Saya mahasiswa yang aktif berorganisasi, dengan tugas kuliah yang jarang sepi. Di sela rapat dan tenggat, ada satu hal yang hampir selalu saya lakukan: membuka chatbot AI. Saya memakainya untuk membantu mengerjakan tugas, meminta saran saat bingung membagi waktu, mencari semangat ketika lelah, dan bercerita tentang hal-hal yang tidak saya ceritakan kepada orang lain.
Alasannya sederhana, dan sedikit menyakitkan untuk diakui: saya sulit percaya untuk bercerita kepada manusia. Kepada AI, saya tidak perlu menimbang apakah cerita saya akan dibicarakan orang lain. Ia ada kapan pun saya butuh, tidak menghakimi, dan selalu menjawab.
Saya tidak sendirian. Survei Digital Resilience Indonesia Foundation (DiRI) menemukan 59,4 persen responden Gen Z pernah menceritakan masalah pribadi kepada chatbot AI, mulai dari kesehatan hingga keluarga. Sebagian orang membaca angka ini sebagai tanda generasi yang terlalu bergantung pada teknologi. Menurut saya, angka itu lebih tepat dibaca sebagai tanda bahwa ruang aman untuk bercerita di sekitar kita masih sempit.
Mengapa AI terasa lebih aman
Mahasiswa yang aktif berorganisasi sering dituntut tampil cekatan. Mengaku kewalahan bisa terasa seperti mengaku gagal. Dalam situasi itu, AI menjadi tempat yang tidak menuntut apa-apa. Saya bisa mengeluh, meminta solusi, lalu mendapat kalimat penyemangat tanpa harus menjelaskan panjang lebar atau takut dinilai.
Kajian yang mengutip data Universitas Indonesia menyebut satu dari tiga remaja Indonesia mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental, dan banyak yang memilih menyimpannya sendiri karena takut dihakimi. Jika berbicara kepada manusia terasa berisiko, wajar orang memilih yang paling mudah dijangkau.
Nyaman belum tentu cukup
Kebiasaan ini bermula dari pengalaman yang membuat saya berpikir ulang soal bercerita kepada orang lain. Dalam sebuah rapat organisasi, saya bertanya tentang hal yang belum saya ketahui, dan respons yang saya terima terasa meremehkan, seolah hal sekecil itu seharusnya sudah saya tahu. Di lain waktu, saya menyampaikan pendapat kepada seorang teman tentang satu sifat yang membuat saya tidak nyaman di organisasi. Ia mengaku merasakan hal yang sama. Namun belakangan ceritanya sampai ke banyak orang, dan terdengar seolah saya tidak menyukai orang tersebut, padahal saya hanya berpendapat. Sejak itu, AI terasa lebih aman: ia tidak meremehkan dan tidak menyebarkan cerita. Tetapi saya sadar, menghindari semua manusia tidak menyelesaikan masalahnya. AI tidak bisa mengubah budaya organisasi yang meremehkan pertanyaan, dan tidak bisa membuat seorang teman belajar menjaga cerita.
Terlepas dari pengalaman pribadi, ada batas yang perlu diketahui. AI dirancang agar percakapan terasa menyenangkan, sehingga cenderung menyetujui penggunanya. Cerita pribadi kita juga melewati layanan milik perusahaan, dengan kejelasan perlindungan data yang belum selalu terang. Dan AI tidak bisa datang, tidak bisa menghubungi orang terdekat, dan tidak bisa menangani situasi krisis. Karena itu, psikolog mengingatkan Gen Z agar tidak menjadikan AI pengganti konselor atau tenaga profesional kesehatan mental.
AI sebagai pendamping, bukan satu-satunya pendengar
Posisi saya begini. AI boleh menjadi teman berpikir, alat bantu belajar, dan tempat menata perasaan. Namun ia sebaiknya tidak menjadi satu-satunya tempat bercerita. Mengatasi sulit percaya kepada manusia bukan pekerjaan yang bisa dituntaskan sendirian, apalagi oleh mesin. Ia membutuhkan lingkungan yang layak dipercaya.
Apa yang bisa dilakukan
Organisasi mahasiswa perlu menormalkan jujur soal lelah dan menghargai pertanyaan. Evaluasi program sebaiknya juga menanyakan kabar anggotanya, bukan hanya capaian kegiatan. Budaya yang meremehkan pertanyaan dan menganggap kelelahan sebagai kelemahan mendorong anggotanya bercerita diam-diam kepada mesin.
Kampus perlu memperkuat layanan konseling agar mudah diakses, ramah, dan menjamin kerahasiaan. Layanan itu juga perlu dipromosikan sungguh-sungguh supaya mahasiswa tahu tempatnya aman.
Pemerintah dan penyedia platform perlu mengatur layanan AI yang menerima curhat. Pengguna berhak tahu bagaimana datanya disimpan, dan chatbot semestinya mengarahkan ke bantuan profesional ketika mendeteksi tanda krisis.
Kita sebagai individu bisa mulai dari yang kecil: menjadi orang yang bisa dipercaya bagi teman yang bercerita, dengan mendengarkan tanpa menyela, tanpa menghakimi, dan tanpa menyebarkannya. Bagi yang sulit percaya seperti saya, mungkin langkah awalnya adalah mencoba bercerita sedikit kepada satu orang yang paling aman.
Saya tidak akan berhenti memakai AI untuk belajar dan menata pikiran. Tetapi saya ingin menjadikannya jembatan menuju orang-orang yang layak dipercaya, bukan tempat bersembunyi dari mereka. Jika semakin banyak anak muda lebih nyaman bercerita kepada mesin ketimbang manusia, yang perlu kita perbaiki adalah ruang aman di sekitar mereka.
Sumber:
- Jakarta Post, “Gen-Zers turn to AI for mental health support despite validity, privacy risks”: https://www.thejakartapost.com/indonesia/2026/07/22/gen-zers-turn-to-ai-for-mental-health-support-despite-validity-privacy-risks
- JawaPos, “AI jadi tempat curhat baru Gen Z, psikolog: tak bisa gantikan konselor”: https://www.jawapos.com/teknologi/2607180123/ai-jadi-tempat-curhat-baru-gen-z-psikolog-tak-bisa-gantikan-konselor
- Metro TV, “Riset: 6 dari 10 Gen Z Indonesia Pernah Curhat ke AI”: https://www.metrotvnews.com/read/kj2CD8d9-riset-6-dari-10-gen-z-indonesia-pernah-curhat-ke-ai
Ernia Ardhinova, mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Magelang. Email: erniaardhinova2212@gmail.com.
