OUR NETWORK
Senin, Oktober 25, 2021

UU Cipta Kerja, Wujud Keluhuran Para Anggota DPR

Santri Itu Keren

Pinjol Merajalela, di Mana Lembaga ZIS?

Habis Gelap Terbitlah Terang

Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan

Keputusan DPR untuk mengesahkan Omnibus Law Cipta Kerja, membuktikan bahwa lembaga legislatif itu adalah lembaga tinggi negara yang paling menjunjung tinggi nilai luhur ke-Indonesia-an di negeri ini. Betapa tidak, walau dihajar beragam opini negatif dari sana sini, langkah DPR tetap tegap berderap untuk melanggengkan proses RUU Cipta Kerja menjadi Undang-Undang. Langkah yang tentunya disadari dengan sepenuhnya, sudah bikin banyak pihak mangkel bukan kepalang.

Berbeda dengan pembahasan RUU PKS yang mandeg, dan bahkan dikeluarkan dari prolegnas, pembahasan RUU Cipta Kerja dapat terus melaju. Dari kenyataan ini saja, kita sudah patut bersujud syukur, memiliki lembaga tinggi negara yang mau belajar dari kesalahan masa lalu. Jika RUU PKS gagal akibat pembahasannya dibilang rumit, maka segala sengkarut yang dihadapi RUU Ciptaker dapat diatasi dengan baik dan dalam tempo sesingkat-singkatnya.

Terdengar mirip dengan kata-kata di proklamasi kemerdekaan RI, bukan? Itulah bukti para anggota DPR kita masih menjunjung nilai-nilai luhur dari para founding father bangsa ini. Kalau bisa dibikin singkat, kenapa harus dilama-lamain? Dengan demikian, para anggota DPR itu telah membantah tuduhan yang mengatakan bahwa mereka pro-investasi, pro-asing dan aseng. Tuduhan yang tak berdasar dan menyesatkan. Buktinya, rapat saja pakai prinsip proklamasi, kok.

Nilai luhur para anggota DPR semakin nyata ketika mereka menunjukkan sikap teguh hati yang sangat paripurna saat sidang paripurna. Entah apapun suara sumbang di luar sana, mereka tetap saja teguh pendirian untuk memuluskan pengesahan UU Ciptaker. Mereka tak peduli dengan suara para pengamat, para ahli, bahkan saran dari ormas seperti NU dan Muhammadiyah pun diabaikan. Lha kalau suara mereka saja diabaikan, apalagi suara netizen dan rakyat jelata. Ya, tho? Sungguh, suatu keteguhan hati yang mungkin hanya dapat dibandingkan dengan keras kepalanya Raja Firaun di Mesir dahulu kala.

Selanjutnya, bila diperlukan, para anggota DPR juga bisa bertindak layaknya hulubalang-hulubalang yang cekatan dalam melindungi kepentingan pimpinannya. Lihat saja, mereka dapat mematikan mic dari orang yang hendak menyuarakan pendapatnya. Tentu dimaklumi, suara-suara semacam itu hanya akan memperlambat proses pengesahan RUU. Mereka juga tak peduli dengan aksi walk out dari anggota lain. Tidak masalah, kok.

Lagipula, kalau walk out kenapa tidak dilakukan sejak rapat-rapat awal? Kenapa di saat-saat terakhir baru seakan-akan tak setuju dengan Omnibus Law? Sungguh, itu adalah sikap yang lemah dan munafik.

Yang tak kalah membanggakan, DPR Indonesia telah mengharumkan nama bangsa ini di kancah dunia. Berita tentang pengesahan RUU ini, beserta demo yang menyertainya, sampai-sampai dimuat oleh media-media kenamaan internasional. Salah satunya, theguardian. Kurang bangga apa lagi coba?

Dan lagi, sebagai pihak yang berperan penting dalam peningkatan listerasi bangsa, DPR berhasil membuat RUU ini menjadi sebuah karya yang tebalnya kurang lebih 900an halaman. Tulisan yang pastinya melebihi novel-novel kenamaan karya penulis-penulis legendaris dunia.

Di sisi lain, inilah bukti para anggota DPR dapat melakukan dokumentasi RUU dengan baik dan tepat guna. Ketika ada pihak yang memprotes pengesahan UU tersebut, tinggal dijawab saja, “Emangnya kamu sudah baca naskahnya?” atau “Ah, paling kamu hanya termakan meme yang beredar di medsos, baca dulu dong, baru protes”. Skak mat! Siapa sih, pendemo yang mau membaca naskah setebal itu?

Oh ya, ada lagi, para anggota DPR ini juga menunjukkan sifat adiluhung dalam wujud jiwa ksatria. Seperti yang diucapkan Aziz Syamsudin, legislator Golkar dari dapil Lampung, “Kalau tak percaya DPR, saat Pemilu jangan dipilih”. Simpel, kan? Ya, itulah jiwa ksatria, berani bertanggung jawab, pasang badan, apapun resikonya.

Terakhir, tapi bukan berarti tak penting, para anggota DPR memperlihatkan kekompakan yang luar biasa. Mereka mempertahankan prinsip ‘bersatu kita teguh, kalau pun bercerai, nanti kita bisa bersatu lagi’. Ya, walau ada sedikit drama dan penolakan dari fraksi Demokrat dan PKS, toh, RUU Ciptaker akhirnya diketok palu menjadi UU.

Kayak ga tau aja, DPR kita itu macam apa. Saat menjadi oposisi, ya memang perannya harus pakai drama dikit-dikitlah, biar seru. Setelah rapat berakhir, toh mereka akan duduk bareng sambil ngopi dan tertawa lepas sembari bisik-bisik, “Tadi protesnya kurang dramatis, Bang. Harusnya sambil pukul meja gitu, lho. Hahaha…”

Akhirnya, tugas DPR untuk mengesahkan UU Ciptaker sudah paripurna. Masih ada satu pihak lagi yang akan menentukan keberlanjutan UU ini, yaitu Presiden. Sekarang, bola ada di tangan Presiden Jokowi. Apakah Pak Presiden juga dapat menunjukkan nilai-nilai luhur yang sudah dicontohkan oleh para anggota DPR kita? Mari kita tunggu saja.

Yesaya Sihombing
Esais, Pemerhati masalah sosial budaya keagamaan
Facebook Comment

POLIKLITIK

- Advertisement -

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.