Selasa, Maret 10, 2026

Strategi Pengurasan dan Resiliensi: Analisis Geopolitik Perang Iran-AS

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
- Advertisement -

Konflik yang pecah di Asia Barat telah memasuki fase baru yang sangat berbahaya pada hari kelimanya. Wilayah ini menyaksikan baku tembak yang tidak hanya melibatkan kekuatan regional, tetapi juga keterlibatan langsung Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump.

Sementara Amerika Serikat dan Israel memusatkan serangan mereka pada pusat-pusat rezim dan instalasi militer di dalam wilayah Iran, Teheran merespons dengan strategi yang jauh lebih luas, mencakup peluncuran rudal balistik dan drone yang menyasar kota-kota Israel serta negara-negara di sepanjang Teluk Persia. Langkah Iran ini bukan sekadar tindakan balas dendam emosional, melainkan sebuah kalkulasi strategis yang dirancang untuk menciptakan tekanan politik maksimal terhadap sekutu-sekutu Amerika di kawasan tersebut, dengan harapan mereka akan mendesak Trump untuk segera mencari jalan deeskalasi.

Salah satu poin paling krusial dalam diskusi ini adalah mengenai kapasitas ketahanan Iran dalam menghadapi bombardir yang terus-menerus. Magnier menjelaskan bahwa luas geografis Iran yang mencapai 1.640.000 kilometer persegi memberikan keuntungan alami bagi negara tersebut untuk menyerap serangan udara. Iran tidak sedang bertindak secara impulsif; sebaliknya, mereka telah mempersiapkan skenario perang ini sejak berakhirnya ketegangan pada Juni 2025.

Pada saat itu, perang tidak berhenti melalui perjanjian formal, melainkan melalui diplomasi telepon antara para pemimpin dunia yang dimediasi oleh Qatar dan Oman. Oleh karena itu, Teheran telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun benteng pertahanan dan stok persenjataan mereka. Strategi militer yang mereka terapkan saat ini sangat terukur. Alih-alih langsung menggunakan rudal balistik hipersonik tercanggih mereka, Iran sengaja menggunakan alutsista versi lama dalam gelombang pertama. Tujuannya adalah untuk “membanjiri” sistem intersepsi Israel dan Amerika Serikat, memaksa lawan menghabiskan stok rudal pertahanan mereka yang sangat mahal pada target yang relatif murah, sebelum Iran meluncurkan serangan yang benar-benar mematikan.

Perluasan target serangan Iran ke negara-negara Teluk Arab menandakan perubahan paradigma dalam konflik ini. Iran tampaknya telah mengadopsi doktrin bahwa jika mereka harus membayar harga yang mahal akibat perang ini, maka seluruh dunia harus ikut menanggung beban tersebut. Dampak dari strategi ini tidak hanya dirasakan di medan perang, tetapi juga mengancam ekonomi global secara langsung.

Dengan kelumpuhan total yang terjadi di Selat Hormuz—jalur krusial bagi 20% pasokan energi dunia—dan gangguan di Bab al-Mandab di Laut Merah, Iran memegang kendali atas urat nadi ekonomi internasional. Magnier mencatat bahwa Iran juga mulai menyasar pangkalan Amerika, hotel-hotel yang dihuni personel Barat, hingga misi diplomatik dan gudang logistik di Kurdistan dan Baghdad. Serangan terhadap fasilitas produksi minyak dan infrastruktur energi bukan sekadar upaya perusakan fisik, melainkan pesan jelas kepada komunitas internasional bahwa stabilitas energi global berada di bawah ancaman langsung selama perang ini berlanjut.

Di sisi lain, posisi negara-negara Teluk Arab berada dalam dilema yang sangat pelik. Meskipun mereka memiliki persenjataan modern dari Amerika Serikat, senjata tersebut mayoritas bersifat defensif untuk mencegat ancaman udara. Magnier berpendapat bahwa negara-negara ini kecil kemungkinannya untuk bergabung dalam perang aktif melawan Iran. Risiko ekonomi yang mereka hadapi terlalu besar; infrastruktur refinery minyak dan instalasi desalinasi air mereka sangat rentan dan mudah dihancurkan, yang jika terjadi, akan melumpuhkan ekonomi mereka selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, negara-negara Teluk kemungkinan besar akan memilih jalur diplomasi di balik layar. Mereka akan menggunakan pengaruh bisnis dan hubungan pribadi yang kuat dengan keluarga Donald Trump untuk menekankan bahwa jika perang tidak segera dihentikan, investasi dan kesepakatan ekonomi besar yang telah mereka bangun bisa terancam batal.

