara wajib hadir melalui perbaikan infrastruktur pengasuhan anak yang terjangkau, serta menjamin keamanan kerja dan menegakkan undang-undang anti-diskriminasi gender bagi ibu pekerja. Tanpa adanya reformasi struktural yang nyata terhadap jaminan sosial dan kesetaraan di tempat kerja, seruan untuk meningkatkan angka kelahiran tidak akan lebih dari sekadar retorika kosong. Masyarakat perkotaan yang memilih untuk merawat hewan peliharaan mereka di rumah adalah sebuah pilihan emosional yang jauh lebih aman dan realistis di tengah kerasnya tuntutan hidup modern.

Referensi

Allianz Global Investors. (2024). How the trend to humanisation is shaping up Asia’s pet economy. AllianzGI Equity Report.

Fang, J. (2021). Chinese Public’s Responses to Three-Child Policy on Social Media: Expectations Don’t Match Reality. Berkeley Undergraduate Journal, 35(1).

Gao, R. (2025). The Multidimensional Evolution of the Global Pet Economy: Driving Forces, Industrial Structure, and Sustainable Development Challenges. GEFHR, 65, 199–224.

Goldman Sachs. (2024). China Pet Economy Outlook 2024–2030: The Rise of Companion Animals in Aging Urban China. Goldman Sachs Global Investment Research.

Guo, Z., Ren, X., Zhao, J., Jiao, L., & Xu, Y. (2021). Can Pets Replace Children? The Interaction Effect of Pet Attachment and Subjective Socioeconomic Status on Fertility Intention. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(16), 8610.

Li, X. (2024). The Unintended Impacts of the One-child Policy Relaxation in China on Women’s Labor Market Outcomes. Stanford University Working Paper.

Liu, X., Rong, Q., & Chen, L. (2022). Analysis on the Development Trend of China’s Pet Animal Economy. Proceedings of the International Conference on Social Sciences and Economic Development (ICSSED 2022), Atlantis Press, 1575–1580.

Miller, G., Li, H., Meng, L., & Yang, H. (2024). Bureaucratic Incentives and Effectiveness of the One Child Policy in China. NBER Working Paper/Stanford SIEPR.

Facebook Comment
- Advertisement -