Pertanyaan mengenai resiliensi rezim Iran juga menjadi fokus utama, terutama setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. Banyak analis Barat, termasuk Donald Trump, seringkali salah menilai Iran dengan membandingkannya dengan model Venezuela, di mana penggulingan pemimpin puncak diharapkan akan meruntuhkan seluruh struktur negara. Namun, Magnier menjelaskan bahwa Iran memiliki struktur kepemimpinan yang bersifat horizontal dan sangat terlembaga.

Berdasarkan Pasal 111 konstitusi mereka, terdapat berbagai dewan—seperti Dewan Ahli dan Dewan Keamanan Nasional—yang mampu mengelola negara dan operasi perang tanpa kehadiran seorang pemimpin tunggal. Fakta bahwa Iran mampu meluncurkan serangan rudal secara terorganisir hanya dalam hitungan jam setelah pembunuhan pemimpin mereka membuktikan bahwa mekanisme komando dan kontrol mereka tetap berfungsi dengan efektif. Ideologi dan birokrasi militer mereka dirancang agar tidak ada satu orang pun yang benar-benar tidak tergantikan.

- Advertisement -

Terkait upaya Amerika Serikat dan Israel untuk memicu pemberontakan dari dalam melalui kelompok minoritas seperti Kurdi atau Baloch, Magnier melihat hal tersebut sebagai strategi yang sangat sulit membuahkan hasil dalam jangka pendek. Dalam situasi perang terbuka, sentimen nasionalisme biasanya menguat, dan aparat keamanan domestik akan bertindak sangat represif terhadap segala bentuk ancaman internal.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa perubahan rezim atau pergeseran kekuasaan akibat ketidakpuasan rakyat biasanya terjadi lama setelah perang usai, sebagai dampak dari kehancuran ekonomi dan kegagalan fungsi pemerintah, bukan saat peluru masih beterbangan. Bahkan, kemungkinan Amerika Serikat mengirimkan pasukan darat ke Iran dianggap hampir nol persen. Dengan wilayah yang jauh lebih luas dari Irak dan sistem pertahanan yang jauh lebih kuat meskipun telah disanksi selama 47 tahun, Iran akan menjadi “lubang maut” bagi tentara asing.

Saat ini, arah konflik ini tampaknya sedang mencari jalan keluar atau offramp. Donald Trump, yang mungkin awalnya meremehkan ketangguhan Iran, mulai menunjukkan tanda-tanda keinginan untuk bernegosiasi melalui saluran-saluran tertentu. Retorikanya mulai bergeser dari “perubahan rezim” menjadi sekadar “penghancuran kemampuan angkatan laut atau industri rudal”—sebuah klaim kemenangan yang lebih mudah dicapai untuk konsumsi politik domestik.

Namun, pihak Iran saat ini berada dalam posisi di mana mereka tidak ingin berhenti begitu saja tanpa adanya kesepakatan yang sangat jelas dan menguntungkan. Teheran menolak bernegosiasi berdasarkan syarat-syarat Amerika dan menuntut adanya penjamin pihak ketiga yang bisa dipercaya, karena bagi mereka, Amerika Serikat adalah bagian dari masalah, bukan solusi. Mereka kemungkinan akan menuntut kesepakatan paket yang mencakup penghentian serangan di Iran sekaligus di Lebanon, guna memastikan keamanan regional secara menyeluruh.

Perang ini telah berkembang menjadi ujian ketahanan yang brutal antara strategi pengurasan Iran dan kekuatan udara Amerika-Israel. Sementara bom dan rudal terus berjatuhan, meja perundingan tetap menjadi satu-satunya akhir yang logis, namun syarat-syarat yang akan disepakati nantinya sangat bergantung pada siapa yang mampu bertahan paling lama di bawah tekanan ekonomi dan militer yang ekstrem ini. Dinamika di Asia Barat tidak lagi hanya tentang perbatasan wilayah, melainkan tentang penataan ulang kekuasaan dan pengaruh di panggung global.

Donny Syofyan
Donny Syofyan
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Facebook Comment
- Advertisement -

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